Poetry Lines of Tectona Grandis Leaves di Suvarna Sutera Seni Publik Puitis Karya I Ketut Putra Yasa di Pemukiman Terpadu Suvarna Sutera, Tangerang

Sketsa, desain dan proses pemasangan karya I Ketut Putra Yasa di kawasan Suvarna Sutera, Tangerang.

Ia yang menjulur ke atas, ke samping dan ke depan, membungkus sebuah ruang antara di atas permukaan bumi yang dulu hijau kini berubah jadi abu-abu. Ia yang membebaskan angin meliuk, menukik dan terhanyut di antara dinding besi di tengah hujan. Sepintas, gurauan angin dan hujan sore itu seperti sebuah cerita anak-anak di bawah mata Wisnu di tanah Suvarna Sutera.

Kisah itu mungkin selalu luput dari manusia-manusia yang selalu sibuk dengan angka-angka atau citraan instan di tengah deru suara cerobong asap batubara nun jauh di sana. Tetapi kisah-kisah itu akan beranjak jadi cerita anak-anak yang ingin bermain dengan hujan, dan hanya memandangi hujan dari balik jendela kamarnya. Seseorang akan membangun kisah di bawah karya seni publik yang menengadah ke langit sejauh empat belas meter ke angkasa. Di sanalah ia akan melihat garis-garis lengkung dan lurus menjadi harmoni, keseimbangan, bahkan sajak yang berujung pada daun jati di puncaknya. Seseorang akan bermain di bawah lima sajak daun jati yang mengerucut seperti tornado hingga menyoyak rasa cemburu jadi haru biru di bawah langit Suvarna Sutera.



Tentunya, masih banyak lagi imaji-imaji lainnya yang dapat menorehkan sejarah pada setiap orang kokoh atas kehadiran karya seni publik yang disajikan oleh I Ketut Putra Yasa di persimpangan jalan Jalan Suvarna Sutera Boulevard dan Jalan Suvarna Sari Utama – Suvarna Sutera – Wana Kerta, Sindang Jaya, Tangerang – Banten, Jawa Barat, di ujung tahun 2019.

Cher Krause Knight (2008) dalam Public Art: theory, practice and populism, menjelaskan bahwa karya seni publik merupakan karya seni yang meliputi bermacam-macam medium, direncanakan dan diproduksi secara khusus untuk ditempatkan di suatu ruang terbuka yang mudah diakses oleh semua orang. Karya seni publik bukan hal baru dalam dunia seni rupa, para kurator sudah lazim mengajak seniman untuk menggarap karya seni publik yang dijadikan penanda penting terkait akvitas suatu masyarakat, terkadang melibatkan komunitas untuk berkolaborasi. Karya seni publik juga merepresentasikan sebuah hubungan antara konten karya dengan masyarakatnya. Apakah pernyataan yang disampaikan melalui karya itu dan siapa masyarakatnya atau penontonnya.

Seni publik karya I Ketut Putra Yasa dengan konsepsi green urban design di kawasan Suvarna Sutera, Tangerang.

Terkait dengan konsepsi tentang karya seni publik yang dijelaskan oleh Cher Krause Knight di atas. I Ketut Putra Yasa menyajikan sebuah karya seni publik dalam pengertian seni publik baru yaitu, seni publik yang muncul sejak tahun 1990-an. Jelasnya, bahwa seniman yang menggarap karya seni publik dengan pengertian “new genre public art” banyak dipengaruhi oleh genre seni kontemporer (contextual art, relational art, participatory art, dialogic art, community-based art, activist art), digarap dengan metode yang komprehensif. Karya seni publik berfungsi sebagai sebuah intervensi sosial. Apa yang diproduksi oleh I Ketut Putra Yasa di Kawasan pemukiman terpadu Suvarna Sutera adalah sebuah simbol atas gerakan untuk kembali menghormati kehadiran pohon, lahan terbuka hijau dan menjaga ekosistem alam untuk peradaban manusia yang lebih ramah lingkungan.

Karya seni publik dari I Ketut Putra Yasa bisa dikatakan termasuk dalam tema Environmental Public Art. Karya seni publik dengan isu lingkungan ini menjadi kecenderungan seni publik di Amerika Serikat yang muncul pada tahun 1970 – 1980an,

Seniman pada periode tersebut menggarap isu ekologi di dalam praktik seni mereka baik dalam bentuk proyek pesanan ataupun karya personal senimannya.  Agnes Danes dan Joseph Beuys pada tahun 1982 fokus pada upaya peningkatan kesadaran ekologis melalui proses desain perkotaan yang hijau pada karya seni publik. Agnes Denes menanam ladang gandum seluas dua hektar di pusat kota Manhattan, sedangkan Joseph Beuys menanam 7000 pohon beringin bersamaan dengan pemasangan blok batu vulkanik di Kassel, Jerman. Karya seni publik pada mellenium kedua saat ini sudah menjadi salah satu program green urban design di beberapa kota di dunia yang memanfaatkan ruang terbuka hijau.

“Kita bisa melihat kualitas sebuah pohon berdasarkan daunnya. Dari transformasi bentuk harmoni yang dieksplor dari bentuk jamur juga daun jati ini, saya berharap karya ini bisa menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya sebuah pohon di sekitar kita,” tutur I Ketut Putra Yasa di lokasi proyek, persimpangan Jalan Suvarna Sutera Boulevard dan Jalan Suvarna Sari Utama – Suvarna Sutera – Wana Kerta, Sindang Jaya, Tangerang – Banten, Jawa Barat.

Karya seni publik dari seniman muda asal Bali ini diwujudkan dengan menancapkan lima daun jati yang menengadah ke langit di puncaknya – dengan lebar bentuk daun jati antara satu hingga lima meter – ditopang oleh struktur berongga yang dibentuk oleh garis lurus dan lengkung. Lima struktur itu mengerucut ke tanah Nusantara seperti tumbuhan jamur.

Konstruksi garis lurus dan lengkung pada dinding-dinding struktur itu juga berfungsi untuk membuka ruang agar angin dapat melintas di antara struktur karya itu. Sebuah karya seni yang membebaskan alam untuk berinterkasi dengan material logamnya. Karya seni publik seberat tujuh ton yang dikonstruksi oleh material pelat galvanis dan besi virkan berdiri kokoh di persimpangan Jalan Suvarna Sutera Boulevard dan Jalan Suvarna Sari Utama, persis di depan St. Laurensia School – Suvarna Sutera. Karya seni publik tersebut digarap secara apik oleh I Ketut Putra Yasa di Richstone Studio Art & Design, Jalan Raya Kerobokan – Banjar Umalas Kangin, Kuta Utara, Badung – Denpasar, Bali, selama beberapa bulan.

Proses pemasangan karya I Ketut Putra Yasa di lokasi, Suvarna Sutera, Tangerang, berlangsung beberapa tahap tanggal 5 Januari 2020 mendatang.

Mengapa jumlah struktur yang menyangga daun jati dengan bentuk jamur itu hanya diproduksi lima buah? I Ketut Putra Yasa menguraikan bahwa lima struktur itu merupakan representasi dari lima unsur alam, yaitu, api, udara, tanah, air dan angin. Pohon (jati) adalah penyeimbang dari lima unsur tersebut. Angka lima juga simbol Pancasila di mana dasar negara kesatuan Republik Indonesia digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam kehiduapn berbangsa dan bernegara.

“Inti karyanya memuliakan pohon. Bentuk secara keseluruhaan mengambil bentuk jamur, filosofi jamur bertumbuh. Oleh sebab nama kawasan ini Suvarna Jati (jati mas), maka saya mengambil daun jati dan rantingnya saja untuk dijadikan konsep bentuk karyanya. Bentuk daun di puncaknya merupakan unsur yang vital dari pohon,” kata I Ketut Putra Yasa dalam upaya mengartikulasikan latar belakang gagasan artistiknya di lokasi proyek pemasangan karyanya.

Association for Public Art (aPA, sebelumnya menggunakan nama lembaga Fairmount Park Art Association) merupakan organisasi nirlaba pertama yang berdiri pada tahun 1872 di Philadelphia, Amerika Serikat, bertujuan untuk membuat sebuah “museum without walls” dengan menyatukan karya seni publik dan desain urban, merilis pengertian karya seni publik, yaitu, bahwa karya seni public bukan sebuah ‘bentuk’. Karya seni public bisa jadi sebuah proyek site-specific atau sebuah karya seni yang menjadi kontras di suatu lingkungan tertentu. Apa yang membedakan karya seni publik dengan yang lainnya adalah suatu asosiasi yang unik bagaimana karya itu diproduksi, di mana letak karya itu dan apa makna dari karya itu. Sebuah karya seni publik dapat mengekspresikan sebuah nilai dari suatu komunitas, sebuah pesona di suatu lingkungan tertentu, dapat mengubah suatu pemandangan, meningkatkan kesadaran kolektif atau mempertanyakan asumsi kita sendiri. Karya seni publik hadir sebagai ekspresi kolektif suatu komunitas atau masyarakat, refleksi dari cara pandang kita terhadap dunia. Dalam hal ini seniman merespon ruang dan waktu dalam konteks saat ini hingga mengepresikan identitas masyarakatnya.

I Ketut Putra Yasa dengan rujukan konsepsi green urban design pada karya seni public, lalu diartikulasikan pada konsep (Teak) Living in Harmony, selanjutnya diberi judul “Poetry Lines of Tectona Grandis Leaves”, melahirkan lima struktur tanda dan bermakna harmoni dari nilai-nilai keberagaman yang akan hadir diwakili oleh komunitas yang akan bermukim di Kawasan itu. Karya seni publik  di utara Cluster Suvarna Sari, Kawasan Suvarna Sutera, Tangerang, selanjutnya akan jadi penanda penting dalam kehidupan masyarakat. Menjadi ikon keselarasan dan kebersamaan yang kokoh laiknya pohon jati yang jadi inspirasi senimannya.

Letak karya seni publik yang disajikan oleh I Ketut Putra Yasa di persimpangan Jalan Suvarna Sutera Boulevard dan Jalan Suvarna Sari Utama, persis di depan St. Laurensia School – Suvarna Sutera, Tangerang..

Praktik produksi seni publik seperti yang dikerjakan oleh I Ketut Putra Yasa bisa menjadi inspirasi kepada pemilik ruang-ruang terbuka hijau atau ruang publik. Sebab seni publik bukan hiasan monumental tanpa maksud dan makna, seni publik yang diproduksi oleh seniman adalah ruh positif yang menjadi penjaga nilai atas peradaban yang dibangun di lingkungannya.

Seperti yang sudah diuraikan dari laman suvarnasutera.com, pemukiman terpadu yang menyajikan seni publik karya I Ketut Putra Yasa merupakan kota baru seluas 2.600 hektar di Tangerang yang menghadirkan konsep kawasan hunian terintegrasi dan telah dikembangkan sejak tahun 2012. Suvarna diambil dari Bahasa Sansekerta berarti EMAS, dianggap sebagai warna kejayaan dan melambangkan sebuah pencapaian besar dan nilai tinggi. Sutera merupakan bagian dari Alam Sutera Group, Sutera dianggap sebagai kemewahan dan elegan. Suvarna Sutera, adalah kawasan hunian dengan kemewahan alam dan nilai yang tinggi, dikembangkan oleh Alam Sutera Group pengembang ternama dan terpercaya sejak tahun 1994. Tentunya, kehadiran seni publik yang selaras dengan konsep green urban design dari I Ketut Putra Yasa dapat memberikan inspirasi positif bagi masyarakat di lingkungan tersebut.

Karya seni publik, sesuai uraian di atas sudah jadi keniscayaan untuk hadir jadi penanda penting dalam peradaban yang berkembang di dalam kehidupan komunitas masyarakat tertentu pada saat ini dan masa depan. Sebuah ruang publik tanpa karya seni, seperti hutan yang kerontang tanpa identitas. Yuk produksi karya seni publik di lingkungan komunitas anda, I Ketut Putra Yasa juga seniman lainnya yang ready to act for PUBLIC ART!***

Seniman, I Ketut Putra Yasa di antara para kontraktor di lokasi proyek pemasangan karya seni publik di dalam kawasan Suvarna Sutera, Tangerang, akhir Desember 2019.

About artspace indonesia

artspace.id adalah kumpulan informasi mengenai dunia seni kontemporer di Indonesia. silakan kirim informasi seni Anda kepada kami : redaksiartspace@gmail.com admin : FRINO BARIARCIANUR | ARGUS

View all posts by artspace indonesia →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *