Kreatifitas Seni Refugee di Jakarta Art For Refuge

Abang None Jakarta mendampingi salah satu pengunjung pameran “Berdiam/Bertandang” di ruangan yang memajang karya anak-anak dari Roshan Learning Center (Jakarta) pada Selasa (25/9) siang di Gedung B, Galeri Nasional Indonesia, jakarta Pusat. FOTO: artspace Indonesia.

Karya seni rupa bukan hanya komoditas dalam gaya hidup masyarakat millenials di kelas ekonomi tertentu yang menandi kehidupan masyarakat kontemporer.

Karya seni rupa juga lebih dari sekedar bahasa simbolik untuk mengkritik kondisi kemanusiaan atau laju politik dalam pemerintahan di suatu negara. Oleh sebab itu, karya seni dan estetikanya memang seringkali bernegasi di dalam sebuah laju kepentingan kampanye isu-isu sosial atau kebijakan politik suatu kelompok, di luar persoalan estetika yang masih banyak menggunakan estetika modern.

Wajah para pengungsi dalam bingkai fotografi karya Fauzan Ijazah, koleksi UNHCR  dalam pameran “Berdiam/Bertandang” di Gedung B, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. FOTO: artspace Indonesia.

Sejatinya, karya seni adalah medium untuk mengantarkan sebuah pesan universal dalam sebuah peradaban bangsa oleh senimannya. Pameran karya seni rupa bertajuk “Berdiam/Bertandang” di Gedung B, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, digelar pada tanggal 20 hingga 27 September 2018 dipersembahkan oleh Art For Refuge. Pameran ini merupakan upaya politis bagi seniman dan organisasi pemerhati masalah kemanusiaan yang menangani masalah pengungsi akibat gejolak politik yang memanas hingga terjadi perang yang tak berkesudahan di suatu daerah.

Pameran ini membidik anak-anak dan remaja yang bermigrasi dari daerah asalnya yang tenagh berkonflik atau mengalami kesulitan ekonomi di negara asalnya. Lalu, apa yang mereka suarakan melalui karya seni? Tentu saja dunia anak-anak yang seharusnya mereka miliki bersama impian atau imaji-imaji diri juga masa depan yang ingin mereka raih. Fase tumbuh-kembang anak pada diri mereka terinterupsi oleh desing peluru atau bom yang merenggut orang tua hingga sanak saudara mereka.

Boneka yang dibuat dari limbah rumah tangga dan transformasi medium ke digital photography ini karya Chris Bunjamin dalam pameran “Berdiam/Bertandang” di Gedung B, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Salah satu seniman yang aktif berbagi pengalaman artistik di Roshan Learning Center, Jakarta Selatan. FOTO: artspace Indonesia.

Art For Refuge merupakan gerakan sosial yang diinisiasi oleh Katrina Wardhana bersama institusi Kawula Madani Foundation, UNHCR, Roshan Learning Center juga Galeri Nasional Indonesia – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk menampilkan potensi kreatif anak-anak yang aktif di Roshan Learning Center, Jakarta Selatan, di bidang seni rupa.

Katrina percaya bahwa seni dapat menjadi sebuah media untuk para refugee di Indonesia berbagi kisah dan cerita-cerita inspiratif. Memang tidak mudah bagi seorang remaja untuk mengadopsi kultur baru di tempat baru yang mereka singgahi untuk melanjutkan hidup sebagai manusia yang mengemban tradisi budaya dari tempat asalnya.

Menurut data yang diberikan oleh penyelenggara pameran, bahwa berdasarkan laporan dari UNHCR pada Juni 2018, terdapat 68,5 juta jiwa di seluruh dunia yang terpaksa harus meninggalkan tanah tempat tinggalnya, di mana 25,4 juta orang di antara mereka berstatus sebagai refugee – lebih dari separuhnya berusia di abwah 18 tahun. Indonesia sendiri rupanya sudah menjadi slah satu negara transit bagi para pengungsi – tercatat ada 13.840 refugee dan pencari suaka hingga Desember 2017.

Mella Jaarsma, salah satu seniman di Yogyakarta yang konsen terhadap persoalan kemanusiaan dan isu-isu sosial juga ikut berpartisipasi dengan menyajikan dua lukisan berjudul “A Life to Carry I-II” di Gedung B, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. FOTO: artspace Indonesia.

Beberapa karya yang dipamerkan sangat kuat menyampaikan pesan humanis dari persoalan anak-anak yang jadi korban di daerah konflik. Sebagian karya lagi terkesan lazim dalam pameran-pameran seni rupa dengan tema-tema yang berbeda untuk tujuan komoditas dalam gaya hidup.

Alia Swastika, kurator pameran, di dalam pengantar kuratorialnya, mencatat bahwa, “Karya-karya seni tentang migran dan pengungsi telah menjadi bagian dari diskursus utama praktik seni rupa kontemporer. Dalam berbagai perhelatan, upaya untuk menelusuri kembali kompleksitas isu ini dalam kerangka situasi global masa kini. Perlintasan dan fenomena pengungsi memberi ruang pada tumbuhnya kultur-kultur hibrida yang memperkaya bahasa estetika dan pendekatan artistik dari berbagai budaya yang saling bertemu.”

Itulah karya seni rupa yang menjadi corong pemberi pesan kemanusiaan yang menyentuh hati para penontonnya. Pameran yang mengingatkan kita yang hidup rukun, jauh dari daerah konflik/perang, di sini tentang anak-anak di bawah umur dan remaja yang harus bermigrasi ke tempat yang lebih damai.

Selain menyajikan karya-karya dari siswa-siswi Roshan Learning Center dan beberapa komunitas refugee, seniman-seniman yang terlibat di dalam pameran ini adalah Katrina Wardhana, Chris Bunjamin, Mella Jaarsma, kelompok Sambunghambar, MES56, Amin Taasha dan Mumtaz. Tujuhpuluh dua karya yang tersaji di pameran tersebut menggugah kesadaran kita sebagai masyarakat yang hidup di atas tanah yang damai dan beragama budaya yang mengayakan kita, bahwa perdamaian itu adalah cita-cita anak semua bangsa.

Lukisan karya Katrina Wardhana di pameran Berdiam/Bertandang”, Gedung B, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. FOTO: artspace Indonesia.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *