Kertas dan Rupa-rupa Gambar Ugeng T. Moetidjo

Ugeng T. Moetidjo untuk pertama kalinya memperlihatkan gagasan dan visual karyanya ke publik melalui pameran berjuluk “Gambaur” 13 Oktober- 5 November 2018 di Galerikertas, Studio Hanafi.

Gambaur adalah gabungan yang seasiknya dari kata gambar dan baur, yang diartikan sebagai gambar yang baur atau cukup- gambar baur- saja.

Pameran tunggal dari perupa kali ini terbilang menarik, Ugeng T. Moetidjo untuk pertama kalinya memperlihatkan gagasan dan visual karyanya ke publik melalui pameran berjuluk “Gambaur” 13 Oktober- 5 November 2018 di Galerikertas, Studio Hanafi.

Ugeng T. Moetidjo dikenal sebagai penulis dan peneliti seni. Ia pernah mengenyam pendidikan seni murni di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pada pameran tunggal pertamanya, ia mengambil gagasan gambaur, istilah yang dibuatnya sendiri untuk gambar dan baur.

“Gambaur terdiri dari rupa-rupa gambar: yang ini dan yang itu; yang begini dan yang begitu. Tapi, prinsip dasar medianya adalah pada kertas, terserah ragam jenisnya” ungkap Ugeng.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa gambar-gambar yang dikerjakan secara manual oleh tangan pengarya diniscaya sebagai gambaran personal, sementara gambar-gambar atau sesuatu gambaran yang diproduksi melalui mesin dianggap sebagai hasil kerja non- emosional. Padahal, gambar-gambar dari produk industry terhubung dengan banyak orang karena guna dan mekanisme sensibiltas yang dimunculkannya.

Cecil Mariani, desainer grafis secara khusus menuliskan catatan pameran dalam mengapresiasi karya-karya Ugeng. Menurutnya gambaur oleh Ugeng T. Moetidjo adalah reka permainan mengurai-sandikan rangkaian pengalaman realitas di kota hingga pengasingannya di peristiwa pameran.

“Judul ini sebuah karya yang harusnya paling kentara di ujung tombak pameran, namun di praktik-praktik pameran pada umumnya sering dianggap non-karya atau tak langsung kentara sebagai karya’. gambaur adalah judul sekaligus salah satu perkakas cerap kita untuk menemukan ragam permainan yang Ugeng dan yang non-Ugeng di antara agen benda-benda, agen subjek, agen makna maupun agen pengalaman dan agen loakan majalah dan kemasan” tuturnya.

Gambaur merupakan pameran ke-tujuh yang berlangsung di galerikertas studiohanafi. Heru Joni Putra, kurator Galerikertas melihat modus tentang “pembauran” tidak sekadar mengutak-ngatik beberapa potong gambar menjadi satu ikatan visual saja, selain penggunaan kertas bekas produksi industry tertentu yang digunakan Ugeng sebagai salah satu medium karyanya.

“Ada bentuk yang berbaur, sifat yang bercampur, atau corak yang bersatupadu. Dengan begitu, gambar-gambar tersebut memberikan kepada kita pembauran yang sesungguhnya tidak sesederhana sebagai terlihat sekilas,” jelas Heru.

Tema pembauran ini akan dipamerkan selama satu bulan di Galerikertas sampai dengan 5 November 2018. Seperti halnya Ugo Untoro, Farhan Siki dan Fiametta Gabriela, Ugeng akan memilih juga Perupa Muda yang akan berkolaborasi pada November mendatang. []

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *