UOB POY dan BaCAA: Dua Award untuk Masa Depan Seniman Muda Indonesia

Bapak Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, Bapak Suvi Wahyudianto, pemenang UOB Painting of the Year 2018 (Indonesia), dan Bapak Iwan Satawidinata, Wakil Presiden Direktur UOB Indonesia, sedang berbincang-bincang mengenai karya pemenang setelah pengumuman pemenang UOB Painting of the Year 2018 (Indonesia) di Jakarta, Selasa (16/10) malam kemarin. FOTO: courtesy image by UOB Indonesia.

Seniman-seniman muda saat ini sedang berupaya mendominasi pameran di galeri-galeri alternatif. Sebagian dari mereka mulai ‘direkrut’ oleh seniornya yang sedang mengembangkan karir sebagai ‘seniman pasar’ untuk ikut berpameran di beberapa galeri seni di dalam jaringan pertemanan mereka di zona mainstream.

Namun apakah itu cukup memberikan ruang apresiasi dan masa depan karir mereka? Tentu saja masih jauh dari harapan. Sasaran mereka, seniman-seniman muda saat ini, adalah ingin mendapatkan lintasan orbit di ruang apresiasi kelas premium, bahkan mungkin lebih baik daripada kelas pertamax turbo, agar bisa langsung melenggang ke ruang pajang berskala internasional – sekaligus mendapat peluang pasar yang lebih menjanjikan untuk masa depan mereka sebagai seniman modern dan kontemporer.

Pemenang Anugerah UOB POY 2018 (Professional Artist category), tingkat nasional, Indonesia, jatuh kepada Suvi Wahyudianto “Angs’t (Angst)”. 100 cm x 150 cm, resin, plastik, enamel, pigmen pada plat aluminium. FOTO: image courtesy of UOB Indonesia.

Langkah mereka saat ini menurut pengamatan artspace Indonesia adalah membangun jaringan melalui para penulis, kurator, juga seniman seniornya untuk mendapatkan akses ke galeris, kolektor seni, bahkan kurator berbasis pasar yang diyakini bisa memuluskan jalan karir mereka di masa depan.

Seniman-seniman muda saat ini terbilang gampang-gampang susah untuk masuk ke lintasan utama seni rupa kontemporer tingkat nasional atau regional. Modal jejaring saja belum cukup menjanjikan karena dari sisi kekaryaan dianggap masih belum mapan. Maka, kompetisi seni dan Award dianggap sebuah short-cut bagi para seniman muda ini untuk sekedar menyimak laju lintasan seni rupa kontemporer di kelas pertamax turbo itu. Tentu saja, sejumlah Award yang pernah diraih mereka tercantum di dalam curriculum vitae masing-masing yang kemudian memberi dampak signifikan pada perjalanan karir mereka di tingkat lanjutan.

Ajeng Martia Saputri “Universe Under Our Skin”. 90 cm x 90 cm, pulpen pada gaun buatan tangan. GOLD Award UOB POY 2018 (Professional Artist category), tingkat nasional, Indonesia. FOTO: image courtesy of UOB Indonesia.

Paling tidak karya mereka dapat dikenal oleh para anggota Dewan Juri kompetisi seni atau Award yang mereka ikuti. Dengan sedikit harap-harap cemas mereka menanti masukan atau saran dari pada seniman seniornya yang sudah memiliki kecepatan yang konstan agar tetap di lintasan utama seni rupa kontemporer. Namun demikian, berapa banyak kompetisi seni yang ada saat ini dan sejauhmana mereka dapat mengaksesnya? Inilah situasi seni rupa Indonesia yang minim dukungan yang berkelanjutan dari pihak pemerintah. Ajang kompetisi, pada akhirnya, menjadi tumpuan para seniman muda untuk melompat lebih tinggi untuk sekedar itu tadi, menyimak kondisi lintasan utama seni rupa kontemporer di kotanya, juga di tingkat nasional dan regional – Asia Tenggara dan Asia Pasifik.

Hudi Alfa Churi “Urban Solitary”. 160 cm x 180 cm, akrilik pada kanvas. SILVER Award UOB POY 2018 (Professional Artist category), tingkat nasional, Indonesia. FOTO: image courtesy of UOB Indonesia.

Kompetisi seni rupa di Indonesia yang diselenggarakan secara konsisten terbilang sangat jarang saat ini. Kompetisi seni dianggap penting bagi seniman-seniman muda yang belum mendapatkan ruang apresiasi di zona wacana seni rupa kontemporer juga pasar seni yang mainstream. Sebut saja Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) yang diselenggarakan oleh ARTSociates di Lawangwangi Creative Space, Bandung, masih menjadi andalan bagi seniman-seniman muda di zona seni rupa kontemporer – karya seni non-tradisional.

Kemudian ada kompetisi UOB Painting of the Year (POY) yang diselenggarakan oleh PT Bank UOB Indonesia (UOB Indonesia), anak perusahaan United Overseas Bank Limited (UOB) yang berpusat di Singapore, yang secara rutin diselenggarakan di tingkat nasional dan regional. UOB POY ini boleh jadi harapan baru bagi seniman-seniman muda berbakat untuk menguji mental dan pencapaian artistik mereka di dalam karir mereka sebagai seniman muda.

Lenny Ratnasari Weichert “Yang Ibu Ajarkan”. 170 cm x 95 cm, kawat aluminium. BRONZE Award UOB POY 2018 (Professional Artist category), tingkat nasional, Indonesia. FOTO: image courtesy of UOB Indonesia.

Proses penjurian kompetisi UOB POY dilakukan dalam tiga tahap, yaitu (1) Proses seleksi lima puluh besar melalui foto karya [informasi ini dapat diakses melalui www.uob.co.id], (2) Proses delapan besar melalui karya asli, dalam tahap ini pemenang dihubungi langsung oleh pihak penyelenggara untuk masuk proses wawancara, dan (3) Proses wawancara untuk menggali konsep yang ajukan oleh seniman.

Apakah pembeda yang signifikan dari penyelenggaraan UOB POY Indonesia dan Asia Tenggara dari tiga tahun terakhir ini? Selain komposisi selera dewan juri yang berganti-ganti. Pihak penyelenggara UOB POY Indonesia menuturkan bahwa program UOB Painting of the Year merupakan bagian dari program tahunan tanggungjawab sosial perusahaan khususnya di bidang seni. Program ini merupakan inisiatif dari UOB Group yang telah diselenggarakan sejak tahun 1982. UOB Indonesia sebagai bagian dari UOB Group mulai menyelenggarakannya sejak delapan tahun lalu. Setiap tahun kami berusaha untuk lebih membebaskan medium seni rupa untuk memberikan ruang gerak para seniman lebih luas lagi. Tujuan program ini adalah untuk menemukan talenta-talenta baru yang akan menjadi generasi penerus perupa sebagai salah satu upaya melestarikan budaya dan mengembangkan manusia Indonesia melalui kompetisi seni yang dikurasi oleh panel Dewan Juri yang pakar dalam bidangnya.

 

“Selama hampir satu dekade diselenggarakan di Indonesia, kompetisi ini telah membantu menemukan dan mendukung generasi baru seniman dari seluruh penjuru negeri dengan cara menghubungkan mereka dengan kesempatan yang lebih luas di panggung seni regional dan internasional. Kami juga melihat kualitas seni dari para seniman Indonesia yang tinggi yang tercermin dari sejumlah seniman yang memenangkan penghargaan UOB Southeast Asian Painting of the Year. Saya mengucapkan selamat kepada para pemenang atas prestasi terbaik, serta saya berharap para seniman terus bersemangat mengejar mimpi dan mencapai kesuksesan yang lebih tinggi dalam karir seni mereka,” papar Kevin Lam, Presiden Direktur UOB Indonesia dalam acara pengumuman Pemenang UOB POY (Indonesia) 20018 di Jakarta, Selasa (16/10) malam kemarin.

Seno Wahyu Sampurno “Introspeksi Diri”. 170 cm x 200 cm, kertas, spidol dan semir sepatu pada kanvas. UOB Most Promising Artist of the Year Award, UOB POY 2018 (New Emerging Artist category), tingkat nasional, Indonesia. FOTO: image courtesy of UOB Indonesia.

Berikut adalah para seniman-seniman muda yang menjadi juara dalam kategori Seniman Profesional Indonesia dalam kompetisi seni UOB POY 2018; Suvi Wahyudianto, Ajeng Martia Saputri, Hudi Alfachuridan, terkecuali Lenny Ratnasari Weichert. Dan penghargaan UOB POY 2018 kepada para seniman muda dari kategori seniman Pendatang Baru, yaitu Seno Wahyu Sampurno, Danni Febriana, Anissa Dermawan Kunaefi, Alif Edi Irmawan.

Melihat nama-nama para pemenang kompetisi UOB POY 2018 di atas, kita sama-sama bisa membaca sejumlah nama seniman-seniman muda mendominasi saat ini. Sebuah kabar gembira untuk kolektor-kolektor seni yang baru ikut di lintasan, juga para pecinta seni yang akan lebih banyak berswafoto dengan seniman-seniman muda di pameran-pameran mendatang.

Lalu, muncul pertanyaan mengapa penyelenggara UOB POY Indonesia tidak membuka akses informasi mengenai proses seleksi awal hingga terpilih para nominatornya dalam penyelenggaraan UOB POY? Rupanya, PT Bank UOB Indonesia (UOB Indonesia) selalu memastikan proses seleksi yang transparan dan jujur, di mana keseluruhan informasi tersebut dapat diakses oleh public melalui www.uob.co.id. Panel Dewan Juri dipilih sesuai dengan latar belakang masing-masing yang mumpuni melalui tahapan seleksi yang ketat. Panel Dewan Juri dipastikan memiliki kemandirian, bebas dari intervensi pihak penyelenggara serta pihak-pihak lainnya dalam menentukan karya pemenang. Selain itu, jelas tertulis di dalam kontrak bahwa seniman tidak diperkenankan menghubungi para panel Dewan Juri maupun pihak penyelenggara sehubungan dengan karya yang dikompetisikan, kecuali mengenai proses logistik.

Danni Febriana “Shocking Beauty is Goat”. 90 cm x 100 cm, arang pada kanvas. GOLD Award, UOB POY 2018 (New Emerging Artist category), tingkat nasional, Indonesia. FOTO: image courtesy of UOB Indonesia.

“Selain itu, UOB Indonesia terus berfokus dalam memberikan ruang berkarya kepada seniman untuk meraih jenjang karir yang baik dengan menyediakan wadah berkarya dan berpameran baik di Indonesia maupun di luar negeri dengan memanfaatkan jaringan UOB Group yang tersebar di negara-negara Asia, seperti: Singapura, Malaysia, Thailand dan China. Penyediaan ruang berkarya juga dilakukan melalui kolaborasi dengan pihak swasta dan pemerintah agar tercipta ekosistem ekonomi kreatif yang dapat mendukung perkembangan industri seni rupa tanah air, pertumbuhan ekonomi Indonesia serta keberlangsungan generasi penerus bangsa yang berbudaya,” ungkap salah satu panitia penyelenggara UOB POY 2018 Indonesia, Nadya Siregar (External Communications – Strategic Communications & Customer Advocacy Bank UOB Indonesia) melalui alamat surel, Jumat (19/10) pagi.

Sekarang kita simak anugerah seni rupa kontemporer yang bergengsi di Indonesia dan diselenggarakan di Bandung oleh ARTSociates. Kehadiran BaCAA pada awalnya bisa dikata dipandang sebelah mata, karena dianggap tendensi pasarnya terlalu kuat. Hal ini tentunya merubah cara pandang dan medan seni rupa Bandung yang dikembangkan oleh seniman-seniman pendahulunya sebelum angatan 90-an. BaCAA dan seni rupa Bandung kemudian menjadi medan seni yang dipandang penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. BaCAA menjadi flatform bagi seniman muda untuk mengembangkan karirinya secara profesional. Kemudian, alumni-alumni pemenang BaCAA menunjukkan karir senimannya yang cukup menarik di Asia Pasifik. Beberapa di antaranya sudah lazim diundang dalam kegiatan Biennale hingga Art Fair bergengsi.

Anissa Dermawan Kunaefi “Camouflage ‘Flackterns'”. 200 cm x 100 cm, cat minyak pada kanvas. SILVER Award UOB POY 2018 (New Emerging Artist category), tingkat nasional, Indonesia. FOTO: image courtesy of UOB Indonesia.

Ada pertanyaan menarik, mengapa BaCAA bisa sustain tanpa bantuan dari pemerintah? Andonowati menjelaskan beberapa hal, yaitu, pemenang BaCAA memiliki standard kualitas (konteks dan eksekusi) karya yang bagus; hal pertama ditempuh dengan cara memilih anggota Dewan Juri dari semua stake-holders medan seni yang mumpuni, kedua, mengakibatkan adanya pengakuan publik seni akan kualitas pemenang BaCAA. Pengakuan ini memberikan pemahaman bahwa pada dasarnya pemenang BaCAA berpotensi untuk di-manage secara profesional. Selanjutnya, BaCAA layak untuk dijadikan platform untuk memilih seniman yang memiliki peluang lebih untuk berhasil. Keberhasilan ini bersifat long term dan memberikan return of investment.

ARTSociates benar-benar ingin memposisikan karya-karya seni rupa kontemporer Indonesia dalam lintasan utama di dunia seni rupa global. Oleh sebab itu, BaCAA sebagai platform seni rupa kontemporer Indonesia terus diselenggarakan untuk menopang karir seniman-seniman muda Indonesia di medan seni yang super pertamax turbo itu.

“Harapan ARTSociates terhadap seni rupa kontemporer dan seniman-seniman muda antara lain management profesional, pengakuan internasional atas karya seni rupa kontemporer Indonesia, seminan muda tidak terlalu ingin cepat berhasil secara financial. Karena keberhasilan itu sebuah proses,” papar Andonowati, Direktur ARTSociates, di Lawangwangi Creative Space, Bandung, Jumat (19/10) petang.

Alif Edi Irmawan “Dongeng Tanah Surga”. 110 cm x 130 cm, tinta pada kanvas. BRONZE Award UOB POY 2018 (New Emerging Artist category), tingkat nasional, Indonesia. FOTO: image courtesy of UOB Indonesia

Dalam hal ini, artspace Indonesia berkepentingan dalam hal distribusi pengetahuan kepada seniman-seniman muda di luar kota-kota yang menjadi pusat perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Tentu saja, kita tidak bisa membebani para Dewan Juri untuk memilih karya yang benar-benar fresh – meski kebaruan disangsikan dalam seni rupa kontemporer pada akhirnya – memiliki konten yang menarik dalam konteks medan tertentu dan berbasis riset faktual untuk menghubungkan diri seniman dengan persoalan di lingkungannya.

artspace Indonesia meminta pandangan mengenai kehadiran Art Awards kepada salah satu kolektor seni yang berpengaruh di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Dr. Wiyu Wahono. Salah satu pengusaha sukses yang memiliki ruang koleksi private yang berisi karya-karya seni rupa kontemporer dari seluruh dunia. Art Award yang mana saja yang baik untuk seniman-seniman muda?

“Semua art awards baik untuk seniman muda. Di jaman sekarang, seniman muda harus mencari jalan untuk menampilkan diri (supaya kelihatan) oleh audience. Dengan ikut kompetisi seni, jika mereka menang, maka namanya akan dikenal,” kata Wiyu Wahono, contemporary art collector, salah satu Dewan Juri UOB POY 2018 dan Dewan Juri Bandung Contemporary Art Award (BaCAA).

Wiyu Wahono memandang positif kehadiran Art Awards juga berperan dalam karir seorang seniman. Namun demikian kontribusi sebuah Art Award dapat dilihat melalui parameter eksistensi seniman-seniman yang pernah memenangkan anugerah itu, selain penyelenggaraan sebuah Art Award sebaiknya memang sustainable dan dikenal oleh stake-holders seni di dunia.

Etza Meisyara di antara karya-karyanya dalam pameran tunggal “PASSING BY” di Lawangwangi Creative Space, Bandung, 26 Juli 2018. Etza Meisyara adalah salah satu pemenang anugerah BaCAA#5 2017. FOTO: artspaceID.

“Salah satu tolak ukur suksesnya satu art award adalah jika seniman-seniman yang pernah menang menjadi seniman sukses. Karyanya dikoleksi oleh museum, koleksi korporasi dan koleksi private. Art award organizer harus terus berusaha untuk mencapai tujuan ini. Otherwise, dana dan energy yang dikeluarkan tidak bisa dibenarkan. Otomatis menjadi tidak sustainable,” lanjut Wiyu Wahono melalui aplikasi Whatsapp kepada artspace Indonesia, Jumat (19/10) siang.

Kita membutuhkan kompetisi seni rupa dan Award yang lebih banyak lagi dengan kualifikasi dewan juri yang lebih matang dalam pengetahuan estetiknya, objektifitas pada hal-hal baru – bukan derrivative art atau karya-karya hasil modifikasi dari karya yang sudah diperoduksi oleh seniman yang sudah mapan, berani mengoreksi selera pasar yang dianggap status quo pada selera yang lebih baik, dan lain-lain.

Terakhir, adalah kompetisi seni atau Art Award yang sustainable, sehingga seniman-seniman muda dengan beragam latar belakang dan perbedaan wawasan juga pengalaman dalam praktik seni dapat terakomodasi. Sehingga terwujud keadilan dalam kebebasan berekspresi di dalam karya masing-masing. Mari kita ramaikan kompetisi-kompetisi seni yang baru agar seniman-seniman muda punya banyak pilihan untuk menguji mental dan pencapaian artistik karya-karya mereka.[]

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *