Bunga Yuridespita Menyederhanakan Ruang Keseharian

Bunga Yuridespita “Space and Memories #1” (2017). 195 cm x 195 cm, cat akrilic di atas kanvas. FOTO: Bunga Yuridespita.

Bunga Yuridespita menyederhanakan lanskap bumi menjadi bidang-bidang warna. Apa yang menarik dari lanskap permukaan bumi yang dimaksud oleh emerging artist di Bandung ini adalah ruang dan tubuh. Lanskap permukaan bumi atau lebih khusus lagi bisa disebut dataran.  Itulah hal yang menarik bagi Bunga Yuridespita yang akrab disapa Bunga. Dataran ini dilihat secara lebih dekat karena memiliki ruang sosial dan ruang pribadi yang meninggalkan jejak-jejak kenangan, ingatan bahkan sejarah personal seseorang.

Lukisan-lukisan Bunga ini, sepintas mengingatkan kita pada karya Frank Stella dan Piet Mondrian. Tapi, komposisi garis dan bidang warna yang dibuat oleh Bunga merupakan upaya penyederhanaan dari lanskap dataran bumi; pemukiman, lahan hutan, jalan raya.

Bunga mengungkit persoalan hubungan-hubungan filosofis antarmanusia, ruang dan benda-benda yang menjadi aksesoris peradaban di sebuah lingkungan. Entitas-entitas itu disadarinya saling berdialog, beririsan, bertemu, berasinilasi hingga menjadi warna dominan di dalam lukisan-lukisan Bunga.

Karyanya dapat membincangkan persoalan teritori sebuah ruang dimana manusia berhabitat bersama makhluk lain. Apakah itu teritori sosial atau teritori personal seorang individu. Dialog antar entitas itulah yang memproduksi ingatan, kenangan hingga sejarah suatu budaya dibentuk hingga menjadi suatu kebudayaan masyarakat tertentu.

Bunga memaparkan bahwa pemilihan ruang yang diambil melalui sudut pandang burung ini diawali kesadaran Bunga ketika dia sedang melakukan perjalanan udara. Bunga mengamati banyak hal. Misalnya ketika pesawat hendak t­ake off, pohon-pohon, individu lain yang sedang beraktivitas di sekitar, jalanan atau landasan pesawat yang nampak besar dan luas bagi Bunga – bahkan orang lain yang duduk di dalam kabin pesawat. semua terlihat normal dan tidak berbeda dengan pandangannya.

“Hal yang justru sangat berbeda hadir ketika pesawat terbang yang saya tumpangi sudah take off. Semua aktivitas individu-individu pun tidak nampak lagi. Pohon yang rimbun dan banyak sudah menjadi satu kesatuan hijau yang besar. Jalanan yang besar dan luas, menjadi garis–garis abu-abu yang sudah tidak lagi memiliki tekstur. Semua ruang-ruang yang hadir sudah menjadi satu lanskap yang terbingkai dari jendela pesawat,” jelas Bunga.

Bunga Yuridespita “Childhood Amnesia” (2018). 40 cm x 40 cm (each), cat akrilic di atas kanvas. FOTO: Bunga Yuridespita.

Melalui pemandangan-pemandangan itulah Bunga terusik hingga muncul kesadaran visual untuk mereka sebuah bahasa rupa yang memuat keseharian dengan segala aktifitasnya adalah bagian yang sangat kecil di dalam keindahan lanskap alam semesta. Dari situlah Bunga mengambil sebuah tesis bahwa tubuh dan ruang selalu berada dalam sebuah peristiwa dialog.

Kehadiran tubuh dalam suatu ruang tidak serta-merta eksis secara independent, karena menurut Bunga hal itu dipastikan terjadi suatu hubungan dengan entitas lain di ruang tersebut. Ruang-ruang imajiner menjadi bayang dan yang nampak menjadi bidang warna yang jelas secara kasat mata. Dalam hal ini, lukisan-lukisan Bunga cenderung membincangkan kehadiran warna-warna dominan, baik itu menjadi garis atau bidang warna, yang dapat ditelusur kembali apa saja konten yang sebenarnya ada di dalam warna-warna itu.

“Kita selalu mengalami ruang dalam keseharian dan berdialog, menyimpan memori-memori melalui aktivitas yang kita lakukan dalam kesehariannya. Saya selalu mempertanyakan perihal ruang itu sendiri, kenapa ada ruang, kenapa ada jarak, kenapa ada kedalaman, kenapa ada dimensi, kenapa ruang sering selalu terasa terkotak-kotakan, kenapa manusia selalu berpindah ruang, selalu bergerak, membentuk ruang baru, membenahi ruang, beradaptasi dan menyusun ruang-ruang itu dalam kesehariannya,” katanya.

Bunga menyatakan bahwa karya-karyanya ini merupakan sebuah upaya pencarian identitas dirinya sebagai manusia dengan meminjam lanskap dari sudut pandang burung. Hal itu juga dirasakan Bunga seperti beririsan dengan upaya Bunga sendiri sebagai perupa. Lalu, dia membuat impresi dari sebuah kebesaran alam semesta dengan cara membekukan ruang dan memori akan kesehariannya di atas kanvas.

Hal menarik di dalam proses penciptaan karyanya, adalah memupuk kesadaran akan keindahan lanskap dari sudut pandang yang tidak biasa mengenai isi dari lanskap yang diamatinya, yaitu kehidupan mikro-kosmos yang berdialog dengan lingkungannya.

Karya Bunga Yuridespita berjudul “Childhood Amnesia” sebelum dipilih zona emas menjadi lukisan berseri. FOTO: Bunga Yuridespita.

“Bagi saya sebagai perupa, keindahan muncul bukanlah ketika kita berada di dalamnya. namun keindahan itu hadir ketika kita berjarak dengannya. Karya-karya ini merupakan citraan foto garis jalanan yang diambil dengan sudut pandang burung (fotografi aerial) yang direduksi hingga menyisakan komposisi harmonis di atas kanvas. Secara visual menghadirkan bentuk dan warna yang tidak dapat dikenali objek aslinya. Wilayah yang digunakan merupakan representasi pengalaman ruang personal yang hadir dalam keseharian,” lanjut Bunga.

Narasi simbolik pada lukisan-lukisan Bunga menyiratkan makna tertentu ketika kita membincangkan hal sederhana melalui warna yang dihadirkan oleh bunga di atas bidang karyanya. Boleh dikatakan bahwa warna tertentu menjadi sebuah bahasa represenstasi dari identitas yang sedang dibangun di habitat tertentu dengan persoalan interaksi tubuh (manusia) dan ruang. Lukisan Bunga berada di luar zona seni lukis sebagai penggambaran verbal – meski sumber mula bidang warna itu justru gambaran verbal dari suatu habitat manusia.

 

“Komposisi ini diperoleh dengan metode kolase yang terdorong dari perenungan eksistensialis personal seputar hubungan antara manusia dengan ruang. Menanggapi dan mengolah apa yang luput dari keseharian manusia dalam menanggapi ruang. Mengenai tubuh dan ruang yang berada dalam dialog, menyisakan memori yang membentuk identitas setiap individu,” pungkas Bunga di Bandung.

Menarik ya. Bagaimana seorang perupa muda memetik sebuah makna dan bahasa rupa dari sebuah cara pandang yang unik mengenai aktifitas kita sehari-hari dari jarak pandang tertentu.

Karya Bunga tidak melulu menggunakan lukisan dengan materi tradisional dalam seni lukis; cat. Dia juga menggunakan material padat untuk membuat penegaskan tentang hadirnya sebuah ruang tertentu yang ditandai dengan tekstur dari material padat yang digunakannya itu. Nampaknya ruang selalu menjadi persoalan krusial bagi Bunga, sebagai pelukis akademik dengan latar belakang sebagai pendidikan FSRD-ITB Bandung dan arsitektur di kampus yang sama UPH, Jakarta.

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *