Konservasi Lukisan: Sebuah Upaya Mengabadikan Karya Seni

Oleh Syam Terrajana

Suasana diskusi pada sesi workshop konservasi lukisan, yang diikuti sejumlah pengelola galeri seni di Yogyakarta dan sekitarnya. Berbagi pengetahuan dan pengalaman menangani dan merawat koleksi lukisan. FOTO: Syam Terrajana.

Istilah konservasi dalam pengetahuan seni lukis masih dianggap bidang kerja yang mahal di Indonesia, karena infrastruktur seni rupa Indonesia yang masih tertinggal oleh negara-negara maju – salah satunya adalah ketiadaan museum seni rupa sebagai institusi publik yang di dalamnya terdapat unit kerja konservasi karya seni di bawah seorang kurator seni. Konservasi seni rupa, khususnya seni lukis belum menjadi perhatian publik di Indonesia hingga ini, stake holder seni rupa Indonesia lebih mengenal istilah praktik restorasi karya seni dua dimensi yang bertujuan untuk memperbaiki lukisan yang rusak akibat penyimpanan karya yang kurang baik. Konservasi boleh dibilang merupakan payung besar yang membawahi bidang restorasi. Konservasi menyangkut aktivitas mencegah dan meminimalisir rusaknya sebuah karya seni. Seorang konservator lukisan masih jadi profesi langka di Indonesia. Padahal banyak karya seni dari para maestro seni di tanah air – tak hanya patut dibanggakan – tapi butuh untuk dijaga kualitas materialnya.

Eliza O’ Donnel berdiskusi dengan tim sebelum mengkonservasi, menilai lukisan berdasarkan pemeriksaan visual dari bahan dan teknik. FOTO: Syam Terrajana.
Eliza O’ Donnell ( tengah) berpose diapit dua asistennya yang merupakan pengelola galeri dan mahasiswa seni. Proyek residensi ini salah satunya bertujuan membangun pengetahuan dan pemahaman dan kerjasama interdispliner dengan para pelaku seni. FOTO: Syam Terrajana.
Citra Atas: Penting untuk mencatat setiap obyek dan bagian dalam lukisan yang hendak dikonservasi. Citra Bawah: Seorang asisten konservasi mean bahan yang dibutuhkan untuk mengkonservasi lukisan antara lain kuas, kapas dan cat.
FOTO: Syam Terrajana.
Citra Atas: Seorang asisten konservasi, perlahan membersihkan bingkai lukisan dari kotoran yang menempel. Pembersihan juga dilakukan di bagian belakang lukisan untuk menghilangkan kotoran dan bakteri yang dapat merusak lukisan. Citra Bawah: debu-debu di atas permukaan lukisan dibersihkan dengan menggunakan vakum dan kuas dengan hati-hati. FOTO: Syam Terrajana.
Eliza, (kanan) ditemani dua asistennya, memegang mikroskop digital untuk memeriksa detil lapisan cat lukisan yang dapat teramati lewat layar komputer. Ini adalah salah satu cara memeriksa visual non-invasif untuk mengamati lapisan cat yang rusak, sebelum diperbaiki. FOTO: Syam Terrajana.
Permukaan lukisan diamati dengan menggunakan Mikroskop digital, dimana setiap detil lapisan cat dapat teramati lewat layar komputer. Ini adalah salah satu cara memeriksa visual non-invasif untuk mengamati lapisan cat yang rusak, sebelum diperbaiki.
FOTO: Syam Terrajana.

Terkait hal itu, Project 11, sebuah lembaga asal Australia yang fokus mendukung seniman dan pertukaran seni kontemporer di Asia, bekerja sama dengan Yayasan Rumah Melanie di Indonesia, menyelenggarakan program residensi “Art Conservation Project 2018”. Program ini memilih Eliza O’Donnell, seorang konservator dan peneliti seni. Eliza adalah mahasiswi program Doctoral di Grimwade Centre for Cultural Materials Conservation, Melbourne University. Eliza menempuh pendidikan khusus konservasi lukisan. Penelitiannya fokus pada otentifikasi, pasar seni dan benda-benda budaya di Indonesia. Dia juga pernah menangani koleksi budaya negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

RuangDalam Art house, sebuah ruang seni alternatif berbasis di Yogyakarta, terpilih menjadi fasilitator dalam program ini. Ruang pamer ini “disulap” beberapa saat menjadi semacam laboratorium mini yang tujuan program memperbaiki karya seni lukis yang mulai dimakan usia.  Selama tiga bulan, 5 Maret – 19 Mei 2018, Eliza turut membagi pengetahuannya kepada para seniman, mahasiswa seni, pengelola galeri seni. Eliza memilih lukisan berjudul “Landscaping My Brain”, karya Entang Wiharso, dijadikan objek utama konservasi. Lukisan cat minyak tiga panel berukuran 600 x 97 cm itu dibuat pada 2001 silam, mengalami beberapa kerusakan ringan, berjamur dan berdebu. Lukisan ini merupakan satu dari ribuan koleksi benda seni milik Yayasan Melani, milik dr. Melani Setiawan, seorang pecinta dan kolektor karya seni. Perlakuan konservasi kali ini menggunakan prinsip intervensi minimal pada bagian-bagian yang rusak, untuk menjaga otentisitas karya.

Citra Kiri: permukaan lukisan dibersihkan lagi dengan menggunakan smoke sponge, sponge ini awalnya dikembangkan untuk menghilangkan asap dalam restorasi kebakaran. Konservator kemudian lazim menggunakannya untuk membersihkan debu dan cetakan kering dari lukisan, buku, dan benda. Sayang, sponge ini sukar didapatkan di Indonesia. Citra Kanan: Lapisan kotoran yang menempel di permukaan lukisan berhasil diangkat menggunakan smoke sponge. FOTO: Syam Terrajana.
Debu yang melekat cukup lama di permukaan lukisan, dibersihkan dengan menggunakan kapas halus yang dibentuk seperi cotton bud, perlu ketelitian dan kesabaran dalam pengerjaannya. FOTO: Syam Terrajana.

Konservator lukisan memiliki tugas penting; menjaga  benda seni warisan kebudayaan suatu bangsa, agar dapat dinikmati, diapresiasi dan dipelajari kembali oleh generasi berikutnya. Ars longa,Vita brevis. Hidup itu singkat, seni abadi.(*)

Eliza (tengah) menjelaskan proses konservasi pada peserta workshop konservasi lukisan, yang diikuti sejumlah pengelola galeri seni di Yogyakarta dan sekitarnya. FOTO: Syam Terrajana.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *