Tradisi dalam Citraan dan Diaspora Bali Lukisan Teranyar Willy Himawan

Willy Himawan, “Kehadiran Sang Liyan #1-2” (2018). 190 cm x 120 cm, cat minyak dan prada di atas kanvas. FOTO: seniman.

Para seniman bertandang ke pulau Bali minggu-minggu ini, beberapa ruang pajang gelar pameran seni rupa karya seniman Bali dan seniman dari Jawa. Terang saja, karena ruang pajang paling anyar yang diberi nama AB.BC Building, Bali Collection di Nusa Dua, Benoa, Bali akan menggelar perhelatan akbar dengan tajuk ART BALI: Beyond the Myths sebagai event seni rupa perdananya. Gelaran seni rupa yang memajang karya-karya seni rupa kontemporer Indonesia itu berbarengan dengan Annual Meeting IMF-World Bank Group (AM IMF-WBG) 2018 di kawasan Nusa Dua, Bali.

Seni rupa Bali memang tidak bisa dilepaskan dari peran orang-orang dari luar Bali yang berkontribusi pada aspek pengalaman estetik seniman-seniman Balinya. Padahal seni rupa Bali memiliki sejarah seni rupa, khususnya seni lukis, yang cukup panjang sejak Majapahit berkuasa di Nusantara. Dengan demikian, persoalan identitas seni rupa Bali selalu aktual dan kontekstual sepanjang masa.

Salah satu seniman asal utara Bali yang selalu mengamati persoalan seni rupa Bali dengan perspektif kritik terhadap citraan pariwisata adalah Willy Himawan. Karya-karyanya selalu terhubung dengan persoalan hegemoni pariwisata di Bali, sejarah seni lukis Bali (sebelum Moii Indie) yang dimarjinalkan menjadi seni rupa tradisional juga identitas modernitas yang tak henti pada karya-karya seniman Bali.

Kali ini, Willy Himawan menyajikan karya-karya seni lukis terbarunya – masih juga membawa konten kritik terhadap identitas ketradisian seni rupa Bali yang tergeser oleh pembangunan pariwisata yang tak pernah tuntas. Willy Himawan membuat dua lukisan berjudul “Kehadiran Sang Liyan”. Lukisan cat minyak dicampur dengan prada (emas) mengunggah menjangan sebagai subject-matter lukisannya. Meski demikian, pada bagian tertentu masih dapat terlihat samar-samar citraan budaya masyarakat Bali yang dikonsumsi menjadi modal pariwisata. Penduduk pendatang – mereka menyebutnya orang Jawa – juga wisatawan luar Indonesia mengonsumsi semua aspek kehidupan masyarakat Bali sebagai objek partiwisata – termasuk tradisi ritual juga. Lukisan itu sebuah pernyataan bahwa kehidupan masyarakat Bali tidak bisa dilepaskan dari kehadiran para penduduk pendatang dan wisatawan dari luar Indonesia sebagai representasi dari sang Liyan.

 

Willy Himawan (2018), “Reflektif Dalam Biru #1” [100 cm x 70 cm, cat minyak dan prada di atas kanvas]; “Menjangan Seluang” [100 cm x 70 cm, cat minyak di atas kanvas]. FOTO: seniman.

Citraan-citraan budaya tradisi Bali juga hadir di dalam bidang kanvas yang berjudul “Reflektif Dalam Biru #1-2”, “Menjangan Seluang”, “Reflektif #1-5”. Semua lukisan-lukisan Willy Himawan memuat citraan itu. Kehadirannya juga menyatakan persoalan identitas yang terus dipertanyakan secara esensial dan pragmatis. Apakah seni rupa Bali tidak bisa lepas dari pemuatan citraan itu?

Bidang-bidang warna dengan sapuan kuas sepertinya memang mengabstraksi warna-warni persoalan seni lukis Bali. Sebuah metode representasional dalam karya seni rupa Bandung dimana Willy Himawan berkarya. Kemudian penampang visual diaspora Bali di dalam lukisan-lukisan Willi Himawan nampaknya diwakili melalui kehadiran bidang-bidang abstrak itu. Willy Himawan juga sejarah seni rupa Bali memang tidak bisa menyanggah mereka yang datang dan meninggalkan jejak artistik pada irisan sejarah seni rupa Bali. Mereka, sebagai sang Liyan, seperti entitas keindahan yang membuat mabuk seni rupa Bali untuk tetap ringkih dalam wacana seni rupa Indonesia.

“Diri yang berkaitan dengan konteks diaspora Bali ini, lebih lanjut, dicitrakan sebagai identitas artistik di dalam dinamika negosiasi yang simultan dengan sejarah pengalamannya yang membentuk idiolect-nya; identitas artistik yang terhubung selalu pada referensi identitas lokal tradisi Bali dan diimajinasikan dalam bentuk citraan-citraan baru; identitas artistik yang selalu berhasrat untuk mendeskripsikan, merepresentasikan hubungan-hubungan dirinya dengan hal di luar dirinya,” tutur Willy Himawan.

Willy Himawan secara terstruktur meneruskan latar belakang konten lukisannya mengenai bahasa estetika diaspora yang dianggap mempengaruhi laju perkembangan seni rupa Bali hingga saat ini. Willy Himawan mencatat bahwa, Pelukis diaspora Bali sejak awal, tahun 1970-an, keberadaannya dilandasi oleh keinginan untuk menjadi bagian dari globalisasi dengan berada di luar Bali. Sejatinya, identitas diaspora itu adalah persoalan tentang diri yang bersentuhan dengan berbagai pilihan yang sangat terbuka.

Willy Himawan (2018), “Reflektif #3” [56 cm x 68 cm, cat minyak, akrilik dan prada di atas kanvas], “Reflektif dalam Biru #2” [50 cm x 70 cm, cat minyak di atas kanvas]. FOTO: seniman.
Lukisan-lukisan Willy Himawan periode ini menampilkan kesederhanaan meski cukup rumit dalam pewacanaan juga kontek karyanya. Ia seperti sedang memeriksa persoalan seni lukis beyond the paintings itself pada karyanya sendiri.

 

“Diri yang berhadapan dan bersinggungan dengan aspek sosio-kultur, ideologi pendidikan, perkembangan jaman yang lain dengan pengalaman berada di Bali, kemudian menjadi jejak-jejak yang mempengaruhi diri. Dalam persinggungan dengan jejak-jejak yang mempengaruhi diri ini, pelukis diaspora Bali membentuk idiolect mereka sendiri. Berkaitan dengan pertemuan dan persinggungan dengan aspek di luar diri ini, diri diaspora Bali kemudian dapat dilihat melalui pemikiran Sugiharto (2008) dalam melihat humanisme kini, sebagai diri yang bersinggungan dengan sejarah pengalaman, persoalan diri yang bukan lagi berangkat dari ego pusat yang menjangkau dunia, melainkan diri yang terikat pada etis primordial terhadap yang “Lain”, yang mendahului pemikiran dan refleksi ego. Diri yang bersinggungan dengan sejarah pengalaman, adalah diri yang berada dalam dinamika negosiasi terus-menerus dengan sejarahnya. Negosisasi yang berkesinambungan inilah yang kemudian membentuk idiolect pelukis diaspora Bali,demikian uraian Willy Himawan mengenai konteks diaspora dan tentang ke-diri-an di dalam lukisan-lukisannya.

Lukisan Menjangan Saluang menawarkan suasana paradoks dengan dominasi warna blue marine. Paradoks citraan tradisi dan kompleksitas seni rupa global saat ini yang diamatinya menggunakan sudut pandang kebudayaan.

Willy Himawan (2018), “Reflektif #1-2”, 48 cm x 48 cm, cat minyak dan prada di atas kanvas. FOTO: seniman.

***

Tradisi budaya visual Bali dalam seni lukis tak terhindarkan dari hubungan sejarah dengan lukisan wayang Kamasan yang dikatakan oleh maestro Wayang Kamasan, I Nyoman Mandra, sebagai warisan dari budaya Jawa (Majapahit). Lukisan wayang Kamasan laiknya sebuah rekonsiliasi budaya pada era kerajaan Klungkung. Seni gambar di atas permukaan kain itu kini menjadi warisan seni rupa yang diyakini sebagai salah satu artefak sejarah seni lukis modern di Bali. Lukisan wayang Kamasan menginduk pada lukisan wayang Beber. Seni lukis Kamasan, Batuan, Ubud, dan sekitarnya terus berkembang secara visual seiring dengan kehadiran para tentara dan pelukis dari Eropa yang membubuhkan teknik penggambaran bentuk yang berdimensi/bervolume pada tahun 1930-an dalam lukisan wayang di Bali.

Willy Himawan, menggunakan referensi kajian yang dilakukan oleh Adrian Vickers untuk merevitalisasi sejarah seni lukis Bali – salah satu fakta sejarah seni lukis modern Indonesia yang berkembang di luar Jawa pada masa kolonial. Adrian Vickers mengupas lini masa tentang lanskap seni lukis Bali sebelum para pelukis yang melancong ke Bali membubuhkan pengembangan teknis melukis kepada pelukis-pelukis yang diposisikan sebagai bagian dari budaya tradisional Bali.

Willy Himawan mencatat bahwa, “Perkembangan seni rupa Bali tahun 1930an sebagai perkembangan modern, menurut Vickers mengalami kegoncangan akibat pengaruh sosial-politik pada masa kemerdekaan di bawah pemerintahan Soekarno yang mengagendakan tampilan-tampilan yang megah, indah dan positif akan keberadaan negara baru, Indonesia di kancah internasional pada tahun 1950-an. Senada dengan Claire Holt (1967), Vickers mensinyalir bahwa perkembangan seni lukis yang didasari pemikiran inovatif pada tahun 1930an di Bali mengalami pergeseran posisi menjadi seni lukis tradisi akibat presentasi lukisan-lukisan yang disebut Sudjojono sebagai “Mooi Indie” dengan tampilan naturalis, keindahan alam dan manusia. Pergeseran posisi perkembangan seni lukis di tahun 1930an ini juga didorong oleh pembangunan awal pariwisata Bali yang memang mendasarkan diri pada komersialisasi yang meminggirkan perkembangan budaya tinggi, pemikiran dan intelektualitas yang terdapat pada sikap-sikap modernis (Jurnal Kajian Bali: 37-38). Dengan demikian, perkembangan seni lukis Bali dalam langgam wayang kemudian dipandang dan digolongkan sebagai seni tradisi dan produk budaya tradisi yang wajib dimiliki turis yang mengunjungi wilayah dengan budaya unik”.

Willy Himawan (2018), “Reflektif #4” [48 cm x 48 cm, cat minyak di atas kanvas], “Reflektif #5” [100 cm x 81 cm, cat minyak dan prada di atas kanvas]. FOTO: seniman.
Saya kira catatan ini penting untuk dibaca lagi dalam upaya merevitalisasi sejarah seni lukis modern Indonesia yang syarat dengan kepentingan politik-ekonomi di Asia Tenggara. Willy Himawan juga mengurai persoalan identitas visual karya-karya seni lukis Indonesia yang terkait dengan sejarah dan perkembangan seni rupa di Bali.

Selalu ada hal menarik bila membincangkan seni rupa Bali yang seringkali, bahkan selalu, dikaitan dengan kegiatan-kegiatan pariwisata yang melibatkan masyarakat dunia internasional. Pasalnya, seni rupa Bali masih bergantung pada pengunjung atau wisatawan untuk meraih jumlah apresiatornya.

“Sebagai seorang Bali, yang pasti terikat dengan tradisi kebalian. Namun, pada saat bersamaan berada dan tumbuh sangat dekat dengan situasi dunia kini, Saya mencoba untuk melihat keduanya kembali, tradisi dan globalisasi dalam hubungan kompleks keduanya. Dengan percaya pada drive intuisi, mencoba menggali nilai-nilai tradisi, dan bertemu dengan sebuah gagasan dalam bentuk bangunan dengan kepala menjangan di depannya, yang bernama Menjangan Seluang. Dalam mitologi masyarakat Bali, dipercaya bahwa pelinggih Menjangan Seluang dibuat untuk menghormati Mpu Kuturan, seorang spiritualis yang membawa Hindu masuk ke Bali dari Pulau Jawa. Dikisahkan Mpu Kuturan datang ke Bali dengan menunggangi menjangan, sehingga untuk menghormati kedatangannya, maka dibuatlah pelinggih Menjangan Seluang. Kedatangan Mpu Kuturan dikisahkan kemudian mempersatukan berbagai sekte agama yang ada di Bali dan saling bertikai,” tutur Willy Himawan.[]

 

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *