Urgent! Seniman Butuh Purpose Build di Kota Bandung

Insan kreatif dan seniman-seniman dari Bali, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta menyajikan karya terbaiknya di Gedung PGN, Jalan Braga 40, kota Bandung dari tanggal 14 – 23 Desember 2018. FOTO: artspace Indonesia.

Setelah lama dibincangkan penyelenggarakaan sebuah pameran besar seni rupa di kota Bandung. Sebuah medan seni rupa paling penting di Indonesia, bahkan Asia Tenggara, gelaran pameran besar yang melibatkan seniman dan craft-desainer lintas generasi pun dilaksanakan di Gedung PGN (Perusahaan Gas Negara) di Jalan Braga 40 Kota Bandung pada tanggal 15 – 23 Desember 2018. Art fair hibrid yang diberi tajuk “Art_Unltd: XYZ” 2018 diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia bekerjasama dengan Yayasan ArtSociates Bandung, dengan Tim Artistik yang terdiri dari Asmudjo J. Irianto, Enin Supriyanto, Erawan Karseno dan Totot Indrarto, melibatkan 78 insan kreatif, meliputi seniman lintas generasi dan pelaku industri kreatif dari beberapa daerah di Indonesia.

Lebih dari seratus karya seni rupa berupa lukisan, patung, instalasi seni, drawing, fotografi, video seni, bisa dinikmati oleh masyarakat kota Bandung, wisatawan domestik dan mancanegara di dalam pameran besar Art_Unltd: XYZ 2018 di Jalan Braga, Bandung. Acara pembukaan berlangsung sederhana di ruang pameran Art_Unltd: XYZ yang diresmikan oleh Bapak Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) didamping oleh Joshua P. Simanjuntak (Deputi Pemasaran, Badan Ekonomi Kreatif RI), Kenny Dewi Kaniasari, (Kadisbudpar Kota Bandung) dan Tim Artistik Art_Unltd: XYZ 2018.

“Kehadiran Bekraf membentuk ekosistem yang menunjang pengembangan ekonomi dari 16 subsektor, salah satunya seni rupa, baik di dalam dan luar negeri untuk meningkatkan perekonomian seniman dan lingkungannya,” kata Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.


Insan kreatif dan seniman-seniman dari Bali, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta menyajikan karya terbaiknya di Gedung PGN, Jalan Braga 40, kota Bandung dari tanggal 14 – 23 Desember 2018. FOTO: artspace Indonesia.

Gedung cagar budaya peninggalan pemerintah kolonial Belanda itu berhasil dimodifikasi menjadi ruang pameran bagian dalamnya, tanpa menyentuh arsitektur bersejarah itu. Tim Art Unlimited bekerja keras mewujudkan ruang pameran besar dengan jumlah karya seniman dan craft-designer yang tidak sedikit. Tidak hanya memajang karya saja. Pelaksana program pameran Art_Unltd: XYZ 2018 juga menggelar workshop, demo dan diskusi mengenai praktik seni dan produksi craft-based design dalam kegiatan tersebut.

Para pengunjung pameran serasa mengunjungi sebuah museum seni, karena pameran itu berlangsung di dalam gedung megah karya arsitek Richard Leonard Arnold Schoemaker yang dibangun pada tahun 1919 dengan gaya Art Deco. Karya-karya menggantung pada dinding panel yang dibuat khusus untuk memajang karya, namun tidak mengurangi kemegahan struktur bangunan bersejarah itu. Ya, tentu saja tidak sedikit dana yang dihabiskan oleh Bekraf untuk ‘mendandani’ ruang-ruang di dlam gedung itu hingga menjadi klayak untuk memajang karya-seniman-seniman old master hingga new emerging artists.

“Bandung gudangnya insan kreatif. Seniman, desainer, studio kriya. Seniman-senimannya sudah dikenal secara internasional, sekolah seni paling tua ada di Bandung. Lulusan FSRD-ITB rata-rata 40 orang per tahun. Kita tahu bahwa Yogyakarta memiliki ArtJog yang sudah berjalan sepuluh tahun, banyak seniman Bandung pameran di ArtJog. Bali memiliki Art Bali dan banyak juga seniman Bandung di sana. Kapan sih kita melihat karya Tromarama atau Hartanto di Bandung? Ini persoalannya, makanya galeri pameran publik itu urgent sifatnya di Bandung untuk masyarakat mengenal seniman-senimannya,” ujar Asmudjo J. Irianto, salah satu tim Artistik pameran Art_Unltd: XYZ pada Jumat (14/12) petang di Gedung PGN, Jalan Braga Bandung.

Generasi milenial mengapresiasi pameran Art_Unltd: XYZ di Gedung PGN, Jalan Braga 40, Kota Bandung. FOTO: artspace Indonesia.

Joshua P. Simanjuntak, Deputi Pemasaran Bekraf RI dan Asmudjo J. Irianto dalam konperensi pers yang digelar beberapa jam sebelum pembukaan Art_Unltd: XYZ 2018 diresmikan oleh Kepala Bekraf, Triawan Munaf, menambahkan bahwa Bekraf siap mendukung pembangunan ruang pameran yang purpose build di kota Bandung. Oleh sebab itu pihak pemerintah kota Bandung didorong untuk menyediakan lahan untuk art complex semacam itu itu yang bisa dirancang untuk seniman-seniman muda bisa berpameran dalam rangka mengakses pasarnya. Art complex itu diharapkan terdiri dari ruang pameran, studio craft logam dan kayu untuk workshop bersama masyarakat serta ruang pertemuan seniman dengan calon kolektor seninya.

“Pemerintah kota Bandung perlu mensupport seniman-seniman Bandung dengan memfasilitasi mereka dengan purpose building, sehingga mereka memiliki akses terhadap pasarnya,” kata Joshua P. Simanjuntak di Gedung PGN, Jalan Braga, Bandung, Jumat (14/12) petang.

Joshua P. Simanjuntak juga menambahkan bahwa Bekraf melalui Deputi Infrastruktur di Bekraf dapat membantu pemerintah daerah untuk pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan oleh seniman dan insan kreatif di daerah. Pameran Art Unlimited semacam ini bertujuan untuk mendorong tumbuhnya ekosistem seni rupa di daerah-daerah sehingga pasar seni di daerah itu muncul dan berkembang. Pameran Art_Unltd: XYZ di Bandung merupakan program kedua setelah Art Unlimited pertama di gelar di Jakarta.

pameran Art_Unltd: XYZ menyajikan karya seni rupa kontemporer dari beragam medium dan teknik presentasi karya. FOTO: artspace Indonesia.

Ruang pemaran publik dengan konsep purpose build memang sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi seniman-seniman dan pelaku industri saat ini, karena galeri-galeri untuk pameran seniman-seniman muda khususnya milik private yang notabene memiliki manajemen khusus terkait pilihan jenjang karir seniman yang bisa diakomodasi. Sementara seniman-seniman muda masih harus menunggu jenjang lebih lama untuk mendapatkan kesempatan untuk pameran.

“Pameran Art_Unltd : XYZ ini kesempatan yang langka dan penting ya karena seniman-seniman lintas generasi bisa saling jumpa. Yang biasanya hanya ketemu bila ada pembukaan pameran saja. Dan sebaiknya seniman-seniman kontemporer mesti sering bertemu, karena dengan begitu simulasi kreatif lebih sehat karena banyak ketemuan, interaksi dengan seniman lain,” tambah R.E. Hartanto, salah satu seniman Bandung yang ikut berpameran dalam Art_Unltd: XYZ 2018, di gedung PGN Jalan Braga, Jumat (14/12) petang.

Sejumlah kolektor muda mengapresiasi karya-karya seni rupa di pameran Art_Unltd: XYZ yang diselenggarakan hingga 23 Desember 2018 dan terbuka untuk umum. FOTO: artspace Indonesia.

Asmudjo J. Irianto lebih rinci mengatakan alasan urgency dari kehadiran purpose build yang dibutuhkan oleh seniman, “Kalau tidak ada ruang-ruang di bandung, latihan untuk menjadi berhasilnya tidak jalan. Kebudayaan dan kesenian memang penting, sekota Bandung akan menjadi civilized kalau warga kotanya mencintai kebudayaan dan kesenian, tapi ruangnya mana? Nah ini kan Bekraf sudah menawarkan. masa sih ga ada lahan tidur 2000 meter saja, dan tidak akan dimiliki oleh komunitas atau Bekraf, tapi dipinjamkan oleh pemerintah kota. Berapa sih biayanya? Katakanlah kalau Pemkot mau 10 miliar biaya untuk membangun itu, kan kecil untuk APBD. Cuman tidak usahlah kita minta ke Pemkot, kita minta lahan saja karena Bekraf yang akan membangunnya.”

Tim Kurator Art Unlimited meninjau sebuah demo pembuatan karya menggunakan pecahan kaca dan botol bekas di area Craft Fair, halaman belakang Gedung PGN, Jalan Braga 40, kota Bandung. FOTO: artspace Indonesia.

Hingga saat ini belum ada tanggapan dari pihak pemerintah kota Bandung mengenai fasilitas yang urgent disediakan oleh pihak pemerintah daerah. Meski demikian, kurator Art Unlimited terus bekerja untuk menyiapkan pameran besar seni rupa lebih besar dan lebih baik lagi untuk pertengahan tahun 2019.  

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *