World Tobacco Growers Day 2019 di Bandung Selatan Petani Tembakau Perlu Membangun Ekosistem Kreatif

Soreang, 10 November 2019. Pertemuan para petani tembakau dalam kegiatan World Tobacco Growers Day (WTGD) atau Peringatan Hari Petani Tembakau Sedunia 2019 di Kabupaten Bandung pada tanggal 29 Oktober kemarin, meninggalkan pekerjaan rumah yang cukup banyak untuk mengembangkan ekosistem produk tembakau dalam menghadapi tekanan berbagai pihak dan tradisi kenaikan cukai tentunya.

Petani tembakau dan buruh pekerja yang mengolah tembakau dan menggantungkan hidupnya pada produk tembakau terdapat lebih dari 40 juta di seluruh dunia. Meski demikian, penurunan drastis atas permintaan produk hasil tembakau di berbagai belahan dunia sudah berlangsung sejak tahun 2009. Hal itu terjadi karena sejumlah peraturan yang dibuat oleh pemangku kebijakan makin mempersempit ruang gerak petani tembakau dan pelaku industrinya, sehingga berdampak negatif terhadap kualitas hidup para petani tembakau.

Tekanan terhadap pertanian tembakau juga disebabkan oleh Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau/Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Konvensi itu menyatakan bahwa tanaman tembakau seharusnya digantikan dengan tanaman lain. Terkait permasalahan tersebut, maka sudah saatnya untuk para petani tembakau untuk mempersiapkan pasar baru agar mendapat kepastian tentang kesejahteraan para petani tembakau, khususnya di Indonesia. oleh sebab itulah Asosiasi Petani Tembakau Internasional/International Tobacco Growers Association (ITGA), bersama afiliasinya di Indonesia, yaitu Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) & Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), berada di garis depan untuk membela hak-hak petani tembakau di seluruh dunia, terutama bagi negara yang menggantungkan harapan besar pada tembakau seperti Indonesia. Dalam upaya menyuarakan kesejahteraan petani tembakau, maka ITGA bersama AMTI & APTI menyelenggarakan World Tobacco Growers Day (WTGD) atau Peringatan Hari Petani Tembakau Sedunia 2019, yang dihadiri oleh 1.000 perwakilan petani tembakau dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung di Dome Bale Rame, Sabilulungan Kab. Bandung, Selasa (29/10) kemarin. Kegiatan WTGD sudah berlangsung sejak tahun 2012 di seluruh dunia.

Para petani Tembakau yang ikut serta memamerkan produk tembakau dan hasil olahannya di dalam kegiatan WTGD 2019 kemarin. Mereka mewakili 17 Dewan Pimpinan Cabang APTI seluruh Indonesia. Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno, mengatakan bahwa World Tobacco Growers Day atau Peringatan Hari Petani Tembakau Sedunia merupakan sebuah prakarsa yang digagas oleh ITGA sebagai bentuk promosi hasil petani tembakau secara global, dengan berbagai peranan petani tembakau di 22 negara penghasil tembakau. Sementara itu peringatan Hari Petani Tembakau Sedunia tahun 2019 yang diselenggarakan di Soreang, Kabupaten bandung, Jawa Barat, kemarin mengusung tema Tembakau sebagai Warisan Kita.

“Kami bangga kepada para petani tembakau, mereka telah bekerja sepenuh hati demi kelangsungan hidup dan kesejahteraan mereka dengan tetap menjaga lingkungan serta merawat masyarakat sekitar. Petani tembakau menerapkan praktik kerja yang baik, serta menjalankan berbagai prakarsa sosial dan lingkungan untuk secara konsisten meningkatkan mutu hidup keluarga mereka juga masyarakat secara umum. Selama ratusan tahun, petani tembakau juga menjadi bagian penting dari sistem ekonomi masyarakat. Tembakau adalah warisan kita,” kata Soeseno, Ketua Umum APTI Nasional, Selasa (29/10) pagi di Dome Bale Rame Sabilulungan, Soreang, Kab. Bandung, Jawa Barat.

Soeseno, Ketua Umum APTI Nasional, menuturkan bahwa tatar priangan ini memiliki potensi tembakau yang luar biasa besar. Tembakau Jawa Barat dijual ke pasar tembakau di Sumedang untuk dikirim ke Payakumbuh, Sumatera, lalu ke Malaysia. Artinya, tembakau Jawa Barat berkualitas ekspor. Menurutnya, lewat peringatan hari tembakau sedunia ini masyarakat luas dapat melihat kerja keras dan kreasi petani tembakau Jawa Barat. Luasan perkebunan tembakau Jawa Barat berdasarkan area merupakan nomor 3 setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Tapi tembakau Jabar khas, penghasil devisa,” lanjut Soeseno.


Lahan Tembakau di Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Produk-produk terbaik tembakau yang diproduksi oleh para petani tembakau Indonesia akan disampaikan kepada ITGA, sehingga dunia bisa melihat produk tembakau yang ada di Jawa Barat, khususnya dan petani tembakau di seluruh Indonesia secara keseluruhan. Soeseno juga mengatakan bahwa negara-negara di dunia akan senang mengetahui produk-produk tembakau yang diproduksi oleh petani tembakau Jawa Barat. Pola kemandirian yang dilakukan oleh para petani tembakau perlu dikabarkan dan diungkap kepada seluruh lapisan masyarakat, sebab faktanya para petani tembakau di Indonesia kurang mendapat perhatian dari pemerintah yang cenderung setuju dengan gerakan anti tembakau. Padahal, produk tembakau memberikan kontribusi tidak sedikit pada pendapatan negara (APBN). Menurut data APBN tahun 2019 nilai cukai produk tembakau memberikan 170 triliun Rupiah kepada negara Republik Indonesia.

“Pada cukai tiap batang rokok mengalir keringat petani tembakau dan petani cengkeh. Mereka berkontribusi kepada negara. Melalui momen ini kita promosikan ke dunia bahwa petani tembakau selama ini bekerja keras secara mandiri, mereka berkreasi dalam kesehariannya, hidup dari sistem pertanian tembakau. Hampir tiap provinsi di Indonesia ada tanaman tembakau, dari Aceh sampai Sulawesi Selatan,” tutur Soeseno di Soreang,

Saat ini para petani tembakau dihadapkan dengan kebijakan pemerintah yang kurang memihak lagi, yaitu kenaikan cukai sebesar 21,3 persen dan harga eceran naik 35 persen pada 2020. Ketua Umum APTI Nasional juga mengingatkan bahwa kebijakan tersebut akan mengurangi serapan tembakau. Pabrik akan mengurangi konsumsi tembakaunya. Pada akhirnya kebijakan tersebut akan merugikan petani tembakau karena serapan hasil panen mereka berkurang. Walaupun kebijakan kenaikan cukai baru akan diterapkan 2020, namun dampaknya sudah dirasakan oleh para petani saat ini. Para pedagang besar mulai memainkan isu pengurangan daya beli produk tembakaunya. Berkurangnya volume pembelian tembakau akan menimbulkan goncangan bagi petani.

Perlu Pengembangan Ekonomi Kreatif pada Produk Tembakau
Petani tembakau selalu dihadapkan pada persoalan tata kelola bidang pertanian lingkup daerah yang tidak memihak pada keberadaan petaninya. Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemangku kebijakan baik daerah maupun pemerintah pusat selalu dirasakan kurang adil pagi petani yang tidak pernah sedikit berkontribusi pada devisa negara ini.

Mulai dari persoalan lahan pertanian tembakau yang tidak sesuai kebutuhan luasan tanam, hingga persoalan tingginya harga pupuk untuk meningkatkan kualitas pertanian tembakau mereka. Nampaknya, kehidupan para petani tembakau makin terjepit oleh kebijakan-kebijakan di bidang pertanian hingga produk undang-undang pajak serta peraturan dari Menteri Keuangan RI yang kemudian jadi berlapis-lapis mengambil hasil kerja keras para petani tembakau. Masalah permanen yang dihadapi oleh ekosistem tembakau adalah kenaikan cukai setiap tahun yang makin besar. Tidak hanya berdampak pada petani tembakau sebagai hulu dari rantai produksi tembakau, juga pada industri tembakau yang akan berdampak pada ribuan buruh pabrik rokok yang akan dirumahkan di masa yang akan datang.


Hari Petani Tembakau di Bale Rame Sabilulunga, Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

Faktanya, para petani tembakau tidak hanya menanam tembakau saja di lahannya, mereka juga menanam produk sayuran untuk menjaga produktivitas petani tembakau. Namun demikian, tanaman tembakau tetap menjadi pilihan utama karena pertanian tembakau yang justru menopang ekonomi keluarga para petani tembakau. Lalu, bagaimana para petani tembakau melanjutkan hidupnya dengan sejumlah kebijakan dari pemerintah daerah dan pusat yang tidak memihak keberadaan mereka, sementara hasil jerih payah mereka selalu dipungut untuk kebutuhan sektor atau bidang lain dalam tata kelola penyelenggaraan negara ini.

Solusi alternatif yang selalu dikampanyekan oleh pengurus AMTI dan APTI adalah program pengembangan dan pemberdayaan. Pengembangan usaha petani tembakau juga sangat memungkinkan dilakukan oleh para petani tembakau dengan mengerjakan proses produksi tembakau di proses pasca-panen. Artinya, para petani membutuhkan kerja keras lanjutan yang akan menghasilkan produk tembakau iris. Dan pemberdayaan keluarga petani tembakau untuk mengelola produk-produk non-tembakau, misalnya usaha kuliner atau produk konsumsi di luar bidang pertanian. Program pengembangan produk tembakau dan pemberdayaan petani tembakau inilah yang menjadi kendala bagi sejumlah stake-holder usaha tembakau.

Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), Budidoyo, pada kesempatan lain mengatakan bahwa petani tembakau bisa memperoleh hasil yang lebih besar apabila mereka mau mengerjakan proses pasca-panen tembakau, yaitu, memproses hasil panennya menjadi produk tembakau iris. beliau memaparkan bahwa memang tidak mudah dan dibutuhkan skill juga mental yang kuat dan sabar untuk mengerjakan proses produksi pasca-panen dari lahan tanamnya. Karena daun tembakau yang baik kualitasnya itu mesti disimpan terlebih dahulu dalam jangka waktu satu atau dua tahun, sehingga rasanya lebih enak ketika dikonsumsi. Baik itu menjadi tembakau iris, apalagi produk cerutu. Sehingga, bila para petani tembakau mau mendapatkan nilai tambah yang lebih besar, mestinya tidak menjual daun tembakau basah atau tebasan. Selain murah karena memang cuma menanam dan panen saja.

Dewasa ini mulai banyak bermunculan pengusaha kecil yang mengolah tembakau iris untuk konsumsi sendiri atau komunitas. Fenomena itu justru dianggap positif oleh Budidoyo dan Soeseno, karena dengan cara yang demikian para petani bisa menikmati hasil kerja kerasnya dengan lebih baik. Ketua Umum AMTI dan Ketua Umum APTI, keduanya mengharapkan ada regenerasi petani tembakau yang lebih inovatif dan kreatif untuk mengembangkan ekosistem produk tembakau yang lebih baik.


PAPERKA Menyelenggarakan Lomba Melinting Tembakau di acara WTGD 2019 di Soreang, Kabupaten Bandung

Meski demikian, kesadaran para petani tembakau untuk bekerja lebih ekstra memang dibutuhkan, sehingga makin banyak petani yang mau mengerjakan proses produksi pasca-panen maka ekonomi keluarga mereka akan meningkat. Dengan ekosistem yang membutuhkan daya kreativitas itu, maka kebutuhan tembakau untuk industri rokok maupun usaha kecil menengah seperti produk tembakau iris akan berjalan secara seimbang.***

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *