Sajak-sajak Visual Etza Meisyara pada Pelat-Pelat Tembaga Sublimasi Melankolis dari Persoalan Imigran Timur Tengah, Penyintas dan Backpaker di Eropa

Etza Meisyara di antara karya-karya PASSING BY. FOTO: artspaceID

Negara-negara Eropah memiliki kebijakan yang berbeda-beda terkait dengan masalah imigran korban perang dan para penyintas dari negara tetangga. Ribuan imigiran dari negara-negara yang sedang berperang akibat politik kekuasaan berduyun-duyun setiap harinya untuk hijrah ke negeri orang untuk menghindari bencana kemanusiaan yang lebih besar yang berdampak pada keluarganya. Demikian halnya dengan Indonesia dalam merespon bencana kemanusiaan global. Contoh paling konkret yang dilakukan oleh Indonesia adalah penanganan masalah imigran dari Myanmar dan negara-negara yang tengah berkonflik lainnya. Walau bagaimanapun juga mereka adalah masyarakat yang ingin hidup damai sebagai manusia biasa.

Ada keterasingan di dalam kehidupan para penyintas di manapun mereka singgah. Juga rasa haru-biru, semangat untuk bertahan hidup juga harapan yang mengiring langkah manusia-manusia ini dalam pengembaraannya. Perasaan-perasaan itu mengendap di dalam proses kreatif yang terus berjalan dalam diri seorang seniman. Perlu kematangan juga kepekaan hati seorang seniman untuk bisa menangkap persoalan-persoalan di sekitar dirinya. Inilah yang mungkin terjadi dalam diri seorang Etza Meisyara dalam pengembaraan dan berinteraksi dengan mereka di benua Eropa. Empati-empati Etza Meisyara di dalam sajak-sajak visual melankolia itu diungkapkan secara puitis nan lirih di dalam karya-karyanya. Sajak-sajak visual yang paradoks dan filosofis yang diunggah secara artistik melalui material logam.

Perjalanan para imigran ke negara-negara Eropa diiringi kegetiran, pahit juga tangis di bawah bayang-bayang ancaman senjata dan sekaligus harapan baru yang mungkin mereka peroleh di negeri yang mereka singgahi. Bayangan masa depan anak-anak mereka pun hanya bergantung pada seutas tali kemanusiaan, bahkan belas kasihan.

Pemandangan itu laiknya lanskap kemanusiaan hari ini di tengah hiruk-pikuk politik kekuasaan, bisnis senjata dan situasi ekonomi yang mendera beberapa negara di Eropa dan Timur Tengah, hingga Asia Timur. Etza Meisyara menyaksikan langsung peristiwa demi peristiwa bagaimana mereka bertahan hidup sebagai manusia biasa yang dikorbankan oleh nafsu kekuasaan, perang.

Bisa dibayangkan bagaimana serpihan-serpihan pengalaman personal orang-orang asing, imigran korban perang juga penyintas yang ditemui Etza Meisyara di Jerman, misalnya. Juga para penyintas dan komunitas backpacker di tanah Inggris dan Islandia. Pengalaman-pengalaman mengahrukan itu menjadi serangkaian pokok soal dalam karya Etza Meisyara dalam pameran tunggal bertajuk PASSING BY di Lawangwangi Creative Space, Bandung.

Pengalaman-pengalaman berinteraksi dengan orang-orang asing itu berbekas di dalam diri Etza Meisyara hingga saat ini. Meninggalkan jejak-jejak psikologis yang kemudian menjadi entitas yang sublimatif dalam proses penciptaan karya Etza.

Etza Meisyara “Women from Syria” (2018). 100 cm x 50 cm, photoetching, patina on copper. FOTO: artspaceID

Bahasa rupa yang mengisi lapisan permukaan pelat tembaga itu sejatinya jadi gambaran artistik dengan nada peluh namun terasa kontekstual tentang persoalan kemanusiaan hari ini, khususnya jejak-jejak rasa yang muncul dari para imigran korban perang dari negara Timur Tengah. Pengalaman itu kemudian membuka cara pandang lain terhadap karya seni yang dikerjakannya setelah itu. Etza memilih sudut pandang baru mengenai penciptaan karya seni rupa.

Pameran ini menawarkan puluhan karya dua dimensional yang dikerjakan dengan teknik grafis menggunakan medium tembaga yang berisi gambar-gambar bayangan orang-orang asing, para imigran, serta diumbuhi dengan corak abstrak. Figur-figur itu hadir dia antara kemegahan kota dan sekelumit persoalan ruang kota di sebuah negara maju karena pencapaian teknologi, pengetahuan juga seni. Pun kehadiran dua karya instalasi seni suara (sound art) menambah artikulasi personal dari Etza Meisyara dalam memindai persoalan jadi pengalaman sublimatif. Puluhan pengeras suara yang berisi rekaman orang-orang asing; imigran dan penyintas yang ditemuinya selama lawatannya di Eropah. Ada juga karya video art yang kemudian menegaskan pokok soal lain dalam karya-karya di pameran tunggalnya.

Pameran tunggal Etza Meisyara ini diselenggarakan oleh Lawangwangi Creative Space dan ArtSociates pada akhir bulan Juli tahun ini. sebuah pameran yang banyak menyoroti persoalan rasa: sedih, haru, bingung, keterasingan diri seniman hingga menjadi rasa yang bertransformasi pada seutas komposisi bunyi melankolis. Karya-karya Etza tidak mengafirmasi keindahan arsitektur kota, justru mengangkat persoalan di ruang-ruang kota sebagai serpihan fakta kemanusiaan hari ini.

Melankolia yang sublim. Itulah istilah dianggap tepat untuk menakar kekuatan bahasa rupa buah karya seniman muda Bandung  ini. Pameran ini dapat diapresiasi secara terbuka oleh publik luas mulai tanggal 27 Juli – 26 Agustus 2018 di ruang galeri Lawangwangi Creative Space, Jalan Dago Giri 99, Bandung.

Karya-karya ini penting secara artistik, karena konten serta tema kemanusiaan global yang disoroti Etza memberikan pengetahuan tentang perilaku manusia hari ini. Produksi wacana yang muncul dari karya-karya Etza Meisyara juga penting karena seniman muda perempuan ini merupakan salah satu pemenang dalam kompetisi Bandung Contemporary Art Award (BaCAA#5) yang diselenggarakan oleh ArtSociates – Lawangwangi creative Space pada tahun 2017.

Karya-karta Etza Meisyara di Lawangwangi Creative Space, Bandung. FOTO: artspaceID

Maka, dapat dikatakan bahwa kompetensi Etza Meisyara sebagai seniman muda perempuan dalam berkarya, khususnya karya seni rupa kontemporer dengan proses riset semacam ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Karyanya dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat luas tentang persoalan kemanusiaan global saat ini.

Bagaimanapun juga karya yang sangat personal lahir dari pengamatan langsung disertai keterlibatan psikologis senimannya terhadap persoalan sekitar dapat menyuguhkan karya dengan konten yang sangat menarik. Etza Meisyara dengan karya-karyanya dianggap cukup menjanjikan bagi para kolektor seni rupa kontemporer dan para investor seni rupa kontemporer saat ini. Etza mampu menyajikan karya yang baik karena telah melewati perkara estetika (visual) dan membuka kemungkinan tafsir makna secara universal yang kuat. Sederhana bahasa rupanya, namun proses penciptaan berbasis riset inilah yang memposisikan karyanya menjadi penting untuk diapresiasi.

Pameran tunggal Etza Meisyara ini dikuratori oleh Dony Ahmad. Sang kurator menjelaskan bahwa, “Etza menuangkan kesan-kesan melankolis dari lingkungan yang asing ke atas pelat-pelat tembaga berisi citra yang dingin. Karya-karya pada pameran ini mengajak kita untuk ikut menghayati rasa haru dari perjalanan Etza dan memaknainya menjadi kebijakan. Meski perjalanan Etza hanya sekedar melintas, namun pelajaran berharga tentang toleransi dan empati kepada orang yang baru dikenali tentu bisa menjadi makna yang melampaui perjalanannya di sana,” kata Dony Ahmad, kurator pameran.

Lalu apa sebenarnya yang ‘ditemukan’ oleh Etza Meisyara dalam proses pengamatan langsung hingga membuahkan karya berbasis riset dengan pilihan konten karya terkait kehidupan orang-orang asing dan imigran korban perang? Temuan itu adalah isi dan diksi rupa yang dibangun oleh struktur berupa pengalaman sublimatif seniman bersama orang-orang asing. Entitas itu jad pokok soal dalam karya-karya dalam pameran ini.

Mengapa Etza Meisyara bisa mencapai titik pencapaian ini? Sekali lagi ditegaskan, bahwa Etza Meisyara melakoni pengembaraan artistik dengan melibatkan rasa empatik yang mendalam selama di Eropa.

Etza menceritakan bahwa kehadirannya di negara-negara tersebut di atas memberikan pengalaman yang menarik dan penting bagi dirinya sebagai seniman, hingga dapat mengubah cara pandangnya terhadap karya seni. Intinya, Etza ingin karya seni itu memang berkaitan langsung dengan pengalaman-pengalam personal suatu masyarakat di daerah tertentu. Karya itu berelasi dengan pengalaman manusia, sehingga karya itu hadir tidak menjadi anomali bagi masyarakatnya.

Pengalaman Etza di Islandia, misalnya, merupakan kegiatan Artist in Residence yang pertama yang dilakoninya dua tahun silam. Etza Meisyara, yang dikenal juga bermain musik tematik ini, menggunakan pendekatan subjektif terhadap komunitas diaspora, imigran, backpacker serta penyintas yang kemudian mendudukan dirinya (seniman) bersejajar dengan mereka (imigran) di negeri itu.

Salah satu karya instalasi sound art dengan pelat tembaga. FOTO: artspaceID

Etza memproduksi karya seni suara (sound art) dengan pokok soal kehidupan para imigran, penyintas backpackers atau orang-orang baru dalam kehidupan Etza selama berkarya di sana. Sound art bagi Etza dipilih sebagai medium yang paling representasional hingga dapat mengunggah apa yang dirasakannya selama berinteraksi dengan ‘masyarakat baru’ itu. Karya-karya dengan medium suara itu banyak diolah selama Etza berkarya di Jerman, selain memperdalam karya seni grafis tentunya.

Dony Ahmad menjelaskan lebih lanjut bahwa dorongan terbesarnya justru berasal dari sensibilitas subyektif dari Etza sendiri. Sensibilitas ini bisa dipicu oleh banyak hal, misalnya ketika saat Etza berpergian sendirian, menyepi, bertemu imigran, tunawisma, sepasang kekasih di jalan.

“Sensibilitas inilah yang kemudian condong mengerucut pada satu ungkapan yang spesifik: Melankolia. Kecenderungan ini berbeda dari seniman yang outward looking seperti semisal, ayahnya Etza (Tisna Sanjaya) yang mengangkat suatu isu kontekstual yang dirasa menjadi persoalan zamannya. Pameran ini bisa menunjukkan luasnya spektrum sensibilitas manusia tanpa perlu dibatasi sebuah isu geo politik. Melankolia bahkan bisa muncul dan dirasakan oleh audience pameran ini tanpa mengangkat persoalan imigran sama sekali. Pertemuan dengan imigran hanyalah salah satu pemicu bagi melankolia yang dirasakan Etza, tidak berbeda dari hamparan es di Islandia ataupun arsitektur stasiun kereta api di Liverpool yang juga bisa memicu perasaan yang sama,” pungkas Dony Ahmad.

Pengalaman langsung yang diperolehnya di Jerman rupanya berhasil meluluhkan rasa prihatin dan empati Etza Meisyara terhadap situasi kemanusiaan global. Isu mengenai imigran yang mencari suaka dengan kebijakan politik negara yang dikunjungi oleh para imigran menjadi fokus perhatian seorang Etza Meisyara.

“Bagaimana seni memiliki hubungan dengan kota-kota dan masyarakatnya (relational aesthetic – red). Pengalaman saya dengan para imigran itu menimbulkan perasaan-perasaan melankoli yang cukup dalam bagi saya. Saya merasa kalau seni itu lebih bisa berhubungan dengan peristiwa yang terjadi di sana. Sehingga saya mempertimbangkan karya seni yang lebih puitik, melankolis. Rasa kesepian, keterasingan muncul dari pengalaman saya selama berinteraksi dengan para imigran dari Timur Tengah. Para imigran itu memiliki latar belakang yang sama dengan saya. Pengalaman mereka terhubung dengan pengalaman saya. Kemudian pengalaman-pengalaman itu diabstraksi menjadi karya visual di atas permukaan tembaga. Sebuah material yang memiliki karakter unik dan paradoks,” tutur Etza Meisyara.

Karya-karya Etza dengan medium tembaga adalah upaya artistik dan filosofis yang beranjak dari sublimasi persoalan yang diamati secara langsung. Bagaimana karakter logam tembaga yang sudah memiliki karakter kokoh, kuat, shining, tetapi masih bisa keropos, berkarat hasil dari oksidasi. Kenyataan bahwa logam yang kokoh itu bisa keropos memberi tanda tentang kebesaran manusia yang fana. Oleh sebab itulah karakter medium tembaga dirasa cukup oleh Etza untuk mewakili representasi karakter para imigran dan manusia penyintas yang ditemuinya.

PASSING BY oleh Etza Meisyara. FOTO: artspaceID

Figur-figur itu digambarkan melalui bayang atau siluet di sebuah lanskap kota, seperti stasiun kereta, jalan-jalan di sudut kota hingga ruang privasi di tengah kesibukan manusia kota. Gambar-gambar yang diproduksi menggunakan teknik grafis itu kemudian dibubuhi tekstur yang muncul dari lapisan tembaga itu sendiri yang diprovokasi oleh cairan asam untuk diteruskan ke dalam proses oksidasi. Lantas, karya-karya Etza Meisyara di atas permukaan tembaga itu sejatinya akan terus mengalami proses kimiawi selama terpapar oleh sinar matahari dan perubahan suhu ruangan.

“Perasaan melakoli itu hadir jadi kekuatan bagi saya. Perasaan yang muncul di dalam proses mengamati kehidupan orang-orang itu. Kemudian, perasaan itu menempuh proses sublimasi dari serpihan pengalaman. Sebelum kemudian memutuskan untuk membuat karya. Tembaga memiliki karakter yang kuat, shining, tetapi bisa berkarat karena oksidasi (sisi haru). Saya memilih karakter medium itu sebagai representasi atau wadah yang sublim. Di sini, konsep sublimasi harus menerima keharuan, kedalaman, perasaan ketakutan dan juga perasaan-perasaan megah atau yang besar. Itulah alasan saya memilih tembaga jadi medium karya,” jelas Etza Meisyara.

Dua karya instalasi seni suara karya Etza Meisyara yang disajikan di antara pelat-pelat tembaga di dalam pameran tunggalnya ini merupakan rekaman suara-suara para imigran dan penyintas. Dapat dibayangkan bagaimana karakter manusia imigran yang menjadi pokok soal dalam pameran ini memproduksi makna-makna humanis yang kritis. Mengkritisi kebijakan masyarakat global di tengah percaturan politik dan perang dagang yang dielukan untuk kemajuan suatu bangsa di tengah persoalan kemanusiaan global pada saat yang sama.

Apakah karya-karya Etza Meisyara menjadi sebuah kampanye kemanusiaan dari seorang seniman muda Bandung terkait dengan persoalan kemanusiaan global saat ini? Dapat dibenarkan. Secara tidak disadari karya-karya Etza Meisyara menjadi bagian dari isu kemanusiaan global hari ini. Dan rupanya, perjalanan Etza Meisyara bukan sekedar melancong kemudian berkarya di benua Eropah. Bukan kemegahan yang disorotinya. Perjalanan dan pengamatan langsung itu melahirkan makna-makna kemanusiaan universal hari ini. Dia dengan sungguh-sungguh berempati kepada para imigran korban perang dan penyintas yang mengadu nasib ke negara-negara yang ekonominya dianggap lebih baik. Orang-orang asing itu berbicara di dalam gambar-gambar yang ada pada permukaan pelat tembaga.

Suasana pembukaan pameran tunggal PASSING BY karya Etza Meisyara. FOTO: artspaceID

Karya-karya Etza Meisyara kemudian dapat dilihat seperti sajak visual yang lirih dalam menanggapi persoalan kemanusiaan global saat ini, dimana tak ada lagi perbedaan suku, agama dan ras yang mesti di pertentangkan.

Etza Meisyara adalah putri bangsa Indonesia yang hidup di dalam keberagaman yang kompleks. Tetapi Etza mampu memposisikan dirinya secara politis di negara yang bermasalah dengan para imigran sebagai seniman yang sedang melakukan pengamatan. Melalui karya seni yang menyuarakan pesan kemanusiaan di luar kepentingan estetika yang sudah terlampaui menjadi kendaraan pesan universal, Etza ingin menyatakan bahwa karya seni itu seperti Humankind without borders.***

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *