Membaca Mural di Kota Singkawang

Sejumlah seniman muda adu kreatif di dinding belakang Hotel Grand Mandarin Singkawang. Mereka membuat lukisan yang menyampaikan beragam pesan moral dan kritik sosial.

Mural di kota Singkawang

Mural atau lukisan dinding memang menjadi saluran ekspresi paling populer di kota Singkawang. Pelakunya rata-rata anak muda. Mulai dari anak-anak sekolah hingga orang dewasa. Tidak sedikit pula komunitas kreatif di Singkawang menjadikan mural sebagai salah satu cara untuk meramaikan kegiatan. Karya-karya seniman muda Singkawang dapat kita jumpai di dinding rumah-pertokoan, hotel, warung kopi, café, mall, dan sekolah.

Mengapa mural menjadi saluran ekspresi paling popular di Singkawang?

Jawabannya sederhana. (1) Egaliter, bahwa setiap orang dapat berpartisipasi membuat mural tanpa harus canggung lukisannya dinilai jelek. (2) Teamwork, membuat karya mural selalu dengan cara bersama. Baik dalam pembiayaan membeli cat hingga merawat karya. (3) Sponsor, selalu ada program dari pemerintah, pihak-pihak swasta, dan komunitas yang mendukung kegiatan mural di Singkawang.

(4) Keterlibatan publik, respon publik terhadap karya-karya mural selalu positif. (5) Aktualisasi, anak muda yang memiliki minat seni rupa mendapatkan ruang mengeskpresikan dirinya dan berbagi gagasan di hadapan publik secara langsung. (6) Lomba dan jamming, hadirnya kegiatan rutin berupa lomba dan jamming telah menghidupkan ekosistem mural di kalangan anak muda di Singkawang.

Secara keseluruhan mural di Singkawang bercerita tentang kehidupan sosial di kota Singkawang. Tentunya masih berkutat pada isu kota multi etnis, kota toleransi, keberagaman, nasionalisme, lingkungan, serta fenomena sosial di lingkungan anak muda yang terpapar teknologi media. Sebenarnya, isu-isu seperti kota toleransi ini dapat kita jumpai pada spanduk-spanduk kegiatan Pemerintah Kota Singkawang.

Salah satu karya mural yang menarik perhatian saya adalah karya Yoyok Komik, seorang seniman yang banyak membuat karya karikatur dan komik. Dua karya mural Yoyok menyoal isu lingkungan.

Yoyok Komik

Yoyok membuat sebuah ilustrasi tentang pentingnya menjaga kebersihan Sungai Singkawang. Bagi Yoyok, orang yang membuang sampah sembarangan ke sungai lebih dari seekor babi. Penyampaian pesan atau pola komunikasi publik Yoyok lewat mural memang berasa lebih lugas dan keras.

Pada karya sebelumnya, Yoyok mengilustrasikan seseorang yang sering membuang sampah ke sungai namun ketika banjir datang, orang itu lantas menyalahkan pemerintah.

Soal sungai ini memang jadi problem serius kota Singkawang. Kondisinya tidak pernah bersih. Mulai dari area pasar, pertokoan, hingga permukiman warga di daerah kuala Singkawang, sampah menghias sungai. Ketidakpedulian terhadap lingkungan di Singkawang memprihatinkan. Bikin jengkel.

Seniman seperti Yoyok tidak bisa lagi berbasa-basi. Maka teks “babi”, nama binatang yang sering dijadikan umpatan atau ungkapan kekesalan menjadi bahasa yang paling pas untuk menggambarkan betapa bebalnya orang-orang yang masih membuang sampah sembarangan.

Romel Deni Andy Satria (Omeng)

Berikutnya adalah karya Romel Deni Andy Satria alias Omeng yang menyoal kehidupan sosial anak muda yang tersandera media sosial. Omeng mengganti wajah dengan sebuah tampilan layar smartphone. Mural ini menunjukkan kepada kita bahwa wajah manusia tak sepenuhnya asli di media sosial. Sebuah wajah dengan pencitraan tanpa batas.

Selanjutnya mural karya Roy Marendra, seniman yang juga seorang guru SMP. Roy lebih fokus bagaimana membuat bentuk dan warna-warni mural. Karyanya lebih ekspresif. Tentu karya-karya ini tidak perlu kita paksakan dengan konteks sosial.

Roy Marendra

Penyampaian gagasan Yoyok, Omeng, dan Roy berbeda. Yoyok dengan latar belakang pembuat komik, merasa kehadiran teks sama pentingnya dengan kehadiran gambar. Sementara Omeng dengan latar belakang dotting art, merasa cukup dengan visual yang digambarnya. Sehingga tak perlu lagi menggunakan teks atau kata-kata penegasan untuk mendukung mural.

Dan Roy pula membiarkan publik bebas mengartikan karya mural buatannya.

Lomba Mural

Lomba mural yang digelar oleh Oplosan Komunitas Kreatif Singkawang (Okkas), 13-14 April 2019 adalah satu dari sekian banyak event komunitas di Singkawang yang mempertemukan para seniman mural di Kalimantan Barat. Setidaknya dalam Singkawang Mural Competition 2019 ada seniman asal Pontianak, Seluas, dan Sambas yang turut berpartisipasi.

Para seniman tidak hanya mengejar hadiah. Lewat lomba mereka saling bertukar informasi, saling berbagi teknik menggambar, dan merancang proyek-proyek seni mandiri.

Jika ekosistem ini sudah tumbuh kuat, tidak menutup kemungkinan seniman-seniman luar negara seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan negara lainnya, mulai melirik dinding-dinding kota Singkawang.

Semoga ada karya mural yang subversif! []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *