Opera Saidjah-Adinda, Cinta dan Penjajahan Festival Seni Multatuli 2018, Rangkasbitung, Kab. Lebak, Banten

Kisah cinta muda-mudi asal Lebak, yang diangkat dari buku Max Havelaar karangan Multatuli, diangkat dengan apik dalam pertunjukkan opera “Saidjah-Adinda” oleh Ananda Sukarlan, di panggung terbuka Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Sabtu (08/09/2018).

Opera “Saidjah-Adinda” adalah salah satu obsesi Ananda Sukarlan untuk menciptakan komposisi musik yang berdasarkan karya Multatuli, nama pena dari seorang pejabat Belanda, yakni Eduard Douwes Dekker. Keinginan yang sudah lama itu bersambut ketika panitia Festival Seni Multatuli 2018 menghubungi dirinya untuk menggarap sebuah opera di kota Rangkasbitung.

“Sejak saya kuliah musik di Belanda awal 1990-an, saya memiliki keinginan membuat musik berdasarkan karya Multatuli. Apalagi Museum Multatuli di Amsterdam sangat inspiratif buat saya sebagai orang Indonesia,” ungkap Ananda Sukarlan.

Sejak saat itu kisah Saidjah dan Adinda, selalu ada di benak Ananda.¬†“Semesta tiba-tiba mendukung semuanya!” kata Ananda Sukarlan.

Dan Sabtu malam di panggung terbuka Museum Multatuli, semuanya terjadi.

Opera “Saidjah Adinda” dibuka dengan keseluruhan pemain berjalan membawa lampu membelah¬† kerumunan penonton. Sementara penyanyi soprano Mariska Setiawan yang berperan sebagai Adinda diangkat tinggi dalam posisi terbaring.¬† Tidak ketinggalan seekor kerbau juga diarak hingga ke atas panggung. Penyanyi tenor Widhawan Aryo Pradhita berperan sebagai Saidjah membuka kisah cinta ini.

Sihir piano Ananda Sukarlan, juga gesekan cello Vahur Luhtsalu (Estonia), alunan flute dari Carmen Caballero (Spanyol), menjadikan kisah cinta muda-mudi, adegan penyiksaan dan pembunuhan, yang berlatar zaman penjajahan, tampak dramatis dan haru biru. Tentunya kemasan tari garapan sutradara dan koreografer Chendra Panatan, menjadikan 3 babak yang diselingi intermezzo, dari 10 babak opera “Saidjah-Adinda” ini enak dinikmati sampai tuntas.

Panggung terbuka memang menjadi tantangan tersendiri bagi Ananda Sukarlan untuk menyuguhkan musik klasik yang berkualitas. Tantangan itu mulai dari waktu, kondisi cuaca, peralatan konser, hingga berbagai respon dari penonton. Namun warga Rangkasbitung membuat kejutan yang luar biasa. Mampu bertahan hingga pertunjukkan selesai. Pertunjukkan opera “Saidjah-Adinda” adalah pertunjukkan pertama musik klasik di kota Rangkasbitung.

Di sinilah Ananda dkk, merasakan upaya mereka mendapatkan tempat di hati penonton.

Opera “Saidjah-Adinda” termasuk juga kegiatan festival teater dan sastra, yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Seni Multatuli telah berhasil menghangatkan kembali kisah cinta dan perjuangan rakyat saat penjajahan Belanda di Lebak, Banten. Kisah cinta itu menempel ketat dengan ketidakadilan yang diterima rakyat Banten kala itu. []

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *