35 Seniman Ramaikan Annual Meeting IMF-World Bank Group di Bali Catatan Kuratorial "ART BALI: Beyond The Myths"

Karya Joko Avianto, “Murala’s Pray” (2018), bamboo, 710 cm x 300 cm x 600 cm. Berlatarbelakang mitologi Hindu di India, di mana ada seorang gadis cantik, Murala, keturunan bangsawan yang menikahi seorang pria. Tapi, Murala merasa tertipu dan kecewa, karena rupanya kasta sang pria lebih rendah darinya, kemudian dia membakar dirinya di atas tumpukan kayu sambil berdoa kepada Dewa Whisnu, lalu dari abunya tumbuhlah tanaman Bambu. FOTO: Joko Avianto.

Ruang pajang bernama AB.BC Building, Bali Collection di Nusa Dua, Benoa, Bali gelar perhelatan seni rupa melibatkan 35 seniman dengan tajuk ART BALI: Beyond the Myths. Sebagai event seni rupa perdana yang direncanakan akan memajang karya-karya seni rupa kontemporer. Gelaran seni rupa yang memajang 35 seniman kontemporer itu berbarengan dengan kegiatan Annual Meeting IMF-World Bank Group (AM IMF-WBG) 2018 di kawasan Nusa Dua, Bali.

Berikut catatan kuratorial Rifky Effendy dan Ignatia Nilu dalam gelaran ART BALI: Beyond The Myths;

Beyond the Myths
Mitos seperti diungkapkan oleh Roland Barthes (Myth Today: 1957), adalah suatu sistem komunikasi , suatu narasi, wacana (speech). Dibangun dengan meta-bahasa, yang berfungsi untuk “menaturalisasi” sesuatu nilai yang dibentuknya. Mendistorsi suatu proses pemaknaan. Semua, menurutnya berpotensi menjadi mitos. Bagi Barthes, mitos bukan hanya bentukan dari cerita–cerita masa lampau, dongeng, dan lainnya, tetapi juga dalam wujudnya yang lebih kekinian; dunia popular, seperti sampul majalah, poster iklan, papan reklame, film dan lain sebagainya. Mitos ibarat hantu yang terus membuntuti sejarah manusia modern.

Pulau Bali adalah suatu lautan tanda-tanda dengan berbagai makna yang telah menjadi konstruksi. Pada sejarahnya, seni-budaya di Bali telah memberikan inspirasi banyak pendatang. Miguel Covarrubias adalah salah satu penulis yang mempopulerkan Bali,lewat buku terbitan 1937 “Island of Bali”. Sehingga lewat bukunya tersebut banyak orang- orang terkenal dari Amerika maupun Eropa berdatangan ke Bali. Kemudian, sejak era-kolonial, dengan munculnya kumpulan seniman Pitamaha pada awal abad 20, yang digagas oleh seniman Eropa seperti Rudolf Bonnet dan Walter Spies bersama para seniman seperti Lempad dkk.

Pitamaha menjadi sebuah kelompok seniman yang membawa bentuk kesenian Bali lebih kompromis atau bisa diterima oleh pubik internasional atau menjadi bentuk seni modern dengan menggabungkan semangat seni tradisional Bali dan Eropa. Bagi kebudayaan modern Indonesia, bentuk kesenian tersebut menjadi bagian sejarah seni modern Indonesia yang mempunyai dimensi lokal-global.

Kedatangan kelompok seniman dari Eropa telah merubah peta praktek seni lukis dan memberikan makna baru praktek seni lukis di Bali seperti halnya Moii Indie. Walaupun kemudian muncul gejala dimana ada seni lukis dan patung yang digemari oleh para Turis asing.

ART BALI
Melihat bali melalui periskop, Bali sebagai “Island of Bali” atau “Pulau Dewata” mendorong kita untuk menyadari bahwa mitos-mitos yang berada dalam masyarakatnya telah berkembang dan turut serta didalam dari praktik seninya. Mitologi dalam kultur religi, khususnya Hindu, telah memberikan dampak yang besar dalam seni yang berkembang.

Tema-tema ini kerap muncul sebagai kecenderungan yang membentuk berbagai bahasa mitos lainnya. Dimana mitologi mengajarnya pemikiran kritis, kebaikan dan melahirkan nilai kemanusiaan yang modern. Mitos-mitos yang sekaligus membungkus Bali dalam perwajahan yang sangat khusus dan istimewa. Mitologi adalah sebuah bagian upaya mempertimbangkan dan membongkar nilai-nilai dalam konteks peristiwa Art Bali 2018 sebagai kerangka pemikiran. Apakah yang akan kita temukan dibalik proses pembongkaran tanda-tanda waktu dan simbol ini? Apakah kita dapat melampaui mitos – mitos dan atau konstruksi sejarah ini untuk menemukan cakrawala seni yang unik? Pertanyaan–pertanyaan ini akan mengawal kerja Art Bali 2018 bersama seniman dan pegiat kreatif lainnya untuk mewujudkan pengalaman seni budaya ini.

Pameran Art Bali akan memberikan gambaran perkembangan mutakhir seni rupa kontemporer, baik di Bali, Indonesia maupun secara global. Karya-karya ini merepresentasikan bagaimana perubahan di dalam praktik seni rupa terkait dengan perubahan-perubahan sosial-politik dan ekonomi, baik di Indonesia maupun dunia. Memberikan makna baru dari cara pandang dunia yang baru, yang melampaui tanda-tanda, simbol yang termitoskan yang dikonstruksikan secara sengaja maupun secara arbitrer.

Para seniman yang berpartisipasi dalam gelaran ART BALI: Beyond The Myths adalah Adi Panuntun, Agan Harahap, Agung Mangu Putra, Agus Suwage, Arin Dwihartanto Sunaryo, Ashley Bickerton, Chusin Setiadikara, Dipo Andy, Eddi Prabandono, Eko Nugroho, Entang Wiharso, Filippo Sciascia, Galam Zulkifli, Handiwirman Saputra, Heri Dono, I Made Djirna, I Made Wianta, I Made Widya Diputra, I Made Wiguna Valasara, I Nyoman Erawan, I Nyoman Nuarta, I Wayan Upadana, Joko Dwi Avianto, Jompet Kuswidananto, Mella Jaarsma, Nasirun, Nu-Abstract (Gede Mahendra Yasa, Kemalezedine, Ketut Moniarta, Dewa Ngakan Ardana , Agus Saputra, Putu Bonuz), Pande Ketut Taman, Samsul Arifin, Syagini Ratna Wulan ft. Bandu Darmawan, Uji Handoko Eko Saputro, Yani Mariani Sastranegara, Yoka Sara, Yudi Sulistyo.[]

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *