Seni Ikebana Kontemporer di Lawangwangi Creative Space Ekspansi gaya Moribana dari Ohara School of Ikebana [Chapter Indonesia]

“Untitled” sebuah karya Andajani Trahayu dalam pameran Ikebana kontemporer bertajuk “[not] ARTofficial[?]: out of track” di Lawangwangi Creative Space, Bandung. Seni Ikebana yang satu ini merupakan scultural arrangement dari salah satu gaya yang diajarkan di Ohara School of Ikebana, di Osaka dan Tokyo. FOTO: artspace Indonesia.
Pameran seni Ikebana dan seni rupa kontemporer dengan tema karya Ikebana bukan kali pertama diselenggarakan di Lawangwangi Creative Space, Bandung. Andajani Trahayu sudah menyelenggarakan pameran serupa dengan tajuk pameran “A Path Toward Contemporary Ikebana” pada awal bulan Maret 2016.

Kali ini penggagas yang sama menggelar pameran dengan tajuk “[not]ARTofficial[?]: out of track”, melibatkan enam belas seniman ikebana dan sepuluh seniman kontemporer dari Bandung, Vietnam dan Jepang. Seni tradisional yang sakral dalam wacana seni rupa kontemporer sudah menjadi bagian dari sejarah berkembangnya praktik seni rupa kontemporer di Barat sebelum Perang Dunia Kedua hingga wacana seni rupa global saat ini. Proses elaborasi estetik dan kolaborasi lintas-disiplin seni memungkinkan pengetahuan dan pengalaman artistik yang baru dilahirkan. Demikian juga dengan karya seni rupa kontemporer tematik yang digelar dalam proses penciptaan dalam pameran ini.

Seniman Ikebana dan seniman kontemporer sama-sama menggarap karya dengan tema Nature as Subject sebagai pokok soal utama dalam pameran ini. Kita bisa menyimak bagaimana seniman kontemporer dan seniman Ikebana saling merespon persoalan dan menyajikan karya masing-masing dengan rasa yang diolah secara personal oleh masing-masing seniman.

Karya instalasi “Mangkrak” dari Hollywinarni Jamihardja, dalam pameran “[not] ARTofficial[?]: out of track” di Lawangwangi Creative Space, Bandung, ini mengangkat isu lingkungan di perkotaan saat ini. Di mana pembangunan kota yang tidak ramah lingkungan akan diambil oleh alam kembali. FOTO: artspace Indonesia.
Ikebana merupakan seni tradisi budaya Jepang yang dalam praktiknya bukan membuat rangkaian bunga untuk hiasan di atas meja – seperti banyak kita temui dalam tradisi budaya Eropa yang dilakukan oleh florist. Ikebana bukan sekedar membuat rangakain bunga, Ikebana adalah praktik membuat karya dengan material bunga dan tumbuhan serta material alam lainnya untuk merepresentasikan kondisi alam pada musim tertentu dengan aspek fungsional yaitu upacara sakral. Perkembangan kemudian dalam praktiknya, Ikebana berupaya untuk membuat karya dengan metoda yang mirip dengan abstraksi (dalam seni lukis) dari lanskap alam melalui pilihan bunga dan tumbuhan jenis tertentu. Ikebana memang merepresentasikan unsur-unsur makro-kosmos kemudian terkodifikasi menjadi kegiatan spiritual manusia (mikro-kosmos) pada kegiatan tertentu. Namun dalam konteks pameran ini, para seniman Ikebana berupaya melepaskan diri dari konvensi Ikebana tradisional untuk bermigrasi pada zona seni rupa kontemporer dengan proses yang masih panjang, karena konstruksi pengetahuan dan diskursusnya belum mapan.

“Paradoksal Ikebana” karya Natas Setiabudhi dalam pameran Ikebana kontemporer, [not] ARTofficial[?]: out of track, di Lawangwangi Creative Space, Bandung. FOTO: artspace Indonesia.
Di sisi lain, filsafat Zen sudah menjadi salah satu tematik di dalam struktur karya-karya Ikebana dan seni rupa Jepang. Andajani Trahaju, seniman Ikebana sekaligus penggagas pameran ini mengatakan, bahwa, inti ajaran Zen adalah meditasi. Meditasi dan pencarian inspirasi dilakukan pada tahap sebelum dilakukan kegiatan perangkaian. Biasanya seniman Ikebana akan melakukan pendekatan dengan alam terlebih dahulu, sebelum melakukan perangkaian. Pendekatan dengan alam ini bisa dilakukan melalui perjalanan spiritual dengan mengamati alam sekitar dan pameran ini berupaya untuk mengaburkan batas-batas atau hirarki seni dengan memandang bahwa karya seni, apapun bentuknya, adalah sesuatu yang bisa dinikmati bersama, dan melalui seni bisa terjadi pertukaran budaya dan kreativitas, serta menambah wawasan, pengetahuan, dan persahabatan antar negara.

“As Offering” video art karya Elwin Pradipta dalam pameran Ikebana kontemporer, [not] ARTofficial[?]: out of track, di Lawangwangi Creative Space, Bandung. FOTO: artspace Indonesia.
Andajani Trahaju menjelaskan lebih lanjut bahwa masyarakat Jepang dengan kepercayaan Shinto juga pengaruh Buddhisme pada abad ke-6 memposisikan Ikebana sebagai praktik seni tradisional dengan material alam, khususnya bunga dan pepohonan, serta material alam lainnya untuk kebutuhan spiritual. Pengaruh budaya modern dari Barat saat terjadi Restorasi Meiji (1868) sangat memukau Jepang, sehingga seni dan budaya tradisi Jepang sedikit terlupakan, tak terkecuali Ikebana. Kemunculan gaya moribana (menumpuk bunga),  yang disebut-sebut sebagai awal lahirnya Ikebana Modern yang diperkenalkan oleh Master Ikebana, Unshin Ohara. Kemudian didirikan sekolah Ohara (awal abad ke- 20). Pada tahun 1930, sekelompok kritikus dan master Ikebana memproklamirkan gaya baru seni Ikebana, yang melepaskan diri dari pakem-pakem klasik dan menekankan ekspresi bebas yang kemudian disebut sebagai Zen’ei Ikebana.

“Seniman kontemporer membaca dan memaknai Ikebana dengan karakter karya masing-masing seniman. Di dalam pameran ini juga seniman kontemporer diberi kebebasan untuk tidak membuat karya Ikebana yang memiliki konvensi, termasuk penggunaan material non-organik,” kata Nia Gautama, kurator pameran.

Pameran “[not]ARTofficial[?]: out of track” ini menyajikan keberagaman bahasa artistik dari masing-masing senimannya. Publik dapat menyaksikan bagaimana budaya lokal sebagai sumber budaya menjadi struktur estetika di dalam karya seni rupa kontemporer ini.

“Transfigurasi” karya Milla Hardi dalam pameran Ikebana kontemporer, [not] ARTofficial[?]: out of track, di Lawangwangi Creative Space, Bandung. FOTO: artspace Indonesia.
Karya seni Ikebana yang dapat dikatakan mendekati karya seni rupa kontemporer dapat dilihat pada karya Milla Hardi yang berjudul “Transfigurasi”. Milla Hardi melukis material daun kering dengan objek bunga menggunakan teknik realisme, serta membubuhkan cat akrilik pada material alam lainnya pada karya seni Ikebana yang dibuatnya di dalam pameran ini. Praktik semacam ini memang berada di luar konvensi Ikebana, Milla Hardi berupaya membuat relasi artistik dengan wacana seni rupa kontemporer dengan pengalaman estetik yang sudah dia miliki selain sebagai seniman Ikebana di Bandung.

Richard Streitmatter-Tran, salah satu seniman dari Vietnam yang ikut serta dalam pameran ini mengatakan bahwa pameran ini di luar dugaannya, beragam karya seni kontemporer ada dalam pameran ini. Richard sendiri menyajikan sebuah karya still-life berjudul “Nature Morte” dari bahan tanah lempung yang diproduksi secara khusus di Lawangwangi Creative Space, Bandung, selama beberapa hari sebelum pamerna dibuka.

“Saya memang tidak ada relasi kuat dengan Ikebana tetapi seni Ikebana berhubungan dengan still-life. Nah, term still-life itu yang memberi tantangan artistik bagi saya untuk menyajikan karya dalam pameran ini,” kata Richard Richard Streitmatter-Tran di Lawangwangi Creative Space, Bandung, Jumat (5/10) pagi.

 

“Nature Morte” karya Richard Streitmatter-Tran di pameran Ikebana kontemporer, [not] ARTofficial[?]: out of track, di Lawangwangi Creative Space, Bandung. FOTO: artspace Indonesia.
Pameran “[not]ARTofficial[?]: out of track” ini akan berlangsung mulai tanggal 5 Oktober – 5 November 2018 di Lawangwangi Creative Space, Jalan Dago Giri No. 99 Bandung, Jawa Barat, dengan menyajikan beragam karya seni dari Andajani Trahaju, Caitlin Nishikawa, Chiemi Nakajiwa, Deni Ramdani, Edwin Credo Makarim, Eldwin Pradipta, Erwin Windu Pranata, Evi Moeljo, Hanako, Henryette Louise, Hollywinarni Jamihardja, Juliana Joe, Lestari Mulyanto, Maradita Sutantio, Milla Hardi, Mimi Safira Permana, Natas Setiabudi, Patriot Mukmin, Richard Streitmatter-Tran, Ryota Shioya, Satako Yamane, Syaiful Aulia Garibaldi, Swasti Kania The, Tamaki (Hosui) Morii, Toshiko Mizumoto, Wiwiek Tonny Surono, dan kurator pameran Nia Gautama dan Andajani Trahaju.

Setiap seniman memang diberi ruang bebas untuk mengolah gagasan personal pada karyanya yang berjukstaposisi dengan karya seni Ikebana konvensional. Mereka dapat memeriksa term Ikebana atau merespon persoalan Ikebana atau bahkan menafsir filososfi dari karya seni Ikebana.

Tentu saja, banyak hal yang menarik dari proses penciptaan masing-masing seniman ketika membaca seni Ikebana di dalam pameran ini. Termasuk jarak estetik yang muncul dimana penyajian karya seni Ikebana dan karya seni rupa kontemporer diberi pemisahan ruang yang signifikan. Perbedaan material yang digunakan oleh seniman Ikebana dan seniman kontemporer membuat kontras pameran ini. Misalnya, karya instalasi Erwin Windu Pranata, “Assemblage No.3”, dengan dominasi warna-warna panas dari benda-benda rumah tangga dari material plastik dan logam yang banyak dijual di supermarket. Sebuah kodifikasi masyarakat urban digunakan seniman ini ketika merespon Ikebana.

“Assemblage No.3” karya Erwin Windu Pranata dalam pameran Ikebana kontemporer, [not] ARTofficial[?]: out of track, di Lawangwangi Creative Space, Bandung. FOTO: artspace Indonesia.
Sensei Tamaki (Hosui) Morii, salah satu master Ikebana dari Jepang, untuk kali pertamanya ke Indonesia, Bandung, menyajikan karya seni Ikebana hasil kolaborasi artistik dengan Ryota Shioya, seniman Jepang, di dalam pameran ini. Beliau mengatakan bahwa pameran seni Ikebana ini menunjukkan bahasa simbolik yang sangat artistik dan beragama dan sebuah kebanggaan dan kehormatan baginya untuk terlibat di dalam peristiwa ini.

Karya kolaborasi seni Ikebana dan seni kontemporer dari Sensei Tamaki (Hosui) Morii, master Ikebana dari Tokyo dan Ryota Shioya dalam pameran Ikebana kontemporer, [not] ARTofficial[?]: out of track, di Lawangwangi Creative Space, Bandung. FOTO: artspace Indonesia.

“Ini adalah sebuah kesempatan yang baik dan terhormat bagi saya untuk terlibat di dalam pameran Ikebana yang sangat artistik di Lawangwangi Creative Space, Bandung, Indonesia. Saya sangat menikmati pameran pertama ini yang melibatkan seniman kontemporer Ryota Shioya untuk berkolaborasi, merancang sebuah karya Ikebana yang sangat menyentuh dengan material lain di luar tradisi Ikebana. Kami menyebut karya semacam ini sebuah hanamaii (dancing flower). Kami membangun sebuah hubungan yang intim, menyajikan harmoni. Karya saya itu sebuah substraksi untuk menghadirkan kesederhanaan atas keindahan,” kata Sensei Tamaki (Hosui) Morii di lawangwangi Creative Space, Bandung.

Performance art karya Deni ‘ackay’ Ramdani usai pembukaan pameran Ikebana kontemporer, [not] ARTofficial[?]: out of track, di Lawangwangi Creative Space, Bandung. FOTO: artspace Indonesia.
Para seniman tidak hanya menyajikan karya dwimatra dan karya trimatra yang cenderung instalatif di dalam pameran ini. Ada juga seniman yang menyajikan karya video seni, instalasi seni dan performance art yaitu Deni ‘ackay’ Ramdani dengan durasi 45 menit. Ia membagikan bunga mawar hijau kepada penonton pameran, kemudian mengambilnya kembali satu per satu untuk dililitkan ke kapala sang seniman dengan balutan lakban plastik, lalu merecah bunga-bunganya itu hingga jatuh ke lantai menjadi artefak di ruang galeri. Sepertinya Deni Ackay ingin menyempaikan sebuah siklus kehidupan dari karyanya itu.

Maradita Sutantio “After The Promised Land” (2018) Diamter 200 cm, 80 cm, daun teh, replika tengkorak manusia dan biji-bijian. FOTO: artspace Indonesia.

Apakah seni Ikebana hadir sebagai dirinya yang baru atau menjadi suatu bentuk penyajian baru dari karya seni Ikebana melalui praktik seni rupa kontemporer? Asmudjo Jono Irianto, dalam acara Diskusi dan Bincang Seni “[not]ARTofficial[?]: out of track” sebelum pembukaan pameran tersebut, mengutarakan komentarnya bahwa pameran ini bisa lebih menarik apabila para seniman kontemporer menggunakan material yang sama dengan material organik yang biasa digunakan oleh seniman Ikebana. Asmudjo Jono Irianto mengkritisi tema pameran yang umum dan sudah sering digunakan oleh seniman kontemporer. Oleh karena itu pameran ini seperti dua pameran, seni Ikebana dan karya seni rupa kontemporer yang sudah sering diapresiasi dalam pameran-pameran seni rupa kontemporer. [ADV]

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *