LOOK // AFTER: Membaca Citra Secara Kritis atau Mengonsumsi Citraan Hoax Pameran Tunggal Deden Hendan Durahman di Orbital Dago Gallery

Deden Hendan Durahman (2019), LOOK//AFTER; Landscape #1, ultrachrome print on cotton canvas, 120 cm x 200 cm, 2019. Edition 1/3.

Masyarakat Indonesia saat ini tengah diserbu oleh kelompok-kelompok yang berupaya memecah-belah bangsa secara politis dengan menyebarkan citraan dan informasi yang sebenarnya adalah hoax melalui kanal-kanal informasi, baik dari laman daring, media sosial juga aplikasi percakapan yang dapat langsung dikonsumsi oleh setiap warga negara Indonesia di ruang private mereka masing-masing.

Situasi demikian membuat peradaban bangsa Indonesia mundur ke masyarakat yang kurang beradab, dan memposisikan kita untuk berjarak dengan kanal-kanal sumber informasi yang sudah terverifikasi oleh sistem kerja jurnalistik. Kemudian, persoalan hoax ini menjadi krusial diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, yang selanjutnya muncul pertanyaan, bagaimana cara kita melihat informasi yang benar? Apakah masih ada kebenaran yang bisa kita yakini? Bagaimana kemudian bila realitas yang ada dihadapan kita bukan yang sebenarnya? Apakah apa yang kita lihat benar-benar sebuah fakta, atau kebenaran? Realitas yang benar itu ada di manakah? 

Pertanyaan-pertanyaan serupa di atas, terkait dengan suburnya penyebaran hoax dari kelompok yang berkepentingan secara politis, juga kentara pada masyarakat seni rupa kontemporer. Terlebih pada karya-karya yang diproduksi dengan sistem digital maupun analogue sekalipun. Apakah karya berupa citraan yang sudah dicetak di atas media tertentu merupakan realitas yang ‘diambil’ seniman? Bagaimana bila karya fotografi yang dipamerkan seorang seniman adalah realitas atau kenyataan yang sebenarnya? Apakah pecinta seni atau pengunjung pameran menerima karya itu sebagai kenyataan atau kebenaran yang disajikan oleh seniman di ruang pameran?

Deden Hendan Durahman (2019), LOOK//AFTER; Landscape #2, ultrachrome print on cotton canvas, 120 cm x 200 cm, 2019. Edition 1/3.

Hari ini, kita sebagai kelompok kecil masyarakat yang terdidik, mau tidak mau harus menggunakan lebih banyak lagi akal sehat, logika, dan bahkan skeptis terhadap kenyataan yang kita lihat di hadapan kita dan yang muncul di sekitar kita. Apakah itu kenyataan atau itu memang benar-benar terjadi di dalam kehidupan kita? Dan situasi faktual dari keseharian kita dan persoalan tentang realitas yang kita hadapi sehari-hari, rupanya, menjadi salah satu pokok soal di dalam karya-karya fotografis dari Deden Hendan Durahman pada pameran tunggalnya yang bertajuk LOOK // AFTER di Orbital Dago Gallery, Jalan Rancakendal Luhur No. 7 Bandung, Jawa Barat, yang berlangsung pada tanggal 16 – 28 Juni 2019.

Aminudin T.H. Siregar (2019) dari Leiden, memberi catatan mengenai karya Deden Hendan Durahman untuk pameran ini, bahwa

 

“Lingkup karya fotografinya adalah gejolak sosial-politik dan budaya yang sedang melanda Indonesia saat ini. Dinamika ini tentunya juga berlaku secara global. Dalam hal ini, memproduksi kebohongan melalui berbagai citraan, sedang dihadapi bangsa Indonesia ibarat kanker yang akut. Dalam budaya visual sekarang, orang-orang tidak bisa lagi menyaring mana realita yang diciptakan melalui kebohongan dan mana yang tidak. Melalui proyek fotografi LOOK // AFTER, Durahman setidaknya ingin menyampaikan fenomena ini. Ia menawarkan suatu kepada kita untuk merefleksi makna kebenaran dalam bayang – bayang kebohongan di era ‘pasca kebenaran’. Seperti yang ia (seniman –Red) kemukakan untuk proyek ini, ‘budaya visual dalam ruang siber harus dikritik karena itu mengasingkan kita dari kebenaran – meski ia hanyalah konstruksi.”

 

Ulasan ini, selanjutnya, merupakan salah satu upaya dari penulis untuk membincangkan karya-karya Deden Hendan Durahman yang paling anyar ini, terkait dengan situasi kritis masyarakat Indonesia saat ini, dalam konteks karya seni rupa kontemporer. Situasi sosial yang masih faktual ini justru jadi konstruksi pemikiran yang tengah dipertimbangkan oleh Deden Hendan Durahman, seorang seniman berbasis fotografi sekaligus pengajar di FSRD-ITB sejak tahun 1997, di dalam 6 (enam) karya terbarunya, yang mana ia menggunakan foto lanskap alam dari Eropa dan Timur Tengah, sebagai bentuk simulasi telaah kritis atas realitas yang dicerna oleh indera penglihatan kita pada kali pertama – sebelum menjadi pengalaman personal atau pengetahuan umum.

Deden Hendan Durahman (2019), LOOK//AFTER; Landscape #3, ultrachrome print on cotton canvas, 120 cm x 200 cm, 2019. Edition 1/3.

LOOK // AFTER. Dua kata yang sebetulnya memberi semacam guidance kepada penikmat seni dalam melihat realitas yang dihadapi –dalam konteks karya seni rupa berbasis fotografi digital yang dipamerkan di galeri tersebut di atas. 

Lihat. Selanjutnya bagaimana? Tahapan ini sebenarnya aktifitas keseharian manusia di manapun, di mana jutaan realitas tentang diri mereka sendiri juga masyarakat di mana mereka hidup serta lingkungan alam yang mereka tempati, ditambah realitas-realitas yang ‘dihantarkan’ kepada setiap individu melalui perangkat komunikasi berbasis daring yang terus berevolusi –smartphone, personal computer, iPad, dll., juga surat kabar, majalah, billboard dan poster iklan produk atau layanan masyarakat di suatu tempat. Enam citraan yang dihasilkan dari olah digital –computerized system, dan dicetak menggunakan ultrachrome print on cotton canvas, berukuran 120 cm x 200 cm itu, kini menjadi sebuah ruang simulacrum -ruang pertemuan pelbagai unsur dari berbagai sumber yang sudah tidak asli- yang mengundang penikmat seni atau pemirsanya agar melihat realitas pada karya-karyanya secara lebih kritis dan skeptis. Lalu, muncul pertanyaan; bagaimana enam karya itu dilihat sepintas atau dilihat dengan seksama, lalu dicerna sebagai realitas fotografis dari kenyataan yang sebenarnya? Atau realitas fotografis itu meragukan persepsi seseorang bila dihubungkan dengan pengalaman dan pengetahuan penikmat seni yang belum pernah melihat pemandangan alam di Eropa dan Timur Tengah? Ataukah penikmat seni yang memiliki latar belakang atau pengalaman sebagai fotografer lanskap juga meragukan kebenaran citraan yang terkonstruksi sedemikian rupa di dalam bingkai karya seni rupa kontemporer oleh seniman ini? 

Rumit ya. Sebenarnya tidak serumit kita yang setiap waktu diharuskan memilah-milah informasi atau data, atau citra statis juga citraan bergerak yang dikemas jadi informasi atau realitas, yang sebenarnya adalah hoax atau mungkin juga faktual.

Deden Hendan Durahman (2019), LOOK//AFTER; Landscape #4, ultrachrome print on cotton canvas, 120 cm x 200 cm, 2019. Edition 1/3.

Deden Hendan Durhaman tidak membincangkan foto lanskap pada pameran ini, meskipun objeknya adalah tubuh perempuan di dalam komposisi-komposisi citra lanskap alam. Yang penting adalah bagaimana seseorang melihat karya ini dengan teliti untuk memilah mana realitas yang benar dan realitas hasil rekayasa atau hoax. Atau seseorang menerima begitu saja sebuah citraan dengan sudut pandang atau pemikiran bahwa realitas dalam karya seni rupa seutuhnya fiktif, palsu, bahkan bisa dikatakan hoax. 

Bagaimana bisa demikian? Toh seorang pecinta seni yang belum memiliki pengetahuan atau pengalaman estetik dari karya-karyanya tidak akan menyadari atau mengetahui konsepsi seni yang ditawarkan oleh seniman. Ia menuturkan bahwa bisa jadi seorang pemirsa akan menerima semua karya-karyanya ini sebagai realitas fotografis atau foto lanskap begitu saja, karena foto yang disajikan memang foto lanskap seperti pada umumnya pameran foto lanskap.

 

“Apakah diterima begitu saja. Asal lewat atau diberikan kesempatan untuk dicerna atau dipahami. Jadi kebenaran itu seperti massa jenis benda dan berat. Massa jenis benda itu pasti karena sudah ada ilmunya secara ilmiah. Sedangkan berat benda tergantung pada gravitasi. Seni mencoba memahami kebenaran itu dengan menciptakan kebohongan,” kata Deden Hendan Durahman.

 

Ia juga mengatakan bahwa seorang pemirsa dengan latar belakang seorang fotografer lanskap tentu memiliki sudut pandang lain dan lebih seksama, menggunakan kaidah atau teori fotografi, misalnya mengenai proporsi satu tubuh yang ada di setiap karyanya. Bagaimana mereka, fotografer yang bukan seniman, melihat proporsi tumbuhan pada karya-karya itu? Tentunya, sebagian fotografer yang melihat karya-karya itu akan melayangkan sebuah protes berdasarkan pengalaman mereka dalam melihat sebuah proporsi dan komposisi alam benda dalam suatu pemandangan alam yang direkam menggunakan alat fotografi, kamera.

Dalam konteks pameran ini, kita dihadapkan pada persoalan fenomenologi dalam melihat suatu karya seni berbasis fotografi digital. Seperti yang pernah diungkap oleh Jacques Derrida dalam beberapa tulisannya, bahwa realitas yang kita hadapi mesti ditelaah secara kritis, apakah jejak-jejaknya masih dapat kita petik sebagai bahan kajian dalam melihat sebuah realitas atau kebenaran. Oleh sebab itulah suatu realitas harus dapat ‘dibongkar’ konstruksi dan struktur bahasa yang digunakan oleh penciptanya.

Apakah masih bisa ditelaah bahwa karya fotografi yang disajikan oleh Deden Hendan Durahman dalam art project LOOK//AFTER meninggalkan jejak-jejak sumbernya; sejarah, fakta, realitas yang sebenarnya? Ataukah karya fotografi yang dipamerkan itu sudah tidak menyediakan ruang bagi pemirsanya untuk menemukan jejak-jejak sumbernya.

        Pencinta seni atau pemirsa, di satu sisi, akan dihadapkan pada pemikiran seniman dan pengalaman kognitif pemirsanya dalam melihat suatu realitas yang disajikan oleh seniman dengan suatu konstruksi bahasa atau konsepsi seni rupa. Kemudian, mengapa foto lanskap yang digunakan sebagai objek simulasi oleh seniman dalam ini justru membincangkan realitas palsu atau fake image atau foto hoax penting? Deden Hendan Durahman, lebih lanjut, menjelaskan bahwa foto lanskap sebagai objek simulasi paling sulit dan menantang pemirsa atau pencinta seni untuk melihat secara cermat. Bagian mana yang sesungguhnya realitas atau kebenaran dan mana bagian yang direkayasa oleh, sehingga seola-olah menjadi sebuah kebenaran dalam bentuk citraan fotografis.

Deden Hendan Durahman (2019), LOOK//AFTER; Landscape #5, ultrachrome print on cotton canvas, 120 cm x 200 cm, 2019. Edition 1/3.

           Mari kita lihat secara seksama karyanya yang berjudul LOOK // AFTER; Landscape #1,2,4-6. Lima foto lanskap itu memiliki kecenderungan komposisi ruang dalam –depth of field– yang mirip atau berulang disajikan oleh senimannya. Sepertinya ada semacam repetisi dalam konsep Gillez Deleuze yang kemudian menyajikan suatu penegasan makna atau pertanyaan yang makin spesifik kepada penikmat seni atau pemirsanya, bahwa kebesaran ciptaan Tuhan melalui lanskap alam atau kosmos besar itu nyata adanya. Hanya saja melalui tangan creator atau seniman di ruang produksi kreatif berbasis computer itu menghasilkan suatu kejanggalan, anomaly, atau bahkan kejanggalan dan atau suatu anomali itu sungguh ada di jagat kosmos besar bila kita amati secara seksama. Berbeda dengan karya yang berjudul LOOK // AFTER; Landscape #3, seniman justru memancing permisa atau pencinta seni untuk melihatnya dengan motif yang lain. Gurun pasir yang ‘digunakan’ dalam simulasi itu justru factual pada waktu tertentu, dan yang mengaburkan realitas itu adalah objek tubuh perempuannya disajikan dengan proporsi yang tidak nyata.

         Terkait dengan pemilihan objek lanskap yang dipilih. Seniman ini mengatakan bahwa ia ingin mengajak pemirsa atau pecinta seni untuk menggunakan kecerdasan dan daya kritis terhadap realitas –dalam hal ini realitas fotografis- yang dikonsumsi di dalam suatu pameran, menjadi salah satu tujuan berbagi pengalaman estetik. Bagaimana seseorang melihat atau mencerna apa yang nampak di depan mata dengan cara yang tidak instan.

         Apakah Japanese dan chinese painting -tradisi lukisan lanskap- lebih seksi ketimbang tubuh dari seri karya sebelumnyah? Deden Hendan Durahman menjawab, “tapi gambaran karya itu sudah ada. Bukan masalah sexy-nya, tapi intensinya. Keduanya sama-sama menampilkan ketidakaslian.” Pernyataan itu juga berhubungan dengan sejarah kehadiran karya fotografi dengan objek lanskap alam dalam wacana seni lukis setelah lukisan-lukisan lanskap –disebut Mooi Indie di dalam seni rupa modern Indonesia- mencapai puncak apresiasinya pada abad ke-19 di Eropa. Praktik seni menggunakan medium fotografi pada abad ke-20 menjadi penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer, bahwa realitas jadi pokok soal penting pada karya-karya fotografi seni ketika di era citraan realitas fotografis secara digital masuk ke dalam arus utama seni rupa kontemporer global. Fotografi kemudian tidak lagi dipandang sebagai alat seperti halnya kuas dalam praktik seni lukis, melainkan konsepsi seni yang mendorong pengetahuan dan pengertian baru dari fenomena seni.

         Intensi apakah yang secara rinci digarap oleh Deden Hendan Durahman pada LOOK // AFTER, sehingga kosmos besar dipilih jadi pokok soal selain metodologi mencipta ruang artifisial itu? Deden Hendan Durahman mengatakan bahwa, “dengan bermain di antara dunia nyata dan tidak, mencoba untuk memicu pemikiran dari sesuatu yang tampak di depan mata, mencoba lebih kritis terhadap realitas yang ada di depan mata.” Seniman dalam praktik seninya memilih intensi-intensi yang dipilih secara personal untuk menyampaikan pesan dengan ide-ide artistik yang diolah dengan metodologi dan konsepsi tertentu. Pada karya-karya LOOK // AFTER, Deden Hendan Durahman ingin berbagi tentang intensi garapan estetik yang kemudian mendorong pencinta seni atau pemirsanya untuk memeriksa kembali apa yang dilihat pada suatu karya fotografis dari seorang seniman. Faktanya, beberapa pemirsa atau pencinta seni melihat intensi yang ditawarkan oleh seniman ini, yaitu kebenaran yang ada pada karya seni rupa kontemporer berbasis fotografi ini. Bahwa, praktik mengonsumsi bahasa rupa pada suatu karya seni selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan personal untuk mendapatkan pengamalan estetik yang belum diperoleh dari karya seni yang lain. Sehingga perbincangan mengenai realitas dan kebenaran yang disajikan dalam konteks dan kemasan seni rupa kontemporer mengandalkan pengetahuan dan pengalaman pemirsa atau pencinta seni yang menyimak karyanya.   

 

“Pasti lah, bahwa ‘kebenaran konsumtif’ dalam bahasa rupa kontemporer lebih asyik daripada kebenaran yang sifatnya relatif dalam politik kebudayaan saat ini,” kata Deden Hendan Durahman.

         Pameran tunggal di Orbital Dago Gallery ini merupakan pameran lanjutan dari kegiatan presentasi karya dan showcase HBK Braunschweig dan Letter Presse Münster – setelah menyelesaikan program Artist in Residence di HBK Braunschweig yang disertai dengan kegiatan research selama 45 hari di kota itu – sebelumnya direncanakan untuk tinggal dan riset karya selam 3 (tiga) bulan sebelum Ramadhan 1440 Hijriah/2019.

Deden Hendan Durahman (2019), LOOK//AFTER; Landscape #6, ultrachrome print on cotton canvas, 120 cm x 200 cm, 2019. Edition 1/3.

           Konsepsi seni dan konteks karya ini jadi penting disajikan dalam pameran ini, selanjutnya bagaimana kita bisa membedakan proyek fotografi seni (art project) dengan modus simulasi logika atau nalar dengan objek lanskap dengan pameran fotografi lanskap pada umumnya dikerjakan oleh seorang fotografer komersial dengan objek yang serupa.

          Seniman ini menawarkan sebuah konsepsi seni dalam fotografi, tetapi konsepsi itu hanya akan berlaku bila disajikan tersendiri. Bila salah satu karya diambil dari karya-karya yang disajikan di dalam satu konsepsi dan konteks atau disajikan dengan karya fotografi lanskap yang biasa atau umu, maka konsepsi seni dari karya itu akan hilang dan menjadi sebuah karya fotografi lanskap pada umumnya. Sebab karya-karya ini sebenarnya tidak bicara soal lanskap, tetapi kecermatan mencerna realitas dan kebenaran itu.

         Aminudin T.H. Siregar lebih lanjut memberi catatanya dari Leiden, bahwa, melalui karya-karya fotografinya, sudah lama Deden Hendan Durahman tertarik menciptakan ‘ruang artifisial’ yang tidak hanya memaksa batas realita dan ilusi ke dalam kesamaran, tetapi juga memiuhkan (distorsi) – bahkan membuat pemirsa berpikir lebih lama untuk menyadari, karena subyek bahasannya tidak tampak secara eksplisit. Dengan strategi visual yang khas, Durahman secara perlahan mengundang pemirsa memasuki ‘ruang di mana kebohongan bisa diatur’ sambil mempertanyakan: apakah realita merupakan suatu produk delusi perseorangan?

        Demikian salah satu pemikiran seniman Bandung yang berbasis fotografi dalam menyajikan karya-karya seni kontemporer baik di Indonesia dan di luar negeri di dalam pamerna bertajuk LOOK // AFTER ini, bahwa, sebuah pameran itu sebaiknya memang spesifik pada suatu perbincangan karena di sana akan ada pemikiran pada konteks tertentu yang akan menjadi suatu pengetahuan seni saat ini.

 

“Ceritana urang nyieun hoax sebagai photographer top landscapes, keliling Eropa,” pungkas Deden Hendan Durahman dalam bahasa Sunda melalui WhatsApp kepada penulis, Jumat (14/6) sore.

        Beberapa art project, menurut Deden Hendan Durahman, memang tidak bisa berdiri sendiri – lebih baik pameran bersama seniman berbasis fotografi yang lain- untuk menguatkan penyajian karya dengan konteks yang sama. Akan tetapi proyek foto seni seperti Look//After ini, dan After The War, Corpus-Constructio, memang harus berdiri sendiri atau pameran sendiri karena specific project sifatnya. Sekarang, apakah anda menemukan hoax pada karya fotografi yang disajikan Deden Hendan Durahman dalam pameran LOOK // AFTER di Orbital Dago Gallery? Lihat dan cermati dengan teliti. Selamat mengapresiasi.**

About Argus FS

Artspace Indonesia Curator, art observer, pipesmoker from Bandung, Indonesia | Instagram: @argus_fs

View all posts by Argus FS →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *