Literasi Multatuli dan Kritik Paskakolonial dari Katrin Bandel Festival Seni Multatuli 2018, Rangkasbitung, Kab. Lebak, Banten

Dr. Katrin Bandel dan Dr. Neng Dara Afiah dalam simposium bagian pertama dengan tema “Paskakolonial dan Isu-Isu Mutakhir Lintas Disiplin” denagn moderator Rajimo Sastro Wijono, M.Hum. pada hari Jumat (7/9) pagi di Aula Multatuli, Gedung Setda Kabupaten Lebak, Banten. FOTO: Rima Herdiyana.

Festival tidak melulu berisi tontonan untuk penikmat atau masyarakatnya. Literasi bisa jadi metoda yang efektif untuk menyebarkan informasi dan wacana dari konten Festival Seni Multatuli. Simposium dan diskusi juga digelar dalam festival di Rangkasbitung kali ini.

Hari pertama dalam gelaran Festival Seni Multatuli (FSM) pada tanggal 6 September 2018 di kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten, sudah digelar diskusi seni rupa oleh Historia dengan tajuk “Djaja Bersaudara: Hidup dan Karya” di Pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten dengan pengantar dskusi oleh Bonnie Triyana, Pemimpin Redaksi Majalah Historia, dan menghadirkan dua pembicara yang memaparkan dua tokoh pelukis penting dari sejarah seni rupa modern yang lahir di Banten.

Aminuddin TH Siregar menyajikan makalah diskusi berjudul “Proses Kreatif Agus Djajasoeminta dan Otto Djajasoentara”, dan Amir Sidharta menyajikan makalah “Kisah di Balik Karya Agus Djajasoeminta dan Otto Djajasoentara”. Aminuddin TH Siregar justru lebih fokus pada bedah proses kekaryaan Agus Djajasoeminta, karena Amir Sidharta lebih cenderung pada pemaparan tokoh Otto Djajasoentara. Diskusi seni rupa terkait dengan isu paskakolonial itu dimoderasi oleh Heru Hikayat.

Aminuddin TH Siregar sedang memaparkan data sejarah tokoh Otto Djajasoentara hasil ulasanya dalam Diskusi bertajuk “Djaja Bersaudara: Hidup dan Karya” bersama Amir Sidharta dengan moderator Heru Hikayat di Pendopo Museum Multatuli, Jalan Alun-Alun Timur, Rangkasbitung, Lebak, Banten, pada hari Jumat (6/9) sore. FOTO: Hendra Bada.

Literasi dalam Festival Seni Multatuli 2018 pada hari kedua dilanjutkan dengan simposium bagian pertama dengan tema “Paskakolonial dan Isu-Isu Mutakhir Lintas Disiplin” di Aula Multatuli, Gedung Setda Kabupaten Lebak, Banten.

Simposium bagian pertama yang diselenggarakan pada hari Jumat (7/9) pagi di dalam rangkaian FSM 2018 itu menghadirkan pembicara Dr. Neng Dara Afiah dengan judul “Feminisme dan Gerakan Perempuan di Indonesia: Kemungkinan Pengembangan dalam Konteks Lokal Banten” dan pembiacara kedua dengan topik bahasan berjudul “Pertarungan Maskulinitas dalam Novel Max Havelaar” oleh Dr. Katrin Bandel, dan moderator Rajimo Sastro Wijono, M.Hum.

Simposium yang banyak dihadiri oleh pelajar dari Rangkasbitung itu kali pertama mendengar pemaparan dari Dr. Neng Dara Afiah yang lebih banyak menyajikan isu feminisme di Indonesia dengan sudut pandang akademis teoritis.

“Feminisme itu sederhananya adalah satu disiplin ilmu yang ingin menarik perempuan sabagai manusia seutuhnya, “kata Dr. Neng Dara Afiah di Aula Multatuli, Gedung Setda Lebak.

Semangat feminisme memiliki konteks khusus di Banten dalam konteks politik. Ada empat pemimpin daerah perempuan di propinsi Banten ini. Mereka adalah para pemimpin daerah yang memiliki kaitan dengan pejabat daerah sebelumnya yaitu hubungan keluarga. Kehadiran mereka tidak mengalami penolakan seperti yang dialami oleh Ibu Risma di Surabaya, atau Ibu Hofifah Indar Parawangsa di Jawa Timur.

Mengenai hal ini Dr. Neng Dara Afiah menyayangkan tidak munculnya kajian-kajian feminis kritis terhadap fakta sekaligus fenomena politik perempuan di Banten.

“Sayangnya, tidak ada narasi mengenai empat perempuan di provinsi Banten ini,” ujar Dr. Neng Dara Afiah di dalam bagian penyampaian materi simposiumnya.

Persoalan umum yang seringkali muncul di masyarakat Indonesia adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Itu adalah problem terbesar di Indonesia, juga di Banten’” lanjut Dr. Neng Dara Afiah. Meski UU PKDRT sudah diterbitkan dan menjadi payung hukum untuk perempuan Indonesia dalam melawan kekerasan, sejumlah peristiwa kekerasan kerap terjadi di tanah air.

Dr. Neng Dara Afiah menyajikan isu feminisme dalam simposium bagian pertama dengan tema “Paskakolonial dan Isu-Isu Mutakhir Lintas Disiplin” denagn moderator Rajimo Sastro Wijono, M.Hum. pada hari Jumat (7/9) pagi di Aula Multatuli, Gedung Setda Kabupaten Lebak, Banten. FOTO: Rima Herdiyana.

Pengetahuan yang tidak kalah menarik, bahkan kritis justru disebarkan oleh Dr. Katrin Bandel dalam simposium bagian pertama. Beliau mengupas secara kritis dan mendalam persoalan-persoalan susastera seperti alur cerita, penokohan, posisi perempuan yang tidak banyak disentuh di dalam novel Max Havelaar karya Multatuli.

Dr. Katrin Bandel menyajikan materi kritik sastra dalam konteks pengetahuan paskakolonial dan isu gender di dalam karya Multatuli. Dia menerangkan bahwa 80% negara-negara di dunia pernah dijajah. Kajian paskakolonial menuntut kesadaran bahwa penjajahan sudah terakhir secara formal, tetapi justru kajian lanjutan dari kolonialisasi yang masih berlangsung dan dampak dari penjajahan itu terus digali.

“Bagi ilmuan paskakolonial, fenomena kolonialisasi dianggap masih berlangsung hingga saat ini,” kata Dr. Katrin Bandel. Ia memberi contoh pada hari ini, yaitu, bagaimana negara Amerika Serikat dan Inggris mempraktikan kolonialisasi di negara-negara Asia dan Afrika.

Lebih lanjut, dia menegaskan juga bahwa novel itu menunjukkan sebuah ambivalensi. Dalam wacana paskakolonial, kolonialisasi itu mengkalim memberikan sesuatu nilai baik, keadilan, agama baru, kemajuan teknologi kepada bangsa yang dijajahnya.

“Max Havelaar bukan novel anti-kolonial. Karena Eduard Dauwes Dekker dan orang-orang Belanda tidak keluar dari negeri ini dan membiarkannya merdeka,” tegas Dr. Katrin Bandel.

Selain kajian paskakolonial, Dr. Katrin Bandel juga mengangkat isu gender di dalam kritik karya Multatuli. Isu gender yang dianalisa, salah satunya, terkait identitas seseorang  itu laki-laki atau perempuan. Dan posisi itu merupakan sebuah konstruk sosial.

“Novel Max Havelaar adalah dunia laki-laki.” Tegas Dr. Katrin Bandel dalam pemaparan materi simposium yang berjudul “Pertarungan Maskulinitas dalam Novel Max Havelaar”.

Masyarakat yang mengapresiasi Festival Seni Multatuli 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten ini dapat memperoleh pengetahuan melalui kegiatan literasi di dalam festival. Meskipun masih banyak yang belum membaca novel Max Havelaar karya Multatuli, melalui simposium ini pengetahuan lebin rinci bisa dikunyah oleh masyarakat Festival Seni Multatuli 2018.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *