HOME: Photo Project of Chinese Culture (Edisi 7+1) Diluncurkan di Solo N11 Garasi Studio,, Solo, Jawa Tengah

Let’s go HOME (Mari pulang ke RUMAH). Agaknya menjadi kalimat itu menjadi slogan bagi para perupa berbasis fotografi untuk menandai kesadaran identitas mereka sebagai warga fotografi yang mempunyai hubungan sejarah dengan bangsa Tiongkok di Indonesia. Budaya Tiongkok menjadi isu penting dalam karya-karya mereka yang menampilkan gambaran ruang private mereka masing-masing dengan semangat kembali ke akar budayanya. Keberagaman di wilayah Indonesia – kita sering menyebutnya wilayah Nusantara – adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri.

Karya Seno Resta.

Fakta bahwa sebagian besar dari kita yang menganggap mayoritas di negeri ini memiliki hubungan kultural dengan masyarakat Tiongkok. Kita adalah sebahagian dari warga negara Indonesia yang terikat dengan cultural genealogy terhadap sejarah masyarakat Tiongkok di Indonesia.

Karya DR. Edial Rusli.

HOME merupakan sebuah proyek fotografi yang unik dan telah menjadi suara kita untuk kemanusiaan, keberagaman, non-politik, persamaan derajat dan kedamaian di tanah Nusantara ini.

 

 

 

 

 

Kegiatan pembuka dari proyek fotografi ini diwujudkan dengan kegiatan pameran bersama bertajuk HOME 7+1. Mereka menggelar karya di N11 Garasi Studio, Jalan Nias 3/11, Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah. Pameran ini akan berlangsung sampai tanggal 28 Agustus 2018. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lighthouse Photo Institute.

Pameran HOME (edisi 7+1) di N11 Garasi Studio, Jalan Nias 3/11, Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (18/8) kemarin petang.

Fotografer yang berpartisipasi dalam pameran foto sekaligus peluncuran “HOME: Photo Project” pada tanggal 18 Agustus 2018 ini adalah Pandji Vasco Da Gama (Solo), Aris Liem (Solo), Seno Resta (Bandung), Muhammad Aslam (Solo), DR. Edial Rusli (Yogyakarta), Mohammad Reza Gemi Omandi (Purwokerto), Shamow’el Rama Surya (Jakarta), Edward Nugroho (Bandung).

 

Para perupa berbasis fotografi itu berupaya untuk ‘hijrah’ pada medan seni rupa melalui karya-karya yang dibuat dengan kesadaran pada persoalan identitas diri mereka sendiri di tengah isu-isu perbedaan yang memecah-belah kehidupan berbangsa di tanah air.

Karya Edward Nugroho.

Tentu saja bukan perkara mudah bagi mereka untuk mengerjakan photo project semacam ini. Tidak sepertia yang biasa mereka kerjakan sehari-hari yang bertumpu pada kekuatan jari menekan tombol shutter pada tubuh kamera foto.

Karya-karya Muhammad Aslam.

Mereka dihadapkan pada realitas yang ada di sekitar diri mereka sendiri untuk mengabadikan momen benda-benda yang sangat dekat dengan zona personal theritory masing-masing. Hal ini penting dalam upaya membaca tanda dan simbol-simbol yang terdapat pada benda-benda di dalam ruang privasi mereka.

 

Karya Reza.

Perkara visual yang dihasilkan kamera foto harus dipertimbangkan dengan matang dalam konteks bahasa rupa. Praktik ini juga cukup memberi ‘warning’ kepada mereka yang sehari-hari banyak mengabadikan momen-momen milik orang lain – ruang private di luar diri mereka sendiri.

 

 

Shamow’el Rama Surya, penggagas photo project ini, berbagi metoda bagaimana karya fotografi non-komersil dengan warga fotografer yang memiliki minat untuk ‘hijrah’ ini. Sehingga mereka mendapat gambaran praktis apa yang penting dari sebuah gambar foto. Tentu saja berkaitan dengan petanda-petanda yang dimaksud dalam penelusuran visual di photo project ini.

 

Penggagas photo project ini juga menjelaskan bahwa proses untuk membuat pameran ini cukup unik dan menarik. Penggagas project ini menerangkan kembali bahwa meskipun pada mulanya memang tidak mudah bagi mereka untuk memahami project ini, tetapi cukup mengejutkan rupanya setelah akhirnya mereka berhasil menafsir project ini dengan sudut pandang mereka masing-masing.

 

HOME akan bergeser ke kota atau daerah lain yang dianggap memiliki hubungan sejarah yang kuat serta mengundang fotografer untuk terlibat dalam photo project ini. Shamow’el Rama Surya lebih lanjut memaparkan bahwa Indonesia ini memiliki kekayaan yang berlimpah, sangat disayangkan bila orang-orang dari luar negeri yang banyak menelusur kekayaan kita, khususnya budaya yang beragam ini.

Karya Shamow’el Rama Surya

Kota dan komunitas di mana lagi yang akan terlibat dalam photo project ini? Kita ikuti perjalanan mereka keliling tanah air hingga singgah di Galeri Nasional Indonesia – sedang direncanakan – dengan pameran besar dengan keterlibatan warga fotografi yang lebih banyak lagi. Kita adalah Indonesia.

Karya Aris Liem

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *