Rangkasbitung Siap Gelar Festival Seni Multatuli 2018 Festival Seni Multatuli 2018, Rangkasbitung, Kab. Lebak, Banten

Dalam rangka persiapan FSM 2018. Sejymlah panitia penyelenggara sudah memancang banner kegiatan festival di sekitar Alun-alun Timur Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. FOTO: Hendra Bada.

Sejumlah gagasan, inspirasi dan gerakan intelektual dari Multatuli akan diwujudkan melalui festival seni yang menyajikan tontotan dan temu-intelektual di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten mulai hari ini hingga Minggu (9/9) di sekitaran Alun-alun Rangkasbitung. Kegiatan-kegiatan yang akan berlangsung menjadi peristiwa seni dan budaya berwawasan sejarah dan intelektual dapat dilihat pada poster kegiatan di akhir artikel ini.

Tentunya masyarakat Indonesia juga pembaca karya sastera sudah mengenal siapakah tokoh antikolonial yang lahir pada tanggal 21 Januari 1856 silam. Multatuli alias Eduard Douwes Dekker pertama kali tiba di Rangkasbitung dan ditugaskan sebagai Asisten Residen Lebak oleh Gubermen. Ia mengundurkan diri, tidak kurang dari 84 hari, setelah berselisih paham dengan atasannya. Kemudian Multatuli pergi menuju Belgia dan menuliskan pengalaman dan kegelisahannya itu dalam bentuk roman berjudul Max Havelaar pada 1860. Menurut M. C. Ricklefs (2010), dalam buku Sejarah Indonesia Modern; 1200-2008, memberi catatan bahwa roman Max Havelaar mengungkapkan dengan sangat pas keadaan pemerintah kolonial yang sangat zalim dan korup di Jawa. Roman itu menjadi senjata ampuh dalam menentang rezim penjajahan pada abad XIX di Jawa. Selaras dengan Ricklefs, Pramoedya Ananta Toer—seorang sastrawan dengan novel terkenalnya  Tetralogi Buru — dalam wawancara  tahun 1992 oleh televisi IKON dari Belanda, mengatakan bahwa Max Havelaar adalah roman yang membunuh kolonialisme Belanda. Lebih jauh menurut Pram, seorang politikus yang tidak mengenal Multatuli pasti tidak mengenal humanisme dan sejarah.

Selain simposium, diskusi, pertunjukan dan acara lainnya, FSM juga menggelar kegiatan kuliner khas di sekitar Alun-Alun Timur Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. FOTO: Hendra Bada.

Festival Seni Multatuli tidak bisa dilepaskan dari kehadiran Museum Multatuli yang didirikan pada tahun 2015. Sebuah museum yang menempati bangunan bekas kantor Kawedanan Rangkasbitung (1923). Museum yang terdiri atas tujuh ruangan ini menampilkan empat tema besar, yaitu antikolonialisme, Multatuli dan karyanya, sejarah Lebak dan Banten, serta Rangkasbitung masa kini.

Dalam upaya mengembangkan ide-ide konten dalam museum Multatuli, delegasi pejabat dan guru dari Pemerintah Kabupaten Lebak berkunjung ke Belanda pada tahun 2016; mengunjungi Arsip Nasional Belanda dan Museum Multatuli di Amsterdam. Setahun kemudian proses pengisian Museum Multatuli berlangsung, mulai dari pengadaan interior museum, peralatan audio-visual pengadaan replika artefak, film dokumenter, dan pembuatan patung Multatuli dan Saidjah-Adinda. Menindaklanjuti pendirian Museum Multatuli pada 2015, dan pertemuan 2016, juga proses pengadaan konten pada 2017, Pemerintah Kabupaten Lebak mengadakan kegiatan Festival Seni Multatuli (FSM) di tahun 2018, tepatnya pada 6 – 9 September di Rangkasbitung, Lebak, Banten.

Mengapa ada festival di Rangkasbitung? FSM merupakan salah satu kegiatan budaya tahun ini yang didukung melalui platform kebudayaan Indonesiana. Tujuan dari FSM yaitu mengenalkan sejarah kepada masyarakat, terutama kaum muda di Kabupaten Lebak secara menyenangkan. Lebih jauh, festival ini merupakan ikhtiar mengenalkan Multatuli (yang menjadi bagian penting narasi sejarah di Lebak) dan Museum Multatuli kepada masyarakat secara gotong-royong.

Kegiatan ini menjadi penting mengingat Multatuli merupakan ikon Lebak. Selain itu, Multatuli memberikan ilham kemerdekaan, harmoni, kesederajatan, keberagaman, dan kemanusiaan kepada dunia. Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan, Festival Seni Multatuli akan membuat kita mengenal lebih dalam sejarah Lebak, khususnya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker yang bertugas sebagai asisten residen Lebak pada 21 Januari 1856.

Sejumlah panitia pelaksana sedang mempersiapkan ruang Festival Seni Multatuli (FSM) 2018 di halaman Museum Multatuli, Jalan Alun Alun Timur No. 8 Rangkasbitung, Kabupaten lebak, Banten. FOTO: Hendra Bada.

FSM akan menampilkan berbagai kegiatan seni dan kebudayaan, di antaranya festival teater, penerbitan dan bedah buku puisi dengan tema “Multatuli”, Seri Diskusi Historia, simposium, festival musik tradisi, opera Saidjah Adinda, karnaval kerbau, workshop kreatif, kuliner dan tenun Baduy, serta panggung musik. Tidak hanya di Pendopo Museum Multatuli, rangkaian kegiatan Festival Seni Multatuli juga akan dilaksanakan di bekas rumah Multatuli, Aula Multatuli Kabupaten Lebak, serta Halaman dan Pendopo Kabupaten Lebak. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan mampu menarik masyarakat sekitar Lebak, Jabodetabek, Indonesia dan internasional yang membaca Max Havelaar, mengagumi Multatuli, maupun bergerak di bidang sastra, seni, budaya dan literasi.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *