Imbang: Tubuh Sakral-Profan dan Satir Sosial I Nyoman Darya Amati Praktik Yoga sebagai bagian Gaya Hidup Sekarang

Pada suatu masa I Nyoman Darya melakukan ritual harian sebagai pemeluk ajaran Hindu yang baik. Ketika akan sembahyang I Nyoman Darya duduk sendiri melakukan aktivitas ritual yang dikenal dengan istilah pranayama.

Sekaitan dengan perbincangan ini, pagi ini penulis mendapat sebuah broadcast yang diforward dari seorang kolektor seni di Singapore, Priyalatha Naidu. Broadcast ini isinya adalah sebuah ilmu kehidupan yang berasal dari ajaran Hindu yang disampaikan oleh Sri Sri Ravi Shankar.

Who is your life partner?

Mom?

Dad?

Wife?

Son?

Husband?

Daughter?

Friend?

Not at all!

Your real-life partner is your body. Once your body stops responding no one is with you. You and your body stay together from birth till death. What you do to your body is your responsibility and that will come back to you. The more you care for your body, the more your body will care for you. What you eat, what you do for being fit, how you deal with stress, how much rest you give to it; will decide how your body going to respond. Remember, your body is the only permanent address where you live. Your body is your asset/hability, which no one else can share. Your body is your responsibility. Because you are the real-life partner. Be fit. Take care of yourself. Money comes and goes. Relative and Friends are not permanent. Remember, no one can help your body other than you.

Pranayama – for Lungs

Meditation – for Mind

Yoga – for Body

Walking – for Heart

Good food – for INtestines

Good thoughts – for Soul

Good karma – for World,” tutur Sri Sri Ravis Shankar.

Gagasan ini sudah mengendap empat bulan lamanya, hingga kemudian mengambil pranayama sebagai ide artistik lukisan-lukisan figur yang dikenal dengan istilah Yoga. Kegiatan Yoga juga dilakukan oleh wanita di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, bahkan Bali sendiri.

Lukisan-lukisan “Olah Lingga Series” (2019), 50 x 40 cm, akrilik di atas kanvas.

I Nyoman Darya mengatakan bahwa lukisan-lukisan tema “Imbang” ini mengalir begitu saja setelah proses pengendapan gagasan yang cukup lama. Kenapa tubuh? Tubuh dalam bincang filsafat pasca-modern adalah lapangan diskusi yang menarik. Misalnya membincang ‘madness’ dari pikiran Michel Foucault, bahwa tubuh bukan saja piranti bagi jiwa yang berkelana dan dipenjara oleh sesuatu yang irasional dalam pandangan masyarakat umum. Tubuh adalah kemasan, bungkus, bahasa representasional di mana penanda dan petanda bersemayam di dalamnya. Bahasa itu membawa simbol-simbol yang dirancang oleh seniman yang diyakini mewakili masyarakat yang mengamini perkara ‘madness’ sebagai entitas yang positif.

Tubuh dalam sudut pandang filsafat kontemporer merupakan fenomena yang muncul dari jutaan bahasa simbolik di dalam satu ruang diskusi yang membincangkan peradaban masyarakat kelas atas dan masyarakat kelas buruh pada saat bersamaan. Lebih lanjut, tubuh juga dapat dikatakan sebagai medium estetik. Tubuh dalam pemahaman budaya tradisi di masyarakat Timur adalah simbol eksistensi nilai-nilai peradaban masyarakatnya, demikian juga dalam ajaran Buddha dan Hindu, memandang tubuh sebagai representasi ber-ada dan ber-tiada dari Dewa-Dewi, tetapi nilainya sama-sama sakral. Belakangan ini tubuh yang berasal dari pikiran budaya Timur dikonsumsi secara artifisial, menjadi profan. Yaitu gaya hidup masyarakat Barat yang ‘migrasi’ ke dalam kehidupan masyarakat Timur, yaitu gemar melakukan aktifitas yoga.

Yoga, sejatinya nilai-nilai sakral sekaligus paradoks; sebuah komunikasi fisikal antara manusia dengan Sang Ilahi. Praktiknya adalah aktifitas positif yang membantu aliran energi di dalam tubuh seseorang untuk lebih dekat dengan jagat alam raya. Yoga sudah menjadi gaya hidup masyarakat kelas menengah yang bernilai profan. Artinya, Yoga direkonstruksi sebagai aktifitas profan untuk tujuan kesehatan fisikis penggunanya.

Istilah ‘madness’ dalam karya-karya I Nyoman Darya yang diberi judul “Olah Lingga Series” dan “Olah Yoni Series” (2019), sebanyak 18 lukisan, sudah dikonsumsi secara profan oleh senimannya, yang mewakili masyarakat kelas menengah yang menggunakan Yoga sebagai gaya hidup mereka masa kini. Dengan sapuan kuas dan teknik lukis realis menggunakan cat akrilik itu, bentuk komposisi tubuh yang ber-Yoga, disajikan dengan gaya stilasi yang menggemaskan. I Nyoman Dayra, sebagai pelukis, berupaya menukil esensi yang ada dalam Yoga dengan aktifitas Yoga yang kini banyak dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah.

Bentuk Yoga dalam lukisan dengan konteks kehidupan masyarakat Yogyakarta saat ini, seperti yang disajikan secara ekspresif oleh I Nyoman Darya, menimbulkan sebuah pembacaan tafsir filosofis antara ajaran Yoga sebagai kegiatan ritual dengan Yoga sebagai aktifitas profan masyarakat kota saat ini. Tubuh dalam lukisan-lukisan iDarya merupakan representasi simbolik dari entitas yang abstrak religius. Akan tetapi iDarya ‘membelokkan’ bahasa rupa yang konvensional-religius menjadi bentuk-bentuk distorsi, deformatif, naif sekaligus parodik. Maka kesan lucu atau kocak malah mendominasi penampang tubuh dalam pengertian ‘madness’ yang sudah saya uraikan di atas.

Pose-pose tubuh yang lukis dengan sapuan brush-stroke itu menimbulkan kesan dinamis. I Nyoman Darya tetap membubuhkan makna perpindahan energi yang sejatinya ‘hadir’ dalam aktifitas Yoga – dimaknai seperti halnya meditasi-religius. Bentuk-bentuk tubuh Yoga yang dilukis dengan rapi di atas kanvas pada akhirnya menyajikan suatu bahasa kritik sosial. Maksud demikian memang lazim diproduksi oleh seniman ini, sebagai upaya merespon fenomena gaya hidup masyarakat kelas menengah yang sedang gandrung bermigrasi atau menkonsumsi budaya Timur. Kemudian, kita bisa membaca-ulang perkara pseudo-symbols yang berasal dari nilai-nilai sakral dalam ajaran Buddha dan Hindu.

“Dalam kaca mata Darya melihat sebagian besar manusia mengalami kejenuhan, kehampaan dan kecemasan. Beberapa di antara mereka berusaha mencari jalan keluar dengan kembali ke akar primordial dan tradisional, entah entis, agama atau ajaran-ajaran spiritual,” ungkap Faisal Komandobat dalam katalog pameran tunggal “Imbang” oleh I Nyoman Darya di Sangkring Art Project.

I Nyoman Darya memang suka menyindir sebuah fenomena yang aktual untuk kemudian merenungkannya seperti sebuah lapangan diskusi filsafat kontemporer. Yaitu, menelusur, membongkar suatu image yang dibubuhi oleh petanda dan penanda dari kebudayaan Timur dalam konteks kehidupan kontemporer masyarakat kelas menengah.

Tentu saja, I Nyoman Darya menggunakan kesadarannya dalam membangun kritik sosial dengan satir-satirnya melalui lukisan-lukisan dengan subyek tubuh-tubuh Yoga itu. Kritik sosial yang dibahasa-rupakan melalui seni lukis itu ternyata cukup efektif untuk tidak membuat sindiran verbal terhadap fenomena keseharian masyarakat menengah saat ini. Satir adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satir biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Istilah ini berasal dari frasa bahasa Latin satira atau satura (campuran makanan).

Lukisan “Percakapan Angin” (2019), misalnya, nampak seorang wanita dengan rambut pendek dan keriting mengamati  dua wanita lainnya yang sedang memeragakan pose tubuh tertentu. Hingga membangun komposisi bentuk dan ruang yang sejatinya kita temukan di dalam sebuah kelompok masyarakat kelas menengah dalam melakukan aktifitas Yoga di sebuah ruangan. Lukisan itu nampak akrab di mata I Nyoman Darya, karena komposisi bentuk itu seperti lazim ia temukan di dalam aktifitas para wanita di ruang kreatif miliknya di selatan Yogyakarta. Pose-pose Yoga lainnya juga dilukis oleh pelukin ini pada lukisan yang berjudul “Ilmu Burung”, “Melipat Diri”, “Lingkar Jagat”, “Kelenturan Kadal”, “Kebajikan Anjing”, “Tiga Naga”, dan “Salam Semesta” (2019). Hanya lukisan “Keteguhan Naga” (2019) yang terkesan seperti sebuah Manga.

Faisal Komandobat menuliskan kalimat bak sajak di bawah lukisan “Keteguhan Naga”,

“Kutempuh jalan ini layaknya ketegaran bumi berdiri. Kulakoni ini layaknya kesabaran naga bermeditasi. Kupusatkan panca inderaku dalam diri agar dapat bercakap dengan hati sedalam-dalamnya, hingga satu sama lain tak dapat saling mengingkari. Kutitahkan sepotong kakiku menahan segala yang kupunya, dari pikiran ke jantung, dari usus ke pinggul, dari pundak ke jari-jari. Kupusatkan tenaga di kakiku, kutahan dengan aliran nafasku. Jadilah diri ini setegar bumi dan sesabar naga, dalam menyerap beribu wajah alam dan fen…”

Ada satu garapan yang sangat menarik pada lukisan-lukisan yang diberi tema “Imbang” dalam pameran tunggalnya di Sangkring Art Project, Jalan Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta, pada tanggal 13 – 24 November 2019. Yaitu, sapuan warna transparan pada tubuh-tubuh sang figur. Selain menimbulkan kesan dinamis sebagai efek visual dari pose Yoga pada figurnya, warna-warna itu justru menghadirkan warna-warna panas yang lazim digunakan oleh wanita-wanita di perkotaan. Sapuan warna seperti efek material crayon juga digunakan seniman ini sebagai latar belakang.

Sepertinya, I Nyoman Darya berusaha menyajikan dimensi yang berbeda-beda natar satu lukisan dengan lainnya. Praktik ini justru menarik dihadirkan di dalam satu ruang pameran seni lukis. Penonton pun kolektor akan menemukan seduction yang berbeda pada lukisan yang digarap oleh seniman asal Bali yang menetap di Yogyakarta.

Pada bagian ini, kita juga bisa membincangkan persoalan dimensi ruang yang lazim digunakan dalam seni lukis abstrak. Praktik ini bisa jadi merupakan temuan paling mutakhir dalam perbincangan seni lukis saat ini. Dimana persoalan konteks dan konten karya seni lukis yang diciptakan oleh seniman, kemudian ditambah dengan perbincangan seni lukis di ruang akademis.

Sehingga bisa dikatakan bahwa pameran lukisan “Imbang” yang disajikan oleh I Nyoman Darya cukup lengkap dalam menawarkan pengetahuan seni rupa, khususnya seni lukis saat ini, selain karakter dan ciri khas karya seniman ini tidak luput dari amatan seorang kolektor seni lukis atau kritikus seni rupa.***

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *