Seni Rupa Kontemporer Indonesia dan Pemahaman Publiknya

Andonowati (founder BaCAA), Asmudjo Jono Irianto (art curator, lecture FSRD-ITB), Rizki Ahmad Zaelani (art curator, lecture FSRD-ITB). FOTO: Sunday Screen & Doc. Lawangwangi Creative Space

Pengamatan kami terhadap fenomena dan perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia yang berkembang di Bandung, Jakarta, Majalengka hingga memeriksa praktik seni rupa kontemporer oleh beberapa seniman di Yogyakarta sudah dua dekade dilakukan. Hari ini dapat dinyatakan bahwa praktik seni rupa kontemporer Indonesia mengerucut pada beberapa seniman yang berbasis riset, baik itu terhadap medium seni dan pelbagai persoalan sosial-budaya, humanisme, politik kebudayaan, estetika, dan lain-lain. Hingga kemudian saat ini karya-karya seni rupa kontemporer dari seniman-seniman Indonesia diklaim oleh para kolektor dan kuratornya sudah berada di dalam sirkuit seni rupa kontemporer global.

“Karya seniman-seniman Indonesia saat ini sudah bisa mengikuti perkembangan seni rupa kontemporer di dunia, sudah melampaui kawasan Asia Tenggara,” kata Wiyu Wahono di Bandung, Jumat (22/2) sore.

Namun perlu diketahui juga bahwa perbedaan antara pengetahuan para stake-holder seni rupa kontemporer Indonesia dengan seni rupa kontemporer di dunia secara global itu terletak pada pemahaman mendasar mengenai praktik seni rupa kontemporernya. Para stake-holder dari kalangan elit yang eksis di arus utama seni rupa Indonesia serta apresiator dari masyarakat kelas menengah di Indonesia, khususnya yang berdomisili di Jawa, masih terbilang minim secara kuantitas dan juga pemahaman mereka terhadap wacana dan praktik seni rupa. Pengertian mengenai seni rupa kontemporer yang ada di kalangan para elit kolektor dan pecinta seni di masyarakat kelas menengah Indonesia baru sebatas lukisan dan patung saja. Kehadiran medium-medium yang ditawarkan oleh para senimannya hanya membuat mereka terpukau saja.

Hanya beberapa kolektor dan pecinta seni yang mengikuti perkembangan seni rupa kontemporer global juga yang membaca wacana seni rupa kontemporer yang mau belajar memahami dan mengonsumsi pengertian seni rupa kontemporer. Inilah persoalan lain dari seni rupa kontemporer Indonesia di dalam ekosistemnya yang belum diimbangi dengan keterbatasan infrastruktur utamanya, museum seni rupa kontemporer – sebuah ruang belajar untuk publik dan stake-holder seni rupa kontemporer memproduksi pengetahuan, pemahaman dan pengertian seni rupa kontemporer. Asmudjo Jono Irianto di dalam berbagai forum selalu menegaskan bahwa praktik seni rupa kontemporer di Indonesia sudah ada sejak Cemeti Art Foundation muncul di Yogyakarta pada tahun 1990-an.

Seiring perjalanan waktu di mana perubahan tatanan sosial terjadi yang turut mempengaruhi cara pandang seniman terhadap realitas di dalam rentang waktu mereka membangun karir sebagai seniman, seni rupa kontemporer Indonesia secara konsisten dengan segala keterbatasannya menunjukkan kemajuan yang signifikan. Jejaring institusional antarseniman, lembaga laboran, akademik juga apresiasi pasar menguatkan ekosistem seni rupa Indonesia yang dibangun sejak sebelum kemerdekaan Republik ini. Jatuh bangun politik kekuasaan kelompok tertentu yang mempengaruhi ekonomi nasional turut menggembleng mental para seniman dan pola konsumsi terhadap karya-karya seni rupa kontemporer, ditambah munculnya seniman-seniman muda yang turut meramaikan suasana praktik seni rupa dan geliat daya serap para kolektor baru.

Dalam hal pasar seni, kita masih bisa katakan bahwa kolektor seni rupa yang spesifik mengoleksi karya seni rupa kontemporer masih dapat dihitung dengan jari jumlahnya, dan diharapkan akan terus bertambah kolektor yang mau belajar dan membaca pemahaman seni rupa kontemporer, yaitu para elit kolektor yang bersedia diajak berfikir dengan mengonsumsi wacana dari karya yang diproduksi oleh seniman, khususnya mengenai medium karya yang makin beragam.

Dalam hal ini juga kita tidak bisa membandingkan stake-holder pasar seni rupa kontemporer Indonesia dengan apa yang tengah terjadi di negara-negara yang mencakup kawasan Asia Pasifik. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang perlu menempa dirinya untuk lebih terbuka –persoalan mindset- terhadap perubahan global yang disertai dengan perkembangan pengetahuan seni yang baru untuk mendorong bangsa ini lebih beradab.

Apa itu seni rupa kontemporer di Indonesia? Menjelaskan seni rupa kontemporer di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari praktik seni rupa kontemporer dan karir seniman-senimannya yang terus-menerus mengujicoba metodologi penciptaan karya-karya mereka, serta fundasi wacana seni yang kemudian menentukan penerimaan karya-karyanya di masyarakat.

 

Publik menonton lukisan kontemporer karya Eddy Susanto, alumni pemenang BaCAA, usai acara seremonial pembukaan pameran ASSEMBLAGE sekaligus peluncuran BacAA edisi 6 di Lawangwangi Creative Space, Bandung, Jumat (22/2) malam. FOTO: Sunday Screen & Doc. Lawangwangi Creative Space.

 

“Apa itu seni rupa kontemporer? Apapun yang kemudian ditetapkan seni oleh senimannya. Karya yang masuk ke dalam kompetisi BaCAA sudah terklasifikasikan sesuai dengan perkembangan seni rupa kontemporer. Karena di luar BaCAA, terutama di negara-negara maju, semua sudah dilakukan sebagai sebentuk terobosan dalam seni rupa. Seni rupa memang seni yang paling serakah, film disikat jadi bagian seni rupa, musik dan suara diambil jadi sound art, performance sudah lama menggunakan tubuh, tapi kemudian bagaimana selalu ada tumpang-tindih atau crossing the borders. Nah itu saya rasa resiko paling besar dari BaCAA, tapi di situ sekaligus kesempatan luar biasa BaCAA untuk kemudian memberikan semacam edukasi pada praktik dan paradigma seni rupa kontemporer. Walaupun tidak ada paradigmanya seni rupa kontemporer – juga tidak ada parameternya, pluralisme dan multikulturalisme, selalu ada passion. Passion itu selalu dibawa oleh seniman. Selain market ada peluang unruk edukasi publik,” papar Asmudjo Jono Irinto di Lawangwangi Creative Space, Bandung, 22 Februari 2019.

Praktik seni rupa kontemporer yang dilakukan oleh seniman dapat diamati pada karakter senimana secara personal dan bagaimana pola perlakuan mereka terhadap medium dan eksekusi gagasan artistik dengan kecenderungan pada karya-karya research-based, konsep, konteks dan referensinya. Pada umumnya, praktik seni rupa kontemporer berkembang pesat di kota Bandung dan Jakarta –setelah RuangRupa eksis sebagai pusat laboratorium seni kolektif. Sementara bila dibandingkan antara praktik seni rupa kontemporer dua kota itu dengan daerah lain masih ada kesenjangan pengetahuan dan pemahaman.

Mulanya persoalan ini didorong oleh pemahaman budaya kota yang beragam dan faktor sosial-budayanya, tetapi kemudian hal itu merubah sudut pandang bahwa praktik seni rupa kontemporer di Indonesia berbeda dengan apa yang terjadi di kota-kota besar di dunia. Sebab yang kemudian menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya perkembangan seni rupa kontemporer adalah senimannya sendiri.

Seni rupa kontemporer memungkinkan senimannya menggunakan beragam medium dan material karya yang disesuaikan dengan paradigma perkembangan seni rupa kontemporer yang menjadi referensinya itu terjadi setelah para seniman dan kuratornya meninjau ulang peta seni rupa kontemporer global secara berkala. Sehingga, karya-karya seni rupa kontemporer dapat dikatakan tidak muncul secara tunggal seperti halnya karya-karya seni rupa modern yang bertumpu pada aspek fungsi – form follow function – dan ekspektasi besar pada ekspresi saja.

Karya seni rupa kontemporer, karena sifatnya kontekstual dengan realitas yang diamati oleh senimannya, seringkali muncul di ruang apresiasi dengan pelbagai wacana, diskursus pengetahuan juga referensi estetiknya. Maka, bila kita telaah lebih dalam terlihat beragam aspek turut menentukan, antara lain aspek antropologi, geokultural serta situasi ekonomi masyarakatnya.

Karya seni rupa kontemporer umumnya diproduksi oleh seniman-seniman yang lebih populis. Seniman-seniman yang menggarap karya seni rupa kontemporer di dunia sangat besar jumlahnya. Masing-masing seniman perlu dikenali oleh ekosistem seni rupa untuk mendapatkan posisi politis yang akan menunjang karirnya sebagai seniman kontemporer. Hal itu disebabkan oleh karakter seni rupa kontemporer yang lebih kompleks daripada karya seni modern, ia juga dikenal multikultural, plural, serta melibatkan institusi seni yang mendukung produksi wacana penyerta karyanya sebagai referensi untuk melegitimasi paradigma seni dari karya-karyanya.

Semua stake-holder yang meliputi para kolektor, pecinta seni, kritikus seni, kurator, media massa, institusi seni seperti galeri dan museum serta lembaga akademik yang mencatatkan paradigma seni atas praktik seni rupa kontemporer yang berkembang di zamannya masih berupaya membangun fundasi pengetahuan dasarnya. Catatan-catatan penting itulah yang kemudian dikaji bersama oleh para seniman, kurator, kritik seni juga pelaku pasarnya bersama masyarakat yang mengonsumsinya untuk menetapkan konteks karya seni rupa kontemporer seorang seniman. Kemudian enyebarkan pemahaman atau isme dan pengertiannya untuk selanjutnya menjadi rujukan wacananya, hingga kemudian karya-karya itu dapat dikonsumsi oleh pasar yang khusus ini.

Praktik seni rupa kontemporer yang disertai dengan profil karir senimannya sangat diperhitungkan dalam paradigma seni rupa kontemporer juga pemikiran seni yang ditawarkan melalui karyanya. Pemikiran-pemikiran tentang seni rupa kontemporer sejatinya memang dikonsumsi oleh publik setelah memahami karya-karyanya. Setelah menjadi pengetahuan, ditetapkanlah karya seni rupa kontemporer yang tertentu itu oleh publik sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang beradab. Seni rupa kontemporer memang beresiko tinggi, tetapi kemudian di sanalah tantangan dan passion seni rupa kontemporer diamini bersama-sama dalam konteks membangun peradaban masyarakat yang lebih baik dan intelek.

 

Etza Meisyara, “Melancholia” (2019) Variable Dimension, Sound Installation & Photo Etching on Copper Plate. FOTO: Doc. Lawangwangi Creative Space.

 

Oleh sebab itu pameran di galeri komersial, biennale juga art fair menjadi ruang belajar bersama untuk memelihara pemahaman dan membuat pengertian-pengertian baru mengenai karya seni rupa kontemporer. Seniman produksi pemahaman-pemahaman seni dengan penuh resiko kultural dan ekonomi terus diupayakan melalui pameran-pameran, diskusi dan sharing tentang pengertian seni rupa kontemporer. Dengan demikian, karya seni rupa kontemporer dengan syarat referensialnya mengacu pada paradigma seni – meskipun parameter seni rupa kontemporer Indonesia masih kabur – meskipun masih berjarak dengan publiknya.

Praktik seni rupa kontemporer yang ‘bermain medium’ perlu disertakan penjelasan, selanjutnya membuka ruang interpretasi personal menurut pengalaman apresiatornya. Pengertian seni rupa kontemporer yang bersifat personal di kalangan elit kolektor tentunya akan membuahkan pengetahuan yang akan mendorong kolektor lain di kelas menengah untuk mengonsumsi karya seni rupa kontemporer serta terdorong untuk ikut terlibat dalam perkembangan praktik seni yang dilakukan oleh seniman. Kemudian, seniman juga akan terdorong untuk melakukan eksperimenasi lanjutan untuk menembus batas seni yang lebih menyenangkan.

 

“Di Bandung banyak seniman Bandung seiring diutarakan, lebih konseptual. Pelukis lebih populis di yogyakarta. Bagaimanapun juga membicarakan praktik seni dalam pengertian wacana dan hubungannya dengan art market ini kita bicara karir seniman. Bagaimana karir seniman itu dibuka peluangnya. Seniman-seniman seperti ini agak susah dipahami oleh publik di Indonesia, karena edukasi publik terhadap karya-karya yang lebih konseptual dan lebih eksperimental hampir tidak ada, kecuali di dalam perhelatan Biennale. Tetapi Biennale itu diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Jadi kemudian kesempatan untuk bagaimana publik bisa memahami value dari karya-karya yang lebih konseptual hampir tidak ada. BaCAA ini sebenarnya ideal bila dikaitkan dengan upaya Andonowati dengan me-diversifikasi karya-karya ini ke art market dan hal itu tidak mudah,” kata Asmudjo Jono Irianto.

 

Publik atau apresiator seni rupa kontemporer butuh pemahaman dasar sebelum kemudian membangun pengertian tentang seni rupa kontemporer secara personal, sehingga engagement seni dan publik tertentu itu dengan karya seni rupa kontemporer dapat menunjukkan situasi ekonomi yang seimbang. Seniman dapat secara produktif bereksperimentasi dan kolektor mengonsumsi pengetahuan dengan karya-karyanya.

Bila tidak demikian, maka apresiator akan memiliki kesulitan untuk mengonsumsi karya-karya seni rupa kontemporer. Bagaimana publik bisa ‘ikut bermain’ dengan studio gagasan seniman melalui karya yang dipamerkan bila seniman dan kurator tidak menawarkan sebuah jembatan atau peluang bagi mereka untuk membangun pemahamannya. Misalnya, mengapa karya seni lukis kontemporer tidak menggunakan cat yang lazim digunakan pelukis di atas kanvas dalam pemahaman seni rupa modern?

Mujahidin Nurrahman, “If you’re not there, then you are safe” (2019), 197 x 107 x 23 cm, Paper Handcut, Glass, Mirror, Wood, Paint, LED Lamp. FOTO: Doc. Lawangwangi Creative Space.

Mengapa lukisan tidak menggunakan media kanvas, misalnya, dan lain sebagainya. Lalu misalnya mengapa karya sound art atau video art memiliki nilai yang relatif sejajar dengan patung atau lukisan realis. Oleh sebab itulah praktik seni rupa kontemporer perlu disebarluaskan kepada publik untuk kemudian terjaring komunitas publik tertentu yang berminat mengonsumi pengetahuan baru yang ditawarkan oleh seniman dengan kehadiran kurator yang akan memetakan karya seniman di dalam referensi perkembangan seni rupa kontemporer. Ruang diskursif semacam itu nyatanya perlu diakomodasi oleh para stake-holder seni rupa kontemporer di Indonesia untuk menciptakan iklim yang sehat dan seimbang antara supply dan demand karya seni rupa kontemporer.

Hal tersebut di atas diamini oleh para stake-holder seni rupa kontemporer Indonesia, antara lain, Wiyu Wahono dan beberapa kolektor lainnya, Asmudjo Jono Irianto, Rizki A. Zaelani, Rikrik A. Kusmara, Aminuddin Th. Siregar, Agung Hujatnika (kritik seni, kurator seni rupa sekaligus akademisi di FSRD-ITB) juga Rifky Effendi yang aktif dalam pelbagai pameran di galeri komersial, art fair dan biennale. Bahwa praktik seni rupa kontemporer di Indonesia perlu disosialisasikan kepada publik yang terpelajar.

Metoda edukasi yang mendorong capaian pemahaman publik mengenai seni rupa kontemporer Indonesia yang sudah lebih dari dua dekade ini perlu diujicoba secara berkelanjutan oleh  seniman, kurator, peneliti, penulis kritik di Ruang Rupa, Jakarta. Aktivis seni kolektif di Ruang Rupa, Jakarta, antara lain, Ade Darmawan, Indra Ameng, Reza ‘asung’ Afisina, Julia Sari, Mirwan Andan, Ajeng Nurul Aini, Daniela Fitria, Farid Rakun, Iswanto Hartono, Narpati Awangga, Mirwan Andan, sudah sedemikian rupa menyebarkan pemahaman seni rupa kontemporer menggunakan beragam cara. Gudskul merupakan strategi mereka paling mutakhir saat ini dengan cara pendidikan informal melibatkan para seniman secara langsung. Gudskul bisa jadi sebuah medium sekaligus metoda komunikasi Ruang Rupa dengan publiknya – dalam upaya mereka mengembangkan praktik seni dan wacana seni rupa kontemporer di Jakarta dan sekitarnya.

Baru-baru ini Ruang Rupa, salah satu institusi seni rupa non-pemerintah di Jakarta, terpilih sebagai Artistic Director yang akan mengkurasi perhelatan seni rupa paling penting setelah biennale dianggap sudah komersial, yaitu Documenta 15 pada tahun 2022 mendatang. Para aktivis seni rupa kontemporer di Ruang Rupa dianggap berhasil membangun ekosistem seni rupa kontemporer berbasis komunitas laboran di Jakarta dan sekitarnya. Ruang Rupa menandai perkembangan seni rupoa kontemporer dengan medium video di Indonesia melalui Festival O.K. Video di Galeri Nasional Indonesia dan ruang pajang lain di Jakarta. Perhelatan media baru itu kemudian memberikan tanda penting di dalam peta seni rupa kontemporer secara global.

Satu dekade ke depan bisa jadi bahwa perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia makin signifikan di dalam sirkuit seni rupa kontemporer global, disertai dengan jumlah apresiator yang lebih terpelajar untuk penguatan nilai dan ekonomi di dalam ekosistemnya. Saat ini saja karya-karya seni rupa kontemporer Indonesia sudah menetapkan diri sebagai pusat perkembangan seni rupa kontemporer dalam peta seni rupa di kawasan Asia Tenggara. Art scene di Bandung dan Jakarta –setelah kehadiran Ruang Rupa- dianggap paling konsisten mengembangkan praktik seni rupa kontemporer –meski Bandung cenderung konseptual- meliputi wacana dan paradigmanya.

 

Wiyu Wahono adalah kolektor seni rupa kontemporer, salah satu dewan Juri BaCAA dari edisi pertama sampai sekarang. Dia sedang membincangkan wacana seni rupa kontemporer dan senimannya bersama kolektor-kolektor seni lainnya di pameran ASSEMBLAGE di Lawangwangi Creative Space. FOTO: Sunday Screen & Doc. Lawangwangi Creative Space.

 

Perkembangan seni rupa kontemporer yang paling mutakhir saat ini adalah munculnya karya-karya baru dari seniman-seniman muda dengan praktik seni yang secara konsisten didukung oleh penyelenggaraan Bandung Contemporary Art Award (BaCAA) oleh Artsociates di Lawangwangi Creative Space, Bandung, sejak tahun 2010, secara institusional.

Mengapa? Karena BaCAA mengakomodasi paradigma seni rupa kontemporer Indonesia dan praktik seni rupa kontemporer yang berciri khas keragaman medium dan wacananya seiring perkembangan seni rupa kontemporer di dalam lingkup global. Katakan saja praktik seni rupa kontemporer di Indonesia, terutama di Bandung dan Jakarta sudah makin membuktikan kemapanan dalam mengolah bahasa, filsafat dan wacana artistik penyertanya.

 

.“BaCAA dengan namanya sendiri sekarang jadi penanda seni rupa kontemporer Bandung. dilihat dari statistik pesertanya dari luar Bandung makin sedikit. Seniman muda dari Yogyakarta makin berkurang menawarkan wacana karakter kontemporernya, yang banyak masih seniman Bandung dan Jakarta. platform seni rupa kontemporer kemudian mesti bisa dibaca paradigmanya. Asmudjo pernah menjelaskan bahwa “Kontemporer di sini (Bandung) tidak main-main. Kita melihat kontemporer di sini berarti platformnya global. Tidak percaya? Lihat saja buku-buku saya,” terang Rizki Ahmad Zaelani meneruskan pernyataan Asmudjo J. Irianto di Lawangwangi Bistro, komplek Lawangwangi Creative Space, Bandung, Rabu (20/2) malam.

Seni rupa kontemporer yang ada di dalam kompetisi BaCAA, menurut Rizki Ahmad Zaelani, bisa diperbandingkan dengan platform seni rupa kontemporer yang ada di sana – global. Walaupun mungkin berbeda kualitas karya yang diproduksi oleh seniman-seniman alumni BaCAA. Karya-karya yang dipamerkan di Lawangwangi Creative Space, Bandung, saat ini dapat dibincangkan dalam kerangka pengetahuan seni rupa kontemporer dunia.

Bila ada klaim yang berbunyi bahwa karya seni rupa kontemporer yang direkomendasikan oleh para Juri BaCAA diterima oleh publiknya, dianggap masih belum berhasil dalam hal ini, karena pasar seni kontemporer masih belum mendapatkan pemahaman mengenai praktik seni rupa kontemporer dan karya-karya yang ditawarkan seniman. Publik masih membutuhkan asupan pengetahuan yang mumpuni untuk membincangkan itu di tataran common sense. Akan tetapi karya seni rupa kontemporer yang sangat spesifik kemudian harus memilih publiknya, yang intelektual dan mau belajar untuk membuka pemikirannya hingga kemudian menghasilkan sebuah pengertian tentang seni rupa kontemporer itu sendiri.

 

Publik seni, mahasiswa seni, seniman, kolektor mengamati artifak karya Yusuf Ismail a.k.a. Fluxcup usai menonton aksi performatif seniman tersebut di Lawangwangi Creative Space. FOTO: Sunday Screen & Doc. Lawangwangi Creative Space.

 

“Kegagalan itu bukan kesalahan seniman juga. Kegagalan di mana karya dan wacana seni rupa kontemporer tidak diserap oleh pasar sesuai dengan baik. Artinya juri BaCAA itu saya pikir lebih maju daripada kolektor. Ada bedanya dengan Philip Morris Art Award yang diselenggarakan mulai tahun 1991. karena platformnya seni lukis jadi ada kalibrasi yang lebih mudah antara pemenang dan pasar seni. Kita masih ingat waktu itu ketika keluar 100 nama seniman sudah ditunggu oleh galeri,” kata tambah Rizki Ahmad Zaelani.

Rizki Ahmad Zaelani meneruskan bahwa saat inilah satu paradoks dari perkembangan seni rupa. Mungkin persoalan ini bisa dianggap hal yang berlebihan. BaCAA, bagi kurator Galeri Nasional Indonesia, merupakan fenomena yang jauh lebih menunjukkan paradoksnya ketimbang Biennale. Seniman boleh gila-gilaan karyanya dalam Biennale Jakarta, karena namanya juga Biennale. Sementara award ini – BaCAA – memberikan penghargaan dan apresiasi dengan tujuan dia bisa diapresiasi oleh market.

Jelaslah paradoksnya, sementara itu apakah kita pernah menyiapkan market untuk menerima karya yang dikeluarkan dari BaCAA ini?Belum ada lagi selain Andonowati. Kemudian muncul pertanyaan siapa dan sejauh apa pengembangannya? Andonowati sendirilah yang mengembangkan itu dengan mewakili seniman-senimannya. kita bisa bertanya kepada Andonowati, karya siapa yang paling laku? Eddy Susanto jawabannya.

“Sepertinya Andonowati menerima resiko itu. Makanya dia bertahan sampai enam kali menyelenggarakan BaCAA. Dia terus bertahan. Ada idealisasi untuk melihat seni itu secara lebih besar. Bukan hanya sekedar karya yang disukai atau memenuhi selera, tapi justru sampai pengertian. Andonowati sampai bisa sampai ke Korea atau kemana lagi karena orang melihat memang Andonowati memiliki kemampuan untuk itu untuk BaCAA juga. jadi, seni selalu memberikan penjelasan yang tidak langsung. Seperti Sunaryo, lukisannya laku karena Sunaryo memiliki Selasar Sunaryo Art Space atau Putu SutaWijaya dengan Sangkring Art Space-nya. Jadi tidak seluruhnya membuang uang tapi invest, modal kultural itu in rhythm menjadi modal kapital. Itukan salah satu logika. Seperti Museum MACAN misalnya, dia terus membeli karya-karya mahal, karena dia berfikir di dalam banyak segi,” jelas Rizki Ahmad Zaelani.

Asmudjo Jono Irianto juga menjelaskan secara rinci bahwa hal yang menarik dari BaCAA ini dibandingkan dengan kompetisi seni lainnya adalah apapun boleh jadi seni rupa kontemporer. Ada lukisan, video, instalasi, objek, performative. Itulah seni rupa kontemporer. Tetapi kompetisi di luar BaCAA fokus pada seni lukis kontemporer saja. Sedangkan BaCAA konsisten pada karya-karya eksperimental, ekstensif dari kemungkinan seni rupa kontemporer. BaCAA tidak memiliki ketetapan karya seninya, tidak ada tema atau tidak ada parameter dalam proses penjuriannya. Tetapi masing-masing juri BaCAA punya referensi atas paradigma seni rupa kontemporer yang berlangsung di luar.

Apakah BaCAA efektif dalam distribusi pengetahuan seni kontemporer kepada publik? Rizki Ahmad Zaelani mengatakan bahwa BaCAA memang efektif untuk penyebaran pengetahuan itu, tapi untuk memasyarakatkan pengetahuan dan pengertian itu membutuhkan instrumen lainnya. Meskipun demikian BaCAA sudah menjadi satu jalan untuk seniman, sehingga produksi seniman berjalan, tanpa award ini seniman tidak memiliki ruang kompetisi atau lawan tanding. Andonowati, menurut pengamatan Rizki Ahmad Zaelani, sudah mengerjakan pekerjaannya dengan memilihkan seniman terlepas dari orang setuju atau tidak dengan pilihan juri.

“Prinsipnya BaCAA ini memang menempuh jalur paling jauh dari seni rupa kontemporer, yaitu pemahaman,” tambah Rizki Ahmad Zaelani.

Pameran ASSEMBLAGE di Lawangwangi Creative Space mencoba melihat kembali apakah mereka diterima di publik? Atau apakah karya-karya para alumni BaCAA ini akan menjadi referensi seniman muda yang suka ‘bermain dengan medium’ serupa dengan seniornya hingga kemudian menjadi rujukan visual. Jawabannya terang mudah saja, belum sepenuhnya. Seni rupa yang yang diterima di publik dalam pengertian pasar tetap saja nama-nama seperti Ay Tjoe Christine, Handiwirwan Saputra, Agus Suwage, Titarubi dan mungkin masih didominasi oleh daya apresiasi terhadap karya Arin Dwihartanto Sunaryo yang dikelola oleh art dealer muda dengan institusinya, Roh Project di Jakarta.

 

Publik seni belajar memahami karya Erwin Windu Pranata, “Domestic Universe”, yang menyajikan benda-benda pakai berwarna-warni yang akrab ditemui di supermarket. Juga karya lukis di media baru dari seniman perempuan, Patricia Untario berjudul “Thank You Vegetables” [70 x 70 cm (9 pieces, D. 22 cm each) Fused Glass, Vegetable, LED Light Panel, 2019] . FOTO: Sunday Screen & Doc. Lawangwangi Creative Space.

“Kita tidak bisa bilang bahwa award ini tidak bisa mempengaruhi, karena banyak seniman-seniman-seniman kontemporer

muncul dalam recognition pasar seni lewat award BaCAA, hingga bisa masuk ke dalam sirkuit seni rupa kontemporer di Asia Pasifik, misalnya. Hanya saja membandingkan karya-karya itu sebagaimana lukisan itu tidak adil, karena memang seni lukis tidak bisa diperbandingkan,” kata Rizki Ahmad Zaelani. Dalam pemahaman kurator seni rupa kontemporer ini memiliki ciri khas pada perlakuan medium.

Pernyataan di atas juga senada dengan pandangan Asmudjo Jono Irianto, kurator seni rupa kontemporer dan pengajar seni rupa di FSRD-ITB, bahwa seni rupa kontemporer tidak anti-lukisan, tetapi seni lukis dan konteks seni rupa kontemporer harus mengikuti paradigma seni lukis kontemporer yang sedang berlangsung di dunia seni rupa global. Lihat saja berapa banyak seniman yang memproduksi karya seni rupa kontemporer untuk kebutuhan apresiasi di galeri komersial, art fair, biennale dan pameran-pameran karya seni rupa kontemporer di museum-museum seni rupa. Ya, paling dekat adalah pameran karya seniman-seniman alumni BaCAA di Singapre Art Museum, Singapore.

Kemudian kita bincangkan sosok unik di balik penyelenggaraan BaCAA yang kemudian dianggap sebagai institusi seni rupa kontemporer di Indonesia, yaitu Andonowati di Bandung. Rizki Ahmad Zaelani memaparkan bahwa, mungkin Andonowati bisa menjelaskan rumus matematika dengan bahasa Inggris, maka sesuatu yang rumit bisa dia artikulasikan dengan baik.

Jadi untuk dealing dan segala macamnya, Andonowati lebih siap perangkatnya. Menurut saya jadi tidak aneh kenapa kompotesisi kontemporer yang absurd ini, yang susah dibayangkan, dibuat oleh Andonowati. Dia memiliki kemungkinan itu secara modal. Andonowati adalah figur yang seperti kontemporer, tidak begitu di mainstream, jadi punya agenda. Kalau sekali atau dua kali menyelenggarakan kompetisi bisa dibilang hobi mengumpulkan karya dan makin kesini makin susah melakukan itu.

Tools atau instrumen itu tidak dimiliki di kota lain. Instrumen itu berkembang di Jakarta, terutama di Bandung karena dukungan institusi akademik yang mendorong seniman muda untuk keluar dari zona aman dalam praktik seni rupa kontemporer, menuju zona yang penuh resiko, tidak dapat diterka dan serba mungkin juga. Instrumen itu juga berkembang di Jakarta dengan Ruang Rupa sebagai motor penggeraknya, meskipun menyisir sasaran komunitas-komunitas seniman muda yang berafiliasi dengan pemahaman seni rupa kontemporer berbasis laboran, Ruang Rupa.

Beberapa tahun belakangan sempat muncul wacana bahwa seni rupa kontemporer hanya akan berkembang terkait dengan budaya kota. Tetapi wacana itu dipatahkan dengan munculnya Jatiwangi Art Factory yang dimotori oleh Arief Yudi bersama warga desa di desa Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.

 

Agan Harahap, “Mardijker Photo Studio” (2014) Variable Dimensions, Archival pigment ink on paper – Edition 1/3. FOTO: Sunday Screen & Doc. Lawangwangi Creative Space.

“Jadi terlihat bahwa komunitas-komunitas itu seperti labs-labs seniman. Iklim itu di yogyakarta tidak hidup, kalaupun ada sebenarnya MES56 karena berapa kali seniman dari MES56 lolos menjadi finalis BaCAA, misalnya Agan Harahap, Rock The Work, Jim Allen Abel. Jadi, sebenarnya kontemporer itu bukan soal kota, tapi bagaimana mereka bisa toning dengan apa yang terjadi di sirkuit global itu. Identitas itu personal jadinya, bukan lagi kamu orang Bandung atau Yogyakarta atau Jakarta. Personal yang langsung ke praktik seni GogLoc; global dan lokal langsung terhubung jadi satu,” papar Rizki Ahmad Zaelani.

Pameran para alumi –finalis dan pemenang– BaCAA di Lawangwangi Creative Space yang diberi judul ASSEMBLAGE yang sedang berlangsung ini, kemudian dianggap sebuah proyek untuk menunjukkan bahwa peta perkembangan seni rupa kontemporer dengan metodologi praktik seni rupanya yang sudah semutakhir ini. Lalu sejauhmana publik bisa menerima dalam pengertian mengonsumsi karya-karya yang diberi stample oleh BaCAA perlu proses yang sederhana saja sebenarnya.

Kita dapat melihat bagaimana pihak ArtSociates dan para stake-holder yang terlibat di dalam BaCAA sebagai institusi  menawarkan hal yang baru lagi. Publik seni rupa kontemporer itu memang minim, tetapi pengaruhnya boleh jadi besar dan bisa mendorong perubahan paradigma berfikir ketika mengapresiasi karya-karya seni rupa kontemporer dengan kekayaan medium yang beragam dan bersinergi dengan perkembangan teknologi dan sains dalam praktik seni rupa kontemporer.

“Apakah kompetisi ini sudah memberikan bentuk, trademark, atau membuat tanda seperti apa yang dihasilkan oleh para senimannya? Saya kira dalam hal itu mereka sudah cukup berhasil. Kita tidak bisa menyebut bentuk itu satu titik, tapi satu bentuk ada yang ke sana dan ke situ, ke sini, sebab dicoba pada beragam medium di sini; ada karya video seni, instalasi, macam-macam, termasuk film pendek seperti karya Anggun Priambodo. Itu juga range terakhir dari perkembangan seni rupa sampai ke film dan nature mereka itu bukan pameran tapi festival film. Sekarang kita hidup di dalam istilah genealogi seni yang baru di mana seni kontemporer itu membangun ekosistemnya yang mungkin juga baru. Lalu orang mempertanyakan apakah BaCAA menghasilkan paradigma? Untuk menjawab hal itu bukan tugasnya kompetisi. Itu tugas kampus seni, akademisi. BaCAA hanya menunjukan apa yang sudah dihasilkan oleh lingkungannya dan FSRD-ITB mendapat keuntungan besar dari BaCAA, karena ada sample-nya, ada target juga. Kita sama-sama mengikuti perkembangan siapa saja yang mengikuti kompetisi ini. Faktanya, mahasiswa pascasarjana FSRD-ITB banyak yang mengikutsertakan karya-karya tugas pascasarjananya ke dalam kompetisi ini,” terang Rizki Ahmad Zaelani.

Kompetisi seni rupa kontemporer dipandang seperti satu bagian dari ekosistem seni rupa kontemporer. Kita bisa melihat bahwa produksi itu berjalan –seniman memiliki keleluasaan untuk berkarya secara berkelanjutan, dan mediasi dilakukan oleh Andonowati dengan pameran, kemudian dengan kontrak beberapa seniman, hanya saja konsusminya memang masih lemah. Untuk meningkatkan tingkat apresiasi atau serapan di pasar dibutuhkan sesuatu yang tidak ada di sini yaitu, jurnal yang dapat dibaca oleh seluruh stake-holder seni dan masyarakat luas yang tertentu itu.

Octora “Matahari Hitam” (2017) 3:55 minutes (Performance Documentation) and artifacts. FOTO: Doc. Lawangwangi Creative Space.

“Kalau sudah ada jurnal, habit membacanya bagiamana? Kebiasaan belajarnya yang masih kurang dari umumnya masyarakat. Di ITB sendiri belum ada jurnal seni. FSRD-ITB akan membuat jurnal penciptaan karya, bukan kajian karya. Mungkin ada kajian tetapi dikaitkan dengan senimannya. Susah menariknya secara tegas. Karena belum ada penulisan jurnal seni, yang ada hanya pembacaan terhadap perkembangan saja atau umum saja. Kalaupun ada majalah-majalah kajian, masih sebatas kontekstualisasi penciptaan – belum ada struktur pewacanaannya,” tambah Rizki Ahmad Zaelani.

Kemudian apa yang sebenarnya terjadi di dalam praktik konsumsi seni rupa Indonesia saat ini? Gambarkan seni rupa Indonesia saat ini seperti halnya suburnya ormas berlatar agama atau ideologi. Masing-masing kelompok itu memiliki eksistem tersendiri yang membuat mereka terus berjalan dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

“Di sisi lain seni rupa Indonesia itu unik. Ada satu hal yang khas, yaitu teori reputasi –-popularitas—yang tidak terjadi di negara lain. Jadinya tidak secara otomatis dia menceritakan bagaimana seniman itu mengembangkan karyanya, jadi bagaimana seniman dan karyanya dengan berbagai artikulasi diterima atau diserap oleh pasar. Seniman dan karyanya dibuat ranking-nya. Hal itu tidak ada di tempat lain. Itu yang membuat karya-karya yang laku atau diserap oleh pasar belum tentu karya yang bagus,” tegas Rizki Ahmad Zaelani.

Kemudian, apakah media sosial yang sudah mulai menjadi sarana mengenalkan seniman dan karyanya sudah efektif di Indonesia? Kiranya belum sampai ke habit itu, karena para kolektor dan pecinta seni di Indonesia masih menggunakan budaya tatap muka. Kolektor dan pecinta seni dianggap harus dekat dengan senimannya, tanpa harus memiliki kapasitas untuk memahami praktik seni rupa yang dilakukan oleh seniman, penting kiranya hubungan sosial mereka aktif.

Sehingga revolusi sistem komunikasi menggunakan Instagram belum efektif dalam ekosistem seni rupa Indonesia. Hanya satu atau dua fenomena yang muncul terkait dengan metoda para kolektor muda mengonsumsi karya seni rupa melalui Instagram. Facebook masih dominan menjadi galeri maya untuk para pelaku insdustri kreatif menajalankan roda ekonominya melalui situs jejaring sosial itu. Rizki Ahmad Zaelani melihat efektifitas jejaring media sosial pun sebagai dampak dari teori reputasi atau popularitas tadi.

Kembali ke persoalan sebaran pemahaman praktik seni kontemporer yang belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat, hal itu disebabkan oleh sifat dari karya dan wacana seni kontemporer itu sendiri memang diskriminatif.

“Karena seni memang diskriminatif. Kamu boleh kaya tapi kalau selera terhadap karya seni belum tentu. Jadi kalau menganggap seni harus adil bukan seni lagi. Seni rupa kontemporer diskriminatif dalam sisi pengetahuan. Artinya bahwa karya seni rupa kontemporer itu wacana yang menentukan, sementara wacana seni bukan kebutuhan semua orang. Pemerataan ini dalam pengertian ini adalah kemungkinan perluasan yang bisa dijangkau oleh orang yang membutuhkannya yaitu kaum terpelajar. Jadi seni rupa kontemporer itu tidak mungkin tidak didukung oleh masyarakat terpelajar. Praktik seni rupa kontemporer sangat luas, ia bisa menyentuh banyak kecenderungan, tema, medium, scientific, sosial, politik, komunal,” kata Rizki Ahmad Zaelani.

Anggun Priambodo memamerkan karya film pendek berjudul “Maaf Senin Tutup” (2018) 56 minutes, Video Digital – Edition 1/3. Film pendek garapannya menceritakan kehidupan seorang seniman kontemporer saat ini dalam sebuah masyarakat yang masih berjarak pngetahuan dan pemahamnnya mengenai seni rupa kontemporer. FOTO: Sunday Screen & Doc. Lawangwangi Creative Space.

 

Di antara sekian persoalan nasional mengenai seni rupa kontemporer Indonesia. Kota yang banyak senimanya berkontribusi di beberapa perhelatan art fair, biennale dan pameran-pameran seni rupa kontemporer di Indonesia dan internasional, nyatanya masih kurang dikenal oleh masyarakat kotanya. Mereka hidup secara individualis dan sulit menjadi komunal seperti yang terjadi di Yogyakarta.

Dua dekade seni rupa kontemporer Indonesia berkembang cukup signifikan menimbulkan pertanyaan yang selalu muncul di setiap satu dekade perubahannya, yaitu museum publik yang dibuat oleh pemerintah sebagai sarana publik mempelajari karya-karya seni rupa modern dan seni rupa kontemporer karya seniman Indonesia dan karya seniman lain yang sudah menjadi rujukan jadi sedertan daftar koleksi museum. Sementara museum-museum private yang belakangan bermunculan di kota besar dan kota kecil di Jawa masih terlihat bias art market ketimbang sarana pendidikan masyarakat luas dan masyarakat khusus, kolektor dan pecinta seni.

Pemerintah pusat dan daerah sudah selayaknya mempertimbangkan pembangunan infrastruktur seni rupa Indonesia bersamaan pembangunan infrastruktur ekonomi masyarakat, sebab iklim industri kreatif makin berkembang pesat. Seniman-seniman lulusan institusi formal terus bertambah setiap tahun, dan pecinta seni juga makin banyak. Sementara  fasilitas publik untuk belajar mengenai seni rupa masih sangat memprihatinkan, sehingga kesenjangan pengetahuan, pemahaman dan pengertian seni terus terjadi.

Kontribusi masyarakat pecinta seni terhadap pengembangan karya seni rupa kontemporer sudah tidak wajar ketimbang kontribusi pemerintah dalam mengakomodasi kebutuhan masyarakat terhadap karya seni yang menjadi simbol peradaban bangsanya. Tidak wajar sebab nilai pajak yang disumbangkan stake-holder seni rupa sejatinya dikonversi menjadi fasilitas publik untuk publik menjadi lebih terpelajar dalam memandang sebuah karya seni sebagai bagian dari kebutuhan hidup masyarakat Indonesia.***

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *