Desain Grafis Produk Tembakau Iris Terinspirasi oleh Budaya ‘Ngabako’ Ekosistem Tembakau Kreatif dari PAPERKA

Cukai naik lagi? Adalah hal yang sudah biasa bagi petani tembakau dan industri rokok di Indonesia. Hal positif apa yang mendorong petani tembakau untuk menghadapi tekanan dari berbagai pihak? Sementara kehidupan petani tembakau jarang mendapat perhatian dari masyarakat luas. Membincangkan PAPERKA, artikel ini akan menguraikan bagaimana petani tembakau dan pelaku industri kreatif bisa bekerja sama membangun ekosistem yang lebih positif, khususnya generasi muda dalam meneruskan budaya tradisi tembakau di Nusantara ini.
Desain kemasan produk tembakau iris dari petani tembakau saat ini masih terbilang sangat minim atau ala kadarnya saja. Faktanya, desain grafis pada produk tembakau iris menentukan sejauh mana konsumen tembakau iris bisa bertumbuh dengan harga yang sangat terjangkau ketimbang harga produk industri rokok yang akan jauh melejit di etalase ritel atau reseller.

Produksi tembakau iris dengan kemasan yang memadai boleh jadi alternatif pundi-pundi ekonomi petani tembakau, selain supply ke industri rokok dengan volume yang jauh lebih besar. Nedi Sopian, pendiri PAPERKA akan menjelaskan sejarah produk tembakau iris yang kini banyak diminati oleh konsumen anak muda di perkotaan.

Linimasa Desain Grafis, Kemasan dan Promosi Produk PAPERKA

Nedi Sopian, kreator PAPERKA, mengatakan bahwa pembuatan produk PAPERKA berawal dari riset budaya warisan leluhur mengenai daun Kawung yang digunakan oleh anak muda hingga orang lanjut usia untuk merokok di lingkungan masyarakat desa adat Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi.

“Daun Kawung adalah obat asma bila tidak dilinting (rolling – red) menggunakan daun tembakau. Dari hasil riset dan pengamatan di desa adat itu saya mulai kampanye untuk memperkenalkan daun Kawung. Oleh sebab itu PAPERKA adalah singkatan dari PAGUYUBAN PEROKOK KAWUNG,” kata Nedi Sopian di kota Bandung, Jumat (11/10) petang.

Nedi Sopian juga seorang vokalis di Orkes Milenial PHB, melalui panggung-panggung musiknya ia mengampanyekan PAPERKA kepada penonton dan penggemarnya, khususnya anak muda di daerah perkotaan. Idenya sederhana, yaitu mengenalkan kembali tradisi budaya leluhur masyarakat Sunda mengenai daun Kawung dan ngabako linting (rolling tobacco).

Nedi Sopian kuatir dengan pengetahuan budaya tradisi leluhurnya, bahwa kegiatan ngabako, berkumpul sambil merokok tembakau linting sudah hampir punah di masyarakat kota Bandung khususnya. Padahal dengan kegiatan itu terjadi interaksi langsung antar-anggota masyarakat untuk membincangkan segala macam persoalan sosial, budaya, ekonomi, bahkan Pendidikan karakter masyarakat Sunda.

Nedi Sopian tertarik untuk mengenalkan kembali kegiatan ngabako sejak tahun 2016. Kegiatan ngabako merupakan tradisi interaktif antargenerasi yang kini sudah hampir punah karena generasi muda cenderung individualis oleh penggunaan gadget dan vape.

Kehadiran produk PAPERKA cenderung menjalankan misi kebudayaan lokal yang sudah jelas rujukannya dari masyarakat tradisional. Dalam konteks hari ini, produk PAPERKA merupakan medium untuk mengikat rasa persatuan dan kesatuan masyarakat perkotaan, khususnya generasi muda, agar hidup lebih interaktif dalam kehidupan sehari-hari, ketimbang komunikasi artifisial melalui gadget.

“Saya meyakini bahwa tradisi budaya dari para leluhur kita melalui kegiatan ngabako menjaga tali persaudaraan lebih erat dan kompak, gotong royong, sehingga bisa dikatakan bahwa kegiatan itu merupakan alat pemersatu bangsa. Pengalaman saya selama ini ketika jalan-jalan ke luar negeri juga di Indonesia, banyak orang Eropa justru mencari tembakau Indonesia, bukan produk rokoknya malahan,” lanjut Nedi Sopian.

Budaya melinting tembakau di pinggiran kota ternyata masih banyak dilakukan, tetapi oleh orang-orang tua saja. Nah pemandangan ini justru menantang kreativitas Nedi Sopian dengan produk PAPERKA-nya untuk membudayakan melinting tembakau, sehingga generasi muda bisa berkumpul dan berbuat hal-hal yang positif, salah satunya adalah mengembangkan kreativitas.

Tunggu, apakah Nedi Sopian dengan PAPERKA mengampanyekan aktivitas merokok? Bukan. Nedi Sopian adalah seorang desainer grafis, lulusan STISI Bandung, maka keahliannya merancang sebuah karya desain grafis justru dia kembangkan melalui desain kemasan produk tembakau linting yang dia beri merek PAPERKA.

Nedi Sopian akan mulai kampanye anti rokok mulai awal tahun 2020. Apakah itu? PAPERKA adalah produk tembakau iris yang mesti menggunakan teknik rolling tobacco sebelum menghisapnya. Karena produk PAPERKA memiliki segmentasi anak muda, maka PAPERKA yang akrab di kalangan anak muda melalui online marketplace dan media sosial.

Selain persoalan desain kemasan produk tembakau iris yang masih terbilang kurang eksklusif sebagai produk lokal dari petani tembakau, ada juga persoalan attitude dari petani tembakau sendiri yang masih kurang profesional.

“Tetapi ada persoalan yang masih belum selaras antara PAPERKA dengan para pelaku industri tembakau iris, bahwa mereka yang di luar PAPERKA masih melakukan kebiasaan memperlakukan merek dan produk tembakau iris dari para petaninya cuma sekedar jualan. Tidak ada sentuhan desain dan promosi. Salah satu contoh, banyak merek tembakau iris dengan merek-merek plesetan dari produk industri rokok yang sudah established. Hal itu, bagi saya, bukannya merasa bangga, tapi malu! Produk tembakau iris kurang eksklusif jadinya”, kata Nedi Sopian.

Proses kreatif Nedi Sopian dalam membuat desain produk PAPERKA bisa dikatakan cukup Panjang, mulai dari membuat sketsa, merancang suatu brand dengan ide-ide kreatif yang muncul selama proses pembuatan sketsa, antara lain eksplorasi tipografi dan gambar untuk kebutuhan promosi produk PAPERKA.

“Saya memang kebetulan basic-nya sekolah desain grafis. Ya saya riset! Salah satu referensi saya ada di buku. Kretek Jawa. Desain-desain kemasan tembakau iris juga saya amati produk-produk di luar Indonesia, karena kebetulan saya juga pernah jalan-jalan ke luar negeri dan membeli produk-produk tembakau iris. Semua desain produk itu saya jadikan rujukan desain, termasuk desain kemasan produk rokok dari industri,” tutut Nedi Sopian.

Tidak hanya itu, Nedi Sopian juga mempelajari target pasar atas produk PAPERKA yang akan dijual kepada konsumen. Tentu saja, daya tarik desain grafis yang dirancang sedemikian rupa pada produk tembakau iris menjadi aspek penentu. Bagaimana konsumen tembakau iris yang khas dari PAPERKA bisa menarik minat dan membentuk komunitas-komunitas konsumen yang kemudian menjadi domain pasar produknya. PAPERKA, seperti halnya produk yang dipasarkan oleh generasi muda memang banyak menggunakan media sosial untuk saluran promosi dan menjangkau konsumennya.

“Untuk sekarang produk PAPERKA memanfaatkan sosial media. Video pun menjadi sangat penting untuk promosi produk ke kalangan milenial. Kalaupun saya manggung (dengan Orkes Milenial PHB) hanya sebatas ‘ngabulatuk’ (promo secara lisan – redaksi) di sela-sela lagu saja. Paling juga diperkuat dengan t-shirt yang saya pakai. Sebab PAPERKA juga produksi merchandise. Tapi, saya lebih memperkenalkan daun Kawung dan cara me-lintingnya. PAPERPA bukan jualan rokok iya, tapi jualan tembakau iris dengan aneka rasa pastinya. Dan sampai saat ini memang banyak diminati anak-anak muda. Kalaupun ada orang tua yang mengkonsumsi produk PAPERKA, itu artinya kami salah sasaran….hahahaha,” tutur Nedi Sopian.

Kompetisi Rolling Tobacco oleh PAPERKA di WTGD 2019

PAPERKA sudah menyiapkan materi kampanye anti-rokok dengan konten, Let’s rolling tobacco! Nedi Sopian mengajak pemuda-pemudi yang sudah cukup umur untuk ngalinting saja. Video dengan durasi waktu yang pendek akan dirilis pada  awal tahun 2020 mendatang. Kehadiran produk PAPERKA di masyarakat perkotaan memang tidak semulus penerimaan produk industri rokok, beberapa kegiatan komunitas yang biasa didukung oleh PAPERKA mulai dimonitoring oleh pihak pemasaran industri rokok. Faktanya, ruang distribusi PAPERKA di kedai-kedai kopi mulai dibatasi, karena sudah di-branding oleh produk industri rokok, sampai penghapusan logo PAPERKA di beberapa event komunitas automotive di Bandung.

“Makanya PAPERKA lebih support kegiatan komunitas-komunitas. Ya mungkin kehadiran PAPERKA sudah dirasakan seperti semut di kota Bandung yang mengganggu Maung. Tapi tidak apalah, hal itu menjadi keseruan,” kata Nedi Sopian.

Terakhir, mengenai peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di beberapa kabupaten dan kota, Nedi Sopian berpendapat bahwa PAPERKA tidak terlalu kuatir dengan itu karena produknya bukan rokok, tetapi tembakau iris.

“Mengenai peraturan Kawasan Tanpa Rokok, saya bisa katakan ikut saja peraturan itu, sesuai dengan keinginan pemerintah. Akan tetapi seharusnya pemerintah juga menyediakan kawasan khusus untuk merokok atau ngabako,” pungkas Nedi Sopian di Bandung.***

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *